OUR NETWORK

Aston Villa, Birmingham City, dan “Kutukan” Uang Tiongkok

Laga Second City Derby berjalan panas. Insiden pemukulan pemain Aston Villa, Jack Grealish, pada awal laga tersebut membuat sorotan terhadap salah satu derby klasik ini kembali naik ke permukaan. Namun di balik semua keseruan tersebut, hanya segelintir orang yang menyadari kalau kedua tim ini memiliki kesamaan baru. Selain berasal dari kota Birmingham keduanya juga dimiliki investor asal Tiongkok.

Baca juga: Second City Derby: Persembahan dari Kota Terpenting Kedua di Inggris

Program Tiongkok untuk terlibat lebih jauh dalam dunia sepakbola membuat para miliuner mereka berlomba-lomba menanamkan uangnya di berbagai negara dan Inggris adalah surga bagi para orang kaya ini. Selain memilii rataan penonton yang banyak jumlahnya, sepakbola Inggris juga menawarkan prospek yang baik di kemudian hari. Tak mengherankan jika dua klub kebanggaan Birmingham menjadi “gula” bagi investor dari timur jauh.

Sepak Terjang Pemilik Tiongkok di Birmingham

Siapa tak kenal Aston Villa. Reputasi mentereng mereka pada awal era 80-an membuat mereka merajai eropa dengan menggondol Piala Champions (kini UCL). 7 gelar divisi teratas Inggris First Division terpajang di lemari piala mereka di Villa Park.

Terperosoknya klub mantan juara Eropa ini ke divisi Championship pada akhir musim 2015/2016 ini cukup mengejutkan publik. Pada saat bersamaan, seorang miliuner Tiongkok bernama Dr. Tony Xia mengumumkan akuisisi saham klub dari Randy Lerner, triliuner Amerika Serikat yang sudah satu dekade memiliki klub dengan warna kebanggan merah anggur tersebut

Lain dengan rival bebuyutan mereka, Birmingham City. The Blues memiliki cerita panjang menyangkut kursi kepemilikan klub. Usai dilepas sahamnya oleh David Gold  –kini pemilik West Ham United- pada 2007 silam, Birmingham City resmi dimiliki oleh miliuner asal Hongkong, Carson Yeung.

Singkat cerita, pemilik baru mereka gagal mendatangkan perubahan ke arah yang lebih baik, kemudian tersangkut kasus pencucian uang dan meninggalkan banyak utang bagi klub. Setelah memakan waktu panjang, akhirnya pada Juni 2015 pebisnis asal Tiongkok lewat perusahaannya, Trillion Trophy Asia, yang bermarkas di Kepulauan Virgin, mengakuisisi Birmingham.

Meski kedua klub memiliki pemilik asal Tiongkok, ada perbedaan mencolok antara keduanya. Aston Villa memiliki pemilik yang ambisius terhadap klub. Pada awal kepemilikannya, Tony Xia dengan semangat membara ingin mengubah Villa melampaui sejarah klub.

“Ambisi saya adalah membawa Aston Villa menjadi klub 6 besar (di Inggris) kurang dari 5 tahun dan saya harap akan menjadi (salah satu) tiga besar di dunia,” ujar pria bernama asli Xia Jiantong pada interview klub.

Tak mengherankan, terobosan yang dilakukan oleh Xia terbilang mewah untuk kelas divisi Championship. Musim perdana Xia di kursi chairman, manajer pemenang Liga Champions 2012, Roberto Di Matteo didapuk pada kursi kepelatihan. Pemain-pemain kelas top di Championship juga turut dihadirkan.

Ross McCormack, pemegang 2 kali top scorer divisi Championship direkrut dari Fulham dengan mahar 12 juta paun. Turut juga nama-nama seperti Jonathan Kodjia dari Bristol City dan Scott Hogan dari Brentford. Di lini tengah, gelandang timnas Islandia, Birkir Bjarnason direkrut dari FC Basel. Tak luput juga nama-nama berpengalaman di Championship seperti Mile Jedinak, Conor Hourihane, dan Henri Lansbury. Total ada 15 pemain anyar yang direkrut pada musim transfer 2016/2017 dengan total nilai 77 juta paun.

Di musim yang bersamaan, Birmingham City seolah tak merasakan dampak dari kempemilikan barunya. Winger Kerim Frei direkrut dari Besiktas dengan nilai 2,5 juta euro. Striker muda potensial Che Adams diboyong dari Sheffield United senilai 1,7 juta paun. Striker Burnley, Lukas Jutkiewicz dibeli 1 juta paun dari Burnley. Sisanya adalah nama-nama yang direkrut dengan murah atau gratis, yakni Ryan Shotton, Robert Tesche, Greg Stewart, Cheick Keita, serta Dan Scarr.

Uang Tiongkok Bukan Jalan Terbaik di Birmingham

Menariknya, dua pendekatan berbeda tak membuat salah satunya bisa melenggang dengan mulus untuk kembali ke divisi teratas, tempat mereka “seharusnya” berlaga. Aston Villa dengan anggaran belanja yang termasuk royal untuk divisi Championship pada musim perdananya hanya mampu bertengger di posisi ke-13. Musim kedua mereka yang cenderung berhemat, Villans mampu melaju ke babak final play-off meski harus kalah oleh Fulham. Musim ini, Aston Villa masih berpeluang untuk promosi lewat babak play-off dengan menyisakan 4 laga sisa.

Tiga musim dimiliki oleh Tony Xia, Aston Villa secara total menghabiskan sebanyak 96,72 juta paun. Nilai tersebut tentunya belum termasuk pengeluaran mereka untuk klausul peminjaman atau pembelian pemain. Sebuah nilai yang tentunya cukup mengganggu stabilitas neraca keuangan mereka.

Begitu pula dengan Birmingham City. Turbulensi yang terjadi didalam kepemilikan yang berdampak pada bergantinya 4 kali kursi kepelatihan membuat raihan mereka lebih miris. Sejak musim 2016/2017, Birmingham betah berada si posisi ke-19 klasemen akhir secara beruntun. Di musim ini, Birmingham berada di posisi ke-18 klasemen Championship dan masih berpeluang mencatatkan hat-trick raihan yang sama.

Hal yang berbeda ditunjukkkan Birmingham City. Semenjak Trillion Trophy Asia mengakuisisi klub pada Oktober 2016, mereka hanya mengeluarkan sebanyak 23 juta paun di bursa transfer. Setiap musimnya mereka lebih banyak mengandalkan bursa free transfer juga peminjaman pemain. Berkebalikan dengan kiprah Xia di Villa, Trillion Trophy seperti enggan membawa Birmingham City untuk berbuat lebih jauh. Lebih parah lagi, Blues kini terancam pailit dan mendapatkan sanksi pengurangan poin dari operator liga, Football League.

Bisa jadi, kehadiran miliuner Tiongkok ini bukanlah jalan keluar terbaik bagi klub-klub kebanggaan kota Birmingham ini. Dalam sepakbola, uang memang salah satu faktor penting, namun bukan segalanya. Diperlukan visi dan perencanaan jangka panjang untuk memulai sebuah kesuksesan. Banyak contoh bagaimana “uang Timur Tengah” tak mampu membawa kesuksesan seperti yang terjadi kepada Malaga di La Liga. Hal yang sama ditunjukkan “uang Tiongkok” bagi AC Milan di era Li Yonghong serta Slavia Praha di Liga 1 Ceko.

Jangan sampai, Aston Villa dan Birmingham City menjadi contoh nyata bahwa “uang Tiongkok” tidak mampu membawa kesuksesan di sepakbola Eropa, kecuali meniru apa yang dilakukan oleh Wolverhampton Wanderers.