Debut Patrice Evra di Manchester United jelas bukan sesuatu yang ingin diingat. Ia mendapatkan kepercayaan besar ketika melakoni Derby Manchester. Sialnya, ia bikin sisi kiri pertahanan United jadi seolah tak berguna.

Di hari itu, Evra berkeinginan kembali ke Monaco. Agennya juga sudah meminta maaf padanya karena salah langkah membawanya ke United. Akan tetapi, Evra tak menyerah. Ia bekerja keras dan menjadi salah satu bek kiri terbaik yang pernah dimiliki Manchester United.

Selama delapan setengah tahun di Old Trafford, Evra mendapatkan status sebagai legenda. Seperti dikutip dari Planet Football, setidaknya ada tujuh alasan mengapa ia dicintai para penggemar The Red Devils.

From Korea With Love Concert

Gol Debut Fantastis di Liga Champions

Pertandingan debut Evra untuk MU memang berakhir buruk. Namun tidak untuk debut golnya di Liga Champions.

Saat itu, United tengah melaju hingga perempatfinal Liga Champions musim 2006/2007. Lawan yang mereka hadapi juga tidak main-main, yakni AS Roma.

Akan tetapi, United tampil superior dan Roma berhasil dihancurkan. Kala itu, United sudah unggul 6-1 lewat gol Alan Smith, Wayne Rooney, dan dua gol dari Michael Carrick serta Cristiano Ronaldo.

Roma sempat membalas lewat Danielle De Rossi pada menit ke-69. Namun, 12 menit kemudian, Evra menutup laga itu menjadi 7-1 lewat sepakan mendatarnya yang tak bisa ditangkap kiper Roma, Doni.

Meraih Dua Trofi Utama di 2007/2008

Evra baru menjadi pemain reguler pada musim 2007/2008. Di musim itu, ia main di 33 laga Premier League dan 10 laga Liga Champions. Ia pun menjadi pemain kunci saat United mencatatkan kesuksesan di musim 2007/2008 tersebut.

Evra dikenal fulbek yang sering membantu penyerangan. Ia punya fisik yang prima, ditambah umpan silangnya yang juga akurat.

Di musim tersebut, Evra meraih trofi Premier League juga Liga Champions. Uniknya, di kedua kompetisi tersebut, United sama-sama mengalahkan Chelsea yang juga punya bek kiri bagus: Ashley Cole.

Hubungan Dekat dengan Park Ji-sung

Sahabat dekat Evra di United adalah Park Ji-sung. Ini adalah hubungan yang unik mengingat keduanya tak punya kesamaan dalam latar belakang ataupun keturunan.

Evra berkebangsaan Prancis sementara Ji-sung Korea Selatan. Bahasa yang mereka gunakan juga tentu berbeda. Akan tetapi, mereka bagaikan sahabat yang tak bisa dipisahkan.

Evra pernah memuji Ji-sung dengan menyebutnya sebagai contoh bagi semua pemain.

“Dia berlari untuk semua orang. Terkadang kalau aku lelah, aku tahu aku akan baik-baik saja karena Ji-sung akan berlari untukku. Aku pikir dia adalah salah satu pemain paling penting di tim karena dia tak berhenti berlari, dia bisa berlari sepanjang hari,” kata Evra.

Gairah Evra untuk United

Penggemar Manchester United sering mengeluh kalau para pemainnya tak peduli pada klub mereka sendiri. Sebut saja, Paul Pogba. Mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri, pada uang, dan ketenaran. Namun, Evra adalah pengecualian.

Evra adalah tipikal pemain yang memahami apa artinya bermain buat klub. Evra selalu memberikan segalanya ketika dia main buat The Red Devils.

“Aku punya banyak DVD. Tentang Kecelakaan Munich dan era Busby Babes, tentang Bobby Charlton, George Best, dan Denis Law, tentang Cantona. Keseluruhan cerita tentang klub ini,” terang Evra.

Evra bilang kalau semua pemain muda di sini harus mengerti sejarah klub. Setelah ia menyaksikal seluruh DVD tersebut, ia sadar kalau dia harus menghormati jersey yang ia kenakan.

“Aku harus menghormati kisahnya. Setiap saat aku bermain, itu yang ada di kepalaku. Adalah sebuah keistimewaan untuk bermain demi Manchester United. Saat Anda memakai jersey, Anda tengah membikin sejarah, dan aku berterima kasih pada Tuhan bahwa aku bisa bermain buat klub ini.”

Insiden Luis Suarez

Luis Suarez dinyatakan bersalah ketika menyerang Evra secara rasial pada 2011. Hukumannya adalah larangan delapan pertandingan. Uniknya, kembalinya Suarez dari hukuman adalah laga yang digelar di Old Trafford.

Sebelum laga, saat para pemain berbaris, Evra menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Akan tetapi, Suarez menolak. Hal ini menimbulkan insiden yang mana Rio Ferdinand juga menolak bersalaman dengan Evra.

Laga pun berlangsung panas. Di akhir pertandingan, United keluar sebagai pemenang dengan skor 2-1. Evra pun menikmati kemenangan tersebut ketimbang yang lainnya. Ia berlari sambil melompat-lompat ke depan suporter United, dan tentu saja di depan wajah Suarez.

Evra dikejar wasit yang berusaha mencegahnya melakukan hal semacam itu. Para pemain Liverpool pun terpancing dengan ikut mengejar Evra. Jonny Evans dan Danny Welbeck datang menghadang para pemain Liverpool yang kepanasan.

Setahun kemudian, dalam perayaan kemenangan, Evra mengambil boneka berbentuk tangan, kemudian pura-pura menggigitnya. Evra melakukan ini setelah insiden Suarez menggigit bek Chelsea, Branislav Ivanovic.

Gol Indah atas Bayern Munchen

Era David Moyes merupakan salah satu yang terburuk. United tak bisa mempertahankan status sebagai juara bertahan, dan justru terpuruk ke peringkat ketujuh.

Meski demikian, United masih berlaga di Liga Champions di musim tersebut. United menghadapi Bayern Munchen di perempatfinal. Pada leg pertama, United berhasil menahan imbang 1-1 lewat gol Nemanja Vidic. Namun, saat tandang ke Allianz Arena, United kalah 1-3.

Satu-satunya gol United dicetak dengan indah oleh Evra. Umpan silang Antonio Valencia melebar ke depan kotak penalti. Tanpa pikir panjang, Evra langsung menghajar bola tersebut sekeras mungkin ke pojok kiri atas gawang Manuel Neuer.

Evra bersorak gembira dan merayakan golnya tersebut dengan mencium lambang United ada jersey yang ia kenakan.

Dilaporkan PSG

Evra pergi dari United pada 2014. Meski demikian, Evra terus memupuk rasa cintanya buat United dengan sering menghadiri pertandingan yang dilakoni MU.

Salah satunya laga leg kedua Liga Champions menghadapi Paris Saint-Germain pada 2018/2019. United saat itu berhasil menangĀ comeback lewat gol penalti Marcus Rashford di penghujung laga.

Kegembiraan Evra pun pecah. Ia merayakan hasil tersebut dikelilingi suporter PSG yang marah. Evra kemudian mengklaim kalau PSG komplain pada UEFA soal perayaan kemenangannya tersebut.

Sumber: Planetfootball