OUR NETWORK

Lika-liku Rumput Palsu

Penggunaan rumput sintetis kini sedang dalam bahasan serius, beberapa menyetujui penggunaan rumput palsu ini, namun banyak yang lebih memilih rumput asli untuk bermain sepakbola.

Sepakbola dalam sejarahnya adalah olahraga di luar ruangan dengan lokasi umumnya adalah di lapangan berumput. Namun, karena setiap lokasi berbeda karakteristik tanah, cuaca, dan suhunya, banyak penyesuaian yang dilakukan.

Mereka yang memiliki lahan tandus dan bersuhu dingin yang ekstrem, tentu kesulitan menanam rumput yang baik untuk sepakbola. Beberapa akhirnya menemukan varietas rumput tertentu yang menyesuaikan lingkungan mereka, lainnya, menggunakan rumput sintetis, selama ini lebih banyak yang menggunakan rumput sintetis di stadion-stadion dengan suhu ekstrem.

Penggunaan rumput sintetis bermula ketika stadion milik tim American Football, Houston Astros, menggunakannya sebagai rumput stadion mereka pada 1960. Kemudian hampir 80% klub American Football menggunakan rumput sintetis. Alasannya karena perawatan yang jauh lebih mudah dan tidak perlu melakukan penyemaian seperti rumput biasa.

Sepakbola sendiri baru mengakomodasi rumput sintetis 20 tahun kemudian. Klub Inggris, Queens Park Rangers-lah yang pertama kali menggunakannya. Hal ini diikuti Luton Town dan Oldham Athletic, sampai FA Kemudian melarang penggunaan rumput sintetis pada 1988.

Setelahnya, mulai menjamur penggunaan rumput sintetis di berbagai belahan negara. Rusia dan Swedia menjadi pionir. Kemudian diikuti Kanada dan Negara Eropa Utara lainnya.

Yang paling terkenal adalah Luzhniki Stadium yang menggunakan rumput sintetis dalam partai kualifikasi Piala Eropa, antara Rusia menghadapi Inggris, 2008 lalu.  Sejauh ini tercatat ada 25 stadion utama klub profesional yang menggunakan rumput sintetis. Sementara itu, penggunaan rumput sintetis biasanya digunakan untuk lapangan latihan, seperti lapangan latihan milik Real Madrid, atau lapangan latihan indoor milik Manchester United.

Penggunaan rumput sintetis ini bukan berarti tanpa kekurangan. FA sendiri melarang penggunaan rumput sintetis karena meningkatnya peluang pemain untuk cedera. Permukaan rumput sintetis tidak sekeras rumput biasa. Ini bisa mengakibatkan pijakan kaki pemain menjadi terganggu dan licin sehingga berbahaya bagi ankle pemain.

Musim ini MLS, sebagai penyelenggara liga di Amerika Serikat mendapatkan tamparan keras dari LA Galaxy. Mereka dengan tegas menyatakan tidak akan menurunkan Zlatan Ibrahimovic menghadapi kesebelasan yang menggunakan rumput sintetis. LA Galaxy khawatir cedera Zlatan bisa kembali kambuh di rumput sintetis.

Sejatinya langkah yang sama juga dilakukan beberapa veteran yang bermain di MLS sebelumnya. Thiery Henry misalnya secara khusus memiliki perjanjian tidak tertulis dengan klubnya, New York Red Bull, untuk tidak menurunkannya ketika klub yang dihadapi bermain menggunakan rumput sintetis. Satu-satunya pertandingan dimana Henry bermain di rumput sintetis adalah play-off menghadapi New England Revoluiton. Didier Drogba dan David Beckham pun mengkritik penggunaan rumput sintetis.

“Setiap pertandingan seharusnya dilakukan di rumput asli, dan itu wajib,” ujar Beckham dikutip The Guardian.

“Di MLS, Anda harus terbiasa. Bermain di rumput asli dan bermain di rumput sintetis, melakukan perjalanan sejauh 5000 mil, bermain di rumput sintetis membuat otot Anda bekerja lebih berat, sekaligus lebih melelahkan. Masa recovery juga cukup sebentar karena ini playoff, tapi kami tidak menjadikan itu sebagai alasan,” ungkap pelatih Houston Dynamo, Wilmer Cabrera.

Sementara itu, di Inggris, EFL, operator Liga Inggris dari divisi 2 hingga 4, sedang membicarakan secara serius penggunaan rumput sintetis. Mereka yang berkompetisi di divisi 2 hingga divisi 4 biasanya berbagi lapangan untuk tim akademi maupun tim perempuan.

Maidstone United yang mempelopori kembalinya rumput sintetis di Stadion Gallagher Stadium. Mereka bekerja sama dengan 3G Turf, perusahaan teknologi rumput sintetis. Teknologi ini sudah digunakan di berbagai lapangan di Inggris.

Menurut Co-owner Maidstone United, Oliver Ash, menjelaskan bagaimana mereka kelewat lelah untuk mengurus lapangan yang digunakan oleh banyak tim. “Kami hanya memiliki satu stadion untuk tim utama hingga akademi. Semua bermain di lapangan yang sama. Kami kesulitan menjaga kualitas rumput, apalagi ketika musim gugur dan dingin,” ungkap Ash dikutip Independent.

FA sendiri mulai menyesuaikan bagi para klub yang menggunakan rumput sintetis. Sejak 2014 lalu, FA memperbolehkan klub bertanding di lapangan dengan rumput sintetis di ajang Piala FA.

Penanaman rumput palsu lewat Desso GrassMaster.

Penggunaan rumput sintetis sejatinya bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada. Salah satunya lewat Desso GrassMaster yang menggabungkan rumput asli dan rumput sintetis. Saat penyemaian rumput asli, juga ditanam rumput sintetis di sebelah bibitnya. Hasilnya adalah rumput yang solid dengan perawatan yang relatif mudah.

Sejumlah stadion besar menggunakan metode ini seperti Anfield, Emirates Stadium, Wembley, White Hart Lane, hingga Santiago Bernabeu. Selain mudah dalam perawatan, drainase stadion juga menjadi lebih baik karena sifat rumput sintetis yang cepat mengarahkan air ke sistem pengeringan stadion.

Oliver Ash meyakini era penggunaan rumput sintetis akan kembali dalam beberapa tahun ke depan. Menurutnya selain mudah, penggunaannya juga bisa dalam jangka waktu lebih lama, sehingga mengurangi biaya perawatan.

Lalu setujukah Anda apabila nanti di Indonesia ada satu stadion yang menggunakan rumput sintetis?

Loading...