OUR NETWORK

Kisah Seven Nations Army Menjadi Pengiring Pertandingan Sepakbola Eropa

Lagu Seven Nation Army ciptaan The White Stripes memang terkenal sebagai lagu pembuka di seluruh turnamen sepakbola Eropa, lalu bagaimana bisa lagu yang pernah dikritik sebagai lagu paling sederhana oleh kritikus musik menjadi terkenal di sepakbola?

“I’m gonna fight ‘em all
A seven nation army couldn’t hold me back
They’re gonna rip it off
Taking their time right behind my back”

Mungkin beberapa dari Anda masih sangat asing dengan lirik lagu di atas. Lirik tersebut merupakan potongan dari lagu Seven Nation Army dari The White Stripes yang diluncurkan pada 2003.

Lagu yang diciptakan oleh Jack White ini merupakan lagu wajib di seluruh stadion sepakbola seantero Eropa, mulai dari ketika gol tercipta, pertandingan memasuki tengah babak maupun ketika pertandingan usai. Biasanya lagu Seven Nation Army diambil pada bagian nada pembuka atau intronya saja ketika gol tercipta dan tengah babak, lagu seutuhnya baru akan diputarkan ketika babak kedua usai.

Dalam perkembangannya, lagu ini kemudian tidak hanya menjadi lagu yang diputar di lapangan, tapi juga menjadi chants bagi beberapa klub Eropa, terutama di Spanyol, Italia, hingga Belgia dan Rusia.

Lalu bagaimana awal mulanya lagu ini menjadi lagu tema dari stadion-stadion di Eropa, toh dari segi lirik, tidak ada sangkut pautnya dengan sepakbola.

Po…po…po…

Semua bermula ketika lagu ini diluncurkan pada 2003. Secara musikalitas lagu ini cukup sederhana. Hentakan drum yang sederhana dan alunan gitar yang sedikit samar dengan bass sangat mudah diterima oleh telinga.

Nada yang mudah diterima itu akhinya dibawa oleh pendukung AC Milan pada pertandingan tandang menghadapi Club Brugge KV di ajang Liga Champions 2005, saat itu di sebuah bar, para pendukung AC Milan meneriakkan Po..po..po… dengan nada yang sama di intro Seven Nation Army.

Terilhami dari fans AC Milan, fans Club Brugee akhirnya melakukan chants tersebut setiap Brugee mencetak gol di Liga Belgia. Namun suporter Brugee belum mengetahui chants mereka merupakan lagu  dengan judul seven nation army, mereka menyebutnya dengan Poo…Pooo… Songs.

Poo…pooo… songs kemudian menjadi lagu wajib di seluruh pertandingan sepakbola di Belgia ketika salah satu tim mencetak gol. Lagu ini berkumandang di seluruh penjuru Belgia namun belum ada yang sadar mengenai lagu asli dari chants ini.

Hingga akhirnya klub AS Roma bertandang ke markas dari Brugee pada Februari 2006 di ajang Liga Champions, para ultras AS Roma terkesan dengan bunyi dan nada yang sederhana namun bisa menghentak stadion sebagai penyalur semangat. Akhirnya suporter AS Roma membawa chants ini ke Italia.

Namun popularitas lagu ini menjadi sebuah chants sepakbola adalah ketika Final Piala Dunia 2006 di mana Italia mengalahkan Prancis melalui tendangan adu penaltp. Para suporter Italia sepanjang babak kedua menyanyikan Poo…pooo… songs sebagai chants mereka. Suporter Italia menyanyikan lagu tersebut mulai dari setelah gol dari Zaccardo yang menyamakan kedudukan hingga Italia mengangkat trofi.

Lagu Seven Nation Army atau Poo…pooo… songs kemudian menjadi lagu tidak wajib bagi suporter timnas Italia untuk mendukung kesebelasan mereka di ajang kualifikasi Piala Eropa 2008. Bahkan di Piala Eropa 2008, Seven Nation Army pernah menjadi lagu pengiring ketika timnas Italia bertanding menghadapi Belanda di pertandingan pertama di grup C di mana Italia keok 3-0 dari Belanda.

Bukan hanya di Eropa, Seven Nations Army juga berkembang sebagai chants di Amerika Serikat di berbagai cabang olahraga seperti sepakbola, American Football hingga basket. Lagu Seven Nations Army bersanding dengan Enter Sandman milik Metallica yang dikumandangkan sebelum pertandingan dimulai.

Redup di 2010 dan 2014, makin terkenal di 2018

Meskipun dikumandangkan di beberapa stadion Italia dan Spanyol, Seven Nations Army sempat redup di gelaran Piala Dunia 2010 dan 2014. Alasannya karena Lagu Piala Dunia yang dipilih FIFA juga memiliki beat yang mudah dibawakan. Khusus pada 2010, penonton lebih suka meniup vuvuzela dibanding menyanyikan chants.

Pada 2016, Lagu Seven Nation Army yang sudah meluas sebagai lagu pengiring ketika tim masuk atau mencetak gol di beberapa negara seperti Spanyol, Italia, Belgia, Rusia, hingga Polandia. Paling jelas adalah ketika Atletico Madrid bertanding di kandang mereka, di mana lagu tersebut selalu berkumandang tiap Atleti mencetak gol atau jeda pertengahan babak.

Akhirnya pada Piala Eropa 2016, nyaris semua pertandingan dimulai dengan lagu Seven Nation Army sebagai lagu pembuka, ketika gol tercipta maupun ketika jeda babak dan akhir pertandingan, lagu ini menjadi semacam lagu tidak resmi turnamen.

Puncaknya pada Piala Dunia 2018 dimana semua pertandingan dimulai dengan Seven Nation Army sebagai lagu pembuka, dan suporter pun turut larut dalam alunan folk dari intro lagu tersebut. Lagu ini kemudian secara masif menjadi lagu pembuka di pertandingan-pertandingan sepakbola Eropa, termasuk Liga Champions dan Liga Eropa. Namun bedanya di dua turnamen itu lagu Seven Nation Army hanya berkumandang ketika gol tercipta atau jeda babak pertama.

Di Piala Dunia 2018 hampir semua lagu pembuka pertandingan adalah Seven Nation Army. Kenapa hampir? Ada satu negara dengan lagu yang berbeda ketika negara tersebut masuk untuk bertanding di Piala Dunia dan sempat menjadi bahan lelucon di beberapa media sosial. Negara dengan lagu berbeda tersebut adalah Inggris. Entah sengaja atau memang permintaan timnas Inggris, lagu ketika Inggris bermain adalah “Football Comings Home” yang dinyanyikan oleh Lightning Seeds pada 1996.

Loading...