Tino Costa, Pahlawan yang Sering Terlupakan

Foto: Vamosciclon

Unai Emery memiliki perjalanan panjang sebelum dipercaya jadi pengganti Arsene Wenger di Arsenal. Sebelum bergelimang piala, tiga kali jadi juara Liga Europa dan mendominasi sepakbola Prancis, Emery hanyalah pelatih biasa di Spanyol. Menangani kesebelasan tak ternama seperti Loca Deportiva dan Almeria.

Karier manajerial Emery bisa berakhir seperti saat ia masih menjadi pemain. Punya talenta, tapi tak pernah benar-benar mencuri perhatian karena masalah cedera. Akan tetapi semua berubah ketika Valencia CF datang menjemputnya.

Los Che saat ini sedang mengalami masalah finansial. Ronald Koeman yang ditunjuk untuk menangani tim ternyata tidak bisa berbuat banyak tanpa kucuran dana besar. Padahal dia punya catatan sebagai nakhoda Ajax Amsterdam, Benfica, dan PSV Eindhoven. Klub yang dikenal sebagai produsen talenta dibandingkan konsumen.

Unai Emery yang masih muda dan berhasil membawa Almeria ke La Liga akhirnya menjadi pilihan mereka. “Emery sebenarnya nyaman di sini. Namun apabila kesebelasan bersejarah seperti Valencia menginginkan jasanya, tentu akan kami relakan,” tutur Presiden Almeria Alfonso García.

Emery mulai memperlihatkan keterampilannya di sana. Salah satunya soal pemilihan pemain. Ia adalah sosok yang memperkenalkan Jordi Alba, Jeremy Mathieu, Dani Parejo, dan Sofiane Feghouli kepada publik Mestalla. Semuanya bisa dibilang menjadi ikon klub, mengikuti era David Silva, Villa, dan Joaquin di bawah asuhan Quique Sanchez Flores.

Namun ada satu tulang punggung Emery yang kerap dilupakan: Alberto ‘Tino’ Costa. Entah karena ia tidak pernah menarik perhatian kesebelasan top Eropa layaknya Alba, Mathieu, dan Parejo. Atau karena dirinya sempat berselisih dengan Emery, Tino sering hilang dari perbincangan. Tertutup oleh Roberto Soldado dan Fenghouli yang juga datang bersamaan dengan dirinya.

Datang dengan Beban Ekspektasi Tinggi

Foto: Dongquidi

Padahal Tino adalah sosok yang didatangkan dengan kredibelitas tinggi dari Montpellier. Bukan Montpellier yang memenangkan Ligue 1 bersama Olivier Giroud. Tapi dua musim sebelumnya, pertama kali mereka mengancam tatanan sepakbola Prancis dengan duduk di posisi lima klasemen akhir 2009/2010.

Tino adalah pemain andalan Montpellier saat itu. Terlibat dalam 14 gol La Paillade dengan tujuh ia cetak dengan namanya sendiri. Hanya Victor Montano yang lebih sering memberi kontribusi gol (16) dibandingkan Tino sepanjang musim.

“Tino adalah pesepakbola yang luar biasa. Ia cocok untuk kebutuhan Valencia saat ini. Kami sudah mengikuti perkembangannya dan berusaha keras agar kesepakatan ini terjadi,” kata Emery saat meresmikan Tino Costa ke dalam timnya.

Pujian Emery itu pun dibayar penuh oleh Tino. Membantu Los Che mencetak 10 gol dari 32 penampilan di musim pertamanya. Total, dirinya terlibat dalam 36 gol dari 115 penampilan bersama Valencia. Termasuk membobol gawang Real Madrid pada perempat-final Copa del Rey 2012/2013 dan jadi pahlawan kemenangan Los Che atas Athletic Club beberapa bulan sebelumnya.

Bertualang Bersama Dokter Bedah

Tapi sebelum membela Valencia dan bermain di Liga Champions, Tino hanyalah seorang anak biasa dengan mimpi menjadi pesepakbola. “Saat Anda hidup di Argentina, sepakbola adalah gairah hidup. Sudah seperti agama bahkan. Saya dan tiga saudara saya hanyalah anak biasa. Tidak lahir dari keluarga kaya,” buka Tino.

“Saya kemudian bermain sepakbola di klub bernama Las Flores. Beruntung klub itu dimiliki oleh seorang dokter bedah terkenal di Eropa, namanya Rubén Muñoz. Dia mengajak saya ke Eropa, tapi harus dengan restu orang tua”.

“Saya berusaha meyakinkan ibu dan ayah. Mereka awalnya ragu. Tapi mereka juga tahu bahwa ini adalah keinginan saya. Akhirnya saya berangkat ke Prancis bersama Munoz,” aku Tino. “Tapi bukan karena sudah ada klub yang menunggu di sana, saya hanya anak dengan bekal tiket dan sebuah tas,” lanjutnya.

Beberapa tahun menetap di Pulau Guadeloupe, Tino akhirnya mendapat kesempatan main secara profesional untuk Racing de Paris. Klub yang pernah menjuarai Ligue 1 di 1936 dan pernah dibela oleh David Ginola.

“Saya hanya bermain satu tahun di sana sebelum pindah ke Pau FC. Bersama Pau, talenta saya masuk ke dalam radar Montpellier. Itu mengubah cerita saya sebagai pesepakbola,” kata Tino Costa.

Mewujudkan Semua Mimpinya

Foto: AS

Montpellier memang mengubah hidup Tino. Mereka bukan hanya menjadi batu loncatannya untuk membela Valencia dan tampil di Liga Champions, tapi juga memberikan kepercayaan serta keluasaan. Bahkan setelah dirinya sudah tidak lagi tinggal di Stade de la Mosson, ia masih memiliki pengaruh di Montpellier.

“Tino membantu kami meyakinkan Lucas Barrios. Sekitar tiga tahun lalu, dirinya hampir menjadi milik Marseille. Tapi ia lebih memilih Spartak Moscow, di sana Barrios bertemu Tino. Tino menceritakan banyak hal tentang Montpellier kepada dirinya dan itu membuat kami mudah meyakinkan Barrios untuk datang,” kata Kepala Pelatih Montpellier Rolland Courbis.

Sisanya tinggal sejarah. Jam terbang Tino mungkin sempat menurun saat dirinya memiliki masalah dengan Emery. Tapi setelah Emery hengkang, Tino kembali menjadi pilihan utama. Tino bahkan bertahan satu tahun lebih lama dari Emery setelah sebelumnya disebut ingin hengkang dari Mestalla.

“Saya awalnya ragu. Valencia ingin saya menjadi pemain kunci tapi kondisi tidak mendukung. Lalu, Mauricio Pellegrino datang. Ia meyakinkan saya untuk bertahan. Pellegrino selalu terbuka, menjelaskan apa kekurangan saya secara langsung,” kata gelandang kelahiran 9 Januari 1985 tersebut.

Pada 2019, Tino Costa akan membela kesebelasan ternama Kolombia, Atletico Nacional. Untuk ukuran pesepakbola, usianya sudah tidak muda lagi. Namun ia telah mewujudkan semua mimpinya. Membela tim nasional Argentina, bermain di Liga Europa dan Champions. Bahkan kembali ke Argentina dan membela tim kesayangan ayahnya, San Lorenzo.

Semua itu terjadi hanya karena ia mengikuti dokter bedah dengan modal selembar tiket pesawat dan sebuah tas. “Dulu saya sebenarnya punya impian jadi dokter. Tapi berubah haluan. Sebagai pesepakbola, saya sudah merasakan semuanya,” aku Tino.