Musim panas waktu Eropa adalah antara kerja keras dan berlibur, bagi para pesepakbola. Mereka lebih dulu berleha-leha bersama keluarga dan orang-orang tersayang, dengan bepergian ke luar negeri serta berjemur di tengah terik matahari. Setelahnya mereka akan kembali berjemur di bawah terik matahari, tapi dengan berpeluh ria kala melakoni latihan pra-musim.

Biasanya klub-klub top Eropa akan melakoni latihan pra-musim di suatu daerah, jauh dari kota atau negara asal. Pemusatan latihan itu bertujuan untuk mengembalikan kebugaran para pemain, juga demi memperkenalkan taktik yang akan dipakai pelatih. Setelahnya baru akan melakoni pertandingan uji coba alias persahabatan.

Dahulu klub-klub Eropa biasa melakukan tur ke berbagai daerah dan negara. Bagi masyarakat Indonesia, beberapa nama klub top pernah mampir ke Nusantara, seperti Ajax Amsterdam, Arsenal, Liverpool, Sevilla, Queen Park Rangers, dan lainnya.

Selain demi melakoni laga uji coba, tur menjadi sebuah perkenalan bagi masyarakat yang berada jauh dari daerah asal, selain juga memanjakan para suporter yang tidak bisa datang ke kandang. Dari sisi finansial, tur memberikan pemasukkan signifikan bagi klub dari pihak penyelenggara. Sekali dayung, dua tiga pulau terlewati kan?

Internasional Championship Cup

Akan tetapi dewasa ini tur-tur tersebut kian terbatas. Pasalnya banyak klub top Eropa lebih memilih bermain di Kejuaraan Piala Internasional (ICC) dibanding melakukan tur sendirian. Dengan kepastian jadwal, lawan dan hadiah yang didapat, klub-klub tersebut bersemangat mengikuti ICC, walau judulnya tetap saja laga persahabatan.

Kompetisi antar klub terkenal ini dimulai sejak 2013 silam, kala pemilik klub NFL Miami Dolphins, Stephen Ross, menyaksikan pertandingan antara FC Barcelona versus tim asal Meksiko, Gualdajara di Stadion Miami Gardens. Laga tersebut menyedot 70.000 orang penonton dan sempat menjadi jumlah penonton sepakbola terbanyak di Florida.

Sadar jika pertandingan sepakbola bisa memberikan laba yang besar, Ross tertarik menyelenggarakan sebuah turnamen yang mempertemukan klub-klub besar dan terkenal. Walau masyarakat Amerika Serikat tidak menganggap sepakbola sebagai olahraga utama, tapi Ross percaya rakyat negara Paman Sam itu berani membayar tiket pertandingan daripada harus terbang ke Eropa. Tidak ragu, ia menginvestasikan uang sebesar Rp1,4 triliun pada Revelent Sports selaku penyelenggara.

“Kami melakukan banyak kesalahan dan juga kehilangan banyak uang. Namun untuk jangka panjang saya sangat yakin jika ini lah yang masyarakat Amerika ingin saksikan,” kata Ross, seperti dikutip dari Forbes, tahun lalu.

“Kami belum bisa kembali modal, tapi diharapkan bisa diraup pada tahun [2017] ini.”

Ucapannya terbukti. Di edisi tahun lalu ada sekitar 528.121 tiket terjual untuk sembilan pertandingan yang mempertemukan Barcelona, Real Madrid, Manchester United, Bayern Munchen, Manchester City, Paris Saint-Germain dan Juventus, atau rata-rata 58.680 penonton per pertandingan. Angka tersebut lebih tinggi dibanding edisi 2016 yang hanya mengumpulkan 57.081 per laga.

Jika menengok pada rekor jumlah penonton untuk pertandingan non MLS, maka ajang ICC lah yang memegang kuasa. Jumlah tertinggi dipegang oleh pertandingan antara Manchester United versus Real Madrid dengan total 109.318 penonton di edisi 2014, diikuti Chelsea kontra Los Blancos dengan 105.826 tiket terjual di edisi 2016. Rekor-rekor tersebut mengalahkan turnamen Turnamen Sepakbola Dunia yang digelar sejak 2009 hingga 2012, dimana laga The Red Devils melawan Blaugrana di 2011 menduduki peringkat kelima sebagai pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak.

Dengan harga tiket antara Rp3,6 juta hingga Rp65 juta, dan dikalikan dengan jumlah penonton, maka pemasukan kotor yang dikantungi Stephen Ross mampu kembali modal. Angka tersebut belum termasuk dari kerja sama dengan sponsor dan hak siar televisi.

Gula Manis Bagi Klub

Sementara itu klub-klub pun melihat turnamen Kejuaraan Piala Internasional ini sebagai madu yang teramat disayangkan untuk dilewati. Selain memperkenalkan dan menegaskan nama di benak para suporter, serta mengembalikkan kebugaran para pemain, ada kipasan fulus yang sulit ditolak.

Gilabola

Seperti dinukil dari Total Sportek, di edisi 2017 silam Manchester United, Real Madrid dan FC Barcelona mendapatkan uang sebesar Rp 289 miliar dalam beberapa pekan saja. Tentu saja uang tersebut belum termasuk bonus dari jumlah penonton yang hadir dan tidak termasuk biaya akomodasi dan transportasi yang biasanya ditanggung oleh pihak penyelenggara. Khusus bagi Los Galacticos, pendapatan tersebut tidak termasuk pertandingan versus MLS All Star tahun lalu, yang mempunyai kontrak terpisah dari ICC.

Sementara itu Paris Saint-Germain dan Juventus mengantungi Rp 173 miliar untuk tiga laga di Amerika Serikat. Sedangkan Tottenham Hotspur hanya meraup Rp 130 miliar untuk jumlah pertandingan yang sama.

Laga-laga ini menjadi sebuah fenomena baru, dimana dahulu biasanya klub besar akan bersua klub-klub menengah atau kecil dalam laga persahabatan. Mereka akan menghindari klub-klub besar lainnya karena tidak ingin mencoreng nama dengan kekalahan dan juga mengumbar taktik. Tapi kini semua itu berubah. Demi uang, klub-klub besar bersedia saling duel.

“Klub-klub besar ini sadar bahwa mereka bisa [mendapatkan keuntungan] lebih besar jika bersama-sama dibanding [melakukan tur] sendiri-sendiri,” kata Charlie Stilitano, ketua Relevent Sports seperti dikutip dari BBC tahun lalu.

“Awalnya mereka tidak ingin ikut serta karena bertemu klubo-klub besar lainya. Mereka tidak ingin bermain melawan rival utama mereka. Namun seiring berjalannya waktu semua itu berubah. Semakin besar dan baik Anda, kian besar perhatian yang Anda dapatkan.”

Menimbulkan Kebosanan?

Kompetisi Liga Champions masih menjadi primadona di mata masyarakat pencinta sepakbola. Pasalnya ajang tersebut memunculkan kejutan-kejutan yang tidak disangka-sangka. Hal ini berbeda dengan turnamen Kejuaraan Piala Internasional, di mana para pemain belum sepenuhnya bugar dan para pelatih menganggapnya sebagai ajang persahabatan semata.

Tidak dipungkiri jika ICC mempunyai gengsi tinggi karena diisi laga-laga klub besar dan juga disaksikan ratusan ribu penonton. Namun apakah memberikan gengsi serupa seperti kala menjadi juara Liga Champions? Apakah menjadi berulang kali menjadi juara di ICC memberikan kebanggaan bagi para fans? Jawabannya tentu saja tidak, sebab ICC bukan kompetisi resmi binaan konfederasi atau FIFA.

Tanpa disertai kebanggaan, turnamen ICC rasanya hanya sebagai pengumpul laba saja bagi klub dan penyelenggara. Artinya fans hanya dianggap sebagai sapi perah demi mengumpulkan lembaran dollar semata sebab hanya disajikan pertandingan dua klub yang tidak bermain dalam kondisi prima dan berorientasi fulus. Dengan faktor-faktor tersebut, maka tinggal menunggu waktu saja bagi para penonton untuk merasa jemu. Namun bukan kah tur pra-musim memang bertujuan untuk membuat neraca keuangan klub membesar?