FLA, Organisasi Rasis yang Menyaru Menjadi Suporter Bola

Foto: Seatletimes.com

Malang betul nasib Mark Phillips. Awalnya, pelatih West Ham United U-18 ini hanya mengikuti gerakan kelompok Football Lads Alliance (FLA) yang melakukan aksi di London pekan lalu. Namun, semuanya berubah setelah aksi tersebut berbuntut ricuh setelah bergesekan dengan kelompok anti-fasis.

Setelah kericuhan tersebut, Phillips sempat mencuit dan memberikan pembelaan untuk FLA. Ia menulis seri twit yang isinya kira-kira begini,

“Partisipasi yang baik seperti biasa dari penggemar West Ham hari ini di W1. Selalu yang terbesar. Adil karena fans Millwall juga menunjukkan betapa bagusnya London Selatan.”

“Polisi membuat sebuah kesalahan dengan mengarahkan penggemar sepakbola yang bergerak ke grup Antifa yang agresif dan bukan jalan memutar. Tanya polisi yang bertugas soal kenyataannya.”

“Siapa bilang mereka adalah sayap kanan? Tidak benar. Penggemar sepakbola, ya. Sayap kanan. (Itu) Berita bohong.”

“Saya mengakui kalau ada banyak mantan hoolingans sepakbola di sana. Namun, perilaku mereka tidak agresif sampai disergap oleh orang-orang yang bersikeras ingin membuat masalah.”

“Para penggemar sepakbola ini tetap pada rute yang disetujui dan Antifa memilih untuk menghadapi pawai. Wajah mereka tertutup. Kami tidak. Tanyakan pada diri sendiri dengan jujur siapa yang menghasut masalah?”

Sejumlah cuitan Phillips tak lagi ditemukan karena ia menghapusnya. Ini tak lepas dari tekanan kesebelasan Premier League yang lain pada West Ham. Sejatinya, mengikuti gerakan dan aksi bukanlah tindak kriminal. Namun, mereka enggan Premier League memiliki kesebelasan atau pelatih yang terlibat dengan organisasi sayap kanan.

Siapa sebenarnya FLA dan apa hubungannya dengan sepakbola?

Anti Ekstrimis yang Rasis

Aksi pertama FLA yang menarik perhatian terjadi pada 24 Juni 2017. Kala itu, mereka melakukan pawai dalam kegiatan bertajuk “United Against Extremism”. Dikutip dari Stand up to Racism, Aksi ini diikuti ribuan suporter sepakbola dengan berkumpul di London Bridge. Awalnya, aksi ini merupakan respons atas teror yang terjadi di Manchester dan London.

Panitia pawai, John Meighan, menyatakan kalau pawai FLA tidak pertujuan untuk melawan agama apapun, hanya untuk melawan ekstremisme. Akan tetapi, justru sedikit yang menyebut aksi teroris di Mesjid Finsbury Park, yang jaraknya cuma sepelemparan batu dari Emirates Stadium. Pun dengan kematian Jo Cox yang meninggal di tangan ekstremis sayap kanan.

FLA amat mudah untuk diidentifikasi serupa dengan English Defense League yang merupakan organisasi sayap kanan. Aksi pertama mereka itu mendapatkan dukungan yang ditampilkan di website EDL. Selain itu, mantan pemimpin EDL, Tommy Robinson, pun pernah bergabung dalam gerakan FLA.

Tahun lalu, BBC mengungkapkan The Royal British Legion, mengembalikan donasi 1.104 paun kepada FLA. The Royal British Legion menyatakan kalau FLA mendapatkan uang untuk donasi lewat penggunaan (bunga) poppy yang tidak pantas. Selain itu, sejumlah suporter FLA menyatakan opini mereka yang tak sesuai dengan nilai yang dianut The Royal British Legion.

FLA mengagendakan untuk membuat aksi kedua pada Oktober 2017. Sialnya, meski menyerukan anti-ekstremis, justru mereka yang berperilaku barbar dan tak menaruh hormat. Kala itu, mereka bertemu dengan sekelompok kecil golongan yang menolak mereka. FLA pun ramai berseru: “Bajingan, bajingan, bajingan!” Dikutip dari Independent, kaleng bir dan uang koin pun berhamburan dan polisi harus menahan para pendemo.

Weyman Bennet dari Stand up to Racism mengatakan, “Kami percaya ada bahaya besar dari acara yang bisa membuka pintu pada kelompok sayap kanan, yang ingin mempromosikan rasisme dan Islamophobia.”

Hal ini dikuatkan oleh seorang peserta aksi yang bicara blak-blakan. “Muslim bukanlah bagian dari negara ini,” katanya kepada Independent. “Mereka tidak berbaur. Mereka mengirim anak-anak mereka ke madrasah. Kami dikuasai dan tidak bisa berkata apa-apa soal itu. Jika Anda bilang begitu, Anda akan disebut rasis.”

Ketika mereka bertemu demonstrator dalam jumlah kecil yang berdiri diam dengan tulisan “No to Islamophobia”, suasana segera berubah. Mereka pun berteriak bersama-sama dengan sumpah serapah. Mereka melemparkan kata-kata pelecehan dan ancaman pada pria dan perempuan yang berdiri di sisi jalan.

Masalah Selanjutnya untuk West Ham

Buat West Ham ini merupakan masalah baru karena kurang dari setahun sebelumnya, mereka merekrut Kepala HRD, Tony Henry. Alasannya, Henry pernah mengungkapkan komentar yang tidak pantas terkait pemain Afrika.

Klub pun membuat pernyataan resmi: “West Ham United adalah kesebelasan yang inklusif. Tanpa memandang jenis kelamin, usia, ras, kemampuan, agama, atau orientasi seksual, semua suporter dalam basis penggemar kami yang beragam disambut hangat di London Stadion, bebas untuk menikmati kesebelasan mereka tanpa ketakutan, diskriminasi, atau pelecehan.”

“Kami memiliki kebijakan zero tolerance terhadap segala bentuk kekerasan atau perilaku kasar. Kami terus melindungi dan menghargai nilai-nilai itu dan kami tetap berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap anggota keluarga West Ham merasa aman, dihormati, dan diikutsertakan.”