OUR NETWORK

Bury FC, Kegagalan FA, Brexit, dan Kapitalisme

Ditengah hiruk pikuk drawing Liga Champions, bursa transfer dan kompetisi Premier League yang semakin ketat. Salah satu klub tertua di Inggris, Bury FC, kehilangan identitasnya sebagai klub professional, hanya karena 2 Juta Paun.

Manchester United dan Manchester City, sangat boros di bursa transfer dalam lima musim terakhir. Bahkan musim ini saja, Manchester City menghabiskan total 151 juta Paun, sang tetangga Manchester United menghabiskan 159 Juta Paun. Manchester United bahkan meresmikan kedatangan pemain belakang termahal, Harry Maguire, dengan 85 Juta Paun. Keuangan yang kuat akan menghasilkan tim yang kuat juga, itulah aturan Premier League atau sepakbola secara keseluruhan.

Di tengah ingar-bingar transfer dan kualifikasi Liga Champions, tragedi muncul dengan Bolton Wanderers mengalami kesulitan keungan, dan akhirnya pekan ini menyelesaikan masalahnya dengan mendatangkan pemilik baru. Namun tragedi terbesar hadir dengan bangkrutnya salah satu klub tertua di Inggris: Bury FC.

Saga permasalahan Bury FC sudah terjadi sejak beberapa musim terakhir. Harapan hadir ketika Steve Dale, membeli Bury FC dengan harga satu paun. Tugas Dale adalah menjamin stabilitas finansial bagi Bury FC yang berlaga di League One atau divisi tiga di Inggris.

Bury FC saat itu memiliki utang sebesar sembilan juta Paun. FA meminta setidaknya 20 persen utang Bury dibayarkan untuk membuat mereka bisa berkompetisi di League Two. Dale menyanggupi. Namun beberapa pihak merasa keberatan, terutama pihak supporter.

Latar belakang akuisisi Dale sempat ditentang sejumlah pihak. Dikutip dari The Sun pada September lalu, Dale kehilangan 43 dari 51 perusahaan yang dimilikinya saat mengakuisisi Bury FC. Suporter sempat menentang Dale. Namun apa daya tidak ada satupun pihak yang berani untuk membeli Bury FC hingga batas waktu yang ditentukan. Dale resmi menjadi pemilik dari Bury FC dengan akuisisi sebesar 1 Paun.

Dale datang ke Bury dan melunasi hutang Bury sebesar 1,5 juta Paun, angka yang besar bagi klub sebesar Bury. Masalah juga hadir dari FA, selaku operator Championship Division hingga National League, FA mengakui, akuisisi yang dilakukan Dale kepada Bury, tidak memenuhi standar akuisisi yang diterapkan FA. Masalah muncul bagi Bury tidak sampai setahun usai akuisisi.

Dale tidak memiliki kekuatan finansial yang stabil, bahkan ia menjual satu perusahaannya untuk menutupi utang yang melilitnya. Bury pun dijual, namun sekali lagi tidak ada pihak yang berminat. Padahal Bury ada di Kawasan Greater Manchester yang memiliki daya tarik bagi investor.

Gara-Gara Brexit

Dewan kota sempat diminta oleh pihak suporter untuk membantu akuisisi. Mereka berharap agar dewan kota menjadi pemilik sementara sambal menunggu investor, atau setidaknya hingga akhir musim ini. Dewan Kota menyanggupi. Namun mereka juga memiliki masalah finansial, alasan lainnya: Brexit.

Sejak Brexit dikumandangkan oleh David Cameron pada 2010, ia juga memotong anggaran bagi dewan kota sebesar 85 juta Paun, atau 61 persen dari anggaran. Akibatnya terasa. Beberapa bangunan konservasi dijual kepada publik karena kota tidak lagi mampu merawat atau memelihara bangunan tersebut. Mereka berharap penjualan aset properti bisa menghemat pengeluaran.

Pun bagi Bury FC. Mereka bukanlah klub besar. Rataan penonton yang hadir hanya berkisar di angka ratusan. Bury FC sangat bergantung kepada kehadiran warga lokal. Pemasukan mereka juga bersumber dari kehadiran penonton. Sayangnya, warga lokal lebih suka menonton Manchester United atau Manchester City yang bisa ditempuh dalam satu pemberhentian Commuter.

Bury FC diberikan tenggat dari FA untuk memberikan data keuangan yang membuktikan bahwa mereka mampu untuk berkompetisi di League Two. Tenggat waktu yang diberikan FA adalah 27 Agustus 2019 pukul 17.00, atau tengah malam waktu Indonesia Bagian Barat.

Dale berupaya menjual timnya sebesar 810.000 Paun, untuk mengembalikan nilai investasinya. Namun tidak ada investor yang berani. Dale mereduksi dengan meminta 579.000 Paun dan tetap tidak ada yang berani untuk melakukan akuisisi.

Beberapa jam sebelum deadline, terdapat kabar bahwa C&N Sporting Risk, sebuah korporasi investasi olahraga berniat mengakuisisi Bury FC. Namun gagal terjadi kesepakatan dan yang terjadi adalah yang terburuk: Bury dipastikan gagal memenuhi permintaan FA, dipastikan dicoret dari keikutsertaan League Two dan Izin sebagai klub profesionalnya resmi dicabut.

Bury FC adalah klub yang berdiri 134 tahun yang lalu, sebuah duka bagi sepakbola Inggris, sekaligus membuktikan bahwa kapitalisme sudah mandarah daging di sepakbola. Jauh dari identitas sepakbola sebagai olahraga kaum proletar seperti tujuan awal.

Tentu sangat ironis, bahwa hanya d Juta Paun-lah sebuah klub seperti Bury kehilangan identitasnya sebagai klub profesional. Sebagai perbandingan Paul Pogba mendapatkan 290.000 Paun per pekan, sedangkan ongkos operasional Bury selama satu musim hanyalah 300.000 Paun.

Semakin sulit bagi pengusaha lokal Inggris bisa memiliki klub Premier League atau membawa timnya masuk ke divisi tertinggi di Inggris tersebut. Kesebelasan terakhir yang mampu merengkuh gelar juara bergengsi di Inggris adalah Wigan Athletic pada 2012-2013, mereka meraih gelar Piala FA, Wigan dimiliki oleh Dave Whelan, warga lokal Wigan yang sudah turun temurun memiliki klub, namun pada akhir musim Wigan terdergadasi usai 8 musim berkompetisi di Premier League.

Bagi Manchester United, berkompetisi di Europa League adalah sebuah kegagalan, mengingat target mereka adalah Liga Champions. Bagi Manchester City, gagal menjadi juara Liga Champions adalah permasalahan bagi The Citizens. Sedangkan bagi Bury FC, mereka kehilangan identitas sebagai klub profesional hanya karena 2 Juta Paun.

Loading...