Apa Itu Kitman?

Di sepakbola, seringkali kita mendengar pekerjaan bernama “Kitman”. Lantas, apa itu “Kitman”?

Secara harfiah, “Kitman” berarti orang (man) yang mengurusi kostum tim (kit). Dalam istilah secara luas, kitman disebut juga sebagai “equipment manager” atau kalau diterjemahkan berarti “manajer perlengkapan”. Biasanya, semakin besar klubnya, semakin kompleks struktur organisasinya, maka jenis pekerjaannya biasanya lebih spesifik.

Contohnya begini, kitman di tim-tim besar di Eropa, ada yang bertugas untuk hanya mengurus kostum, ada yang harus menyuci sepatu, ada yang memastikan kelancaran distribusi perlengkapan pemain tersebut. Di sisi lain, kitman di tim semi-profesional bisa saja merangkap sebagai tukang urus kostum, cuci sepatu, supir, dan juga CEO klub.

Peran kitman menjadi penting karena seringkali ia juga yang mengurusi kebersihan “alat perang” pemain, seperti sepatu. Karena pemain tidak selalu mendapatkan kostum baru di tiap pertandingan, maka kitman-lah yang mengurus kebersihan kostum tersebut mulai dari mencuci, mengeringkan, hingga merapikannya agar siap pakai.

Mengutip dari Sports King, sejatinya tanggung jawab seorang kitman adalah merawat perlengkapan pemain, seperti kostum, sepatu, kaus kaki, dan bola, yang dipelihara serta diatur oleh kitman.

“Di banyak klub, kitman biasanya dekat dan dipercaya oleh para pemain. Dia adalah bagian dari lingkaran dalam mereka dan punya pengaruh dalam semangat di ruang ganti. Kitman mengawasi perlengkapan tim, tapi tugasnya yang lebih penting adalah menjaga para pemain dalam suasana hati yang baik dan optimis,” tulis Sports King.

Maksud dari “menjaga suasana hati para pemain” ini mirip dengan yang biasa dilakukan para musisi lewat riders mereka. Dalam riders tersebut biasanya berisi permintaan sang musisi dalam hal teknis manggung, sampai non-teknis seperti jenis makanan, minuman, sampai dekorasi.

Semua dalam riders ini sebenarnya bisa saling menggantikan bahkan dihilangkan. Namun, kalau daftar dalam riders tak dipenuhi, suasana hati sang musisi akan terganggu bahkan rusak. Ujung-ujungnya performa mereka di atas panggung tidak akan maksimal. Siapa yang dirugikan? Penonton sebagai konsumen, serta promotor sebagai pihak yang memekerjakan.

Di sepakbola, utamanya di liga top dunia, para pemain melepaskan tanggung jawab mereka untuk mengurusi peralatan tempurnya. Semuanya dialihkan tanggung jawabnya pada kitman. Pemain tak perlu lagi mencuci baju, sepatu, lalu menyetrikanya dan membawanya ke stadion. Ia tinggal menyiapkan mental serta taktik yang sudah diasah di sesi latihan.

Mereka tak perlu dipusingkan dengan masalah kostum yang kusut atau sepatu yang kotor. Ini yang menjadi jawaban mengapa para pesepakbola di liga top dunia utamanya tak mengenakan jersey bertanding ketika berangkat ke stadion. Manchester United misalnya, mewajibkan para pemainnya mengenakan jas ketika berangkat menuju Old Trafford. Para pemain pun biasanya datang dengan gaya yang sama: pakai jas, mengenakan air-pod atau headphone, serta menenteng tas kecil.

Kostum mereka sudah tersedia beberapa jam sebelum bertanding di ruang ganti, lengkap dengan sepatu dan perlengkapan bertanding seperti deker dan tape untuk membebat ankle. Pemain tinggal datang, pakai kostum latihan, berlatih sesaat, kembali ke ruang ganti, lalu mengenakan kostum utama mereka.

Semua hal ini ditangani oleh kitman. Para pemain tinggal terima beres. Menjadi wajar kalau Sports King menyebut bahwa kitman merupakan orang yang dipercaya dan dekat dengan para pemain. Pasalnya, para kitman ini harus mengenal ini sepatu atau deker milik siapa.

Menjadi seorang kitman bukanlah tugas yang mudah. Kemampuan pertama yang harus ia miliki adalah soal menyusun puluhan kostum pemain, mendatanya, mengecek mana yang bisa dipakai, mana yang harus diganti. Apalagi, setiap hari pemain berlatih, dan mereka memerlukan kostum baru yang bersih. Artinya, kitman tak cuma bekerja di hari pertandingan, tapi setiap hari!

Pekerjaan mereka bertambah kompleks saat mendekati waktu pertandingan. Kitman Swansea City misalnya, sudah mulai menyiapkan kostum latihan sejak tiga hari sebelum pertandingan. Ini dilakukan karena banyaknya hal yang harus mereka susun. Soalnya, untuk sekadar menyusun kaus kaki pun tetap memakan waktu. Belum lagi permintaan khusus dari pemain, membuat mereka mesti cermat. Andre Ayew contohnya, yang ingin mengenakan kaus kaki dan celana yang sama di pekan selanjutnya andai Swansea meraih kemenangan di pekan itu.

Baik di hari pertandingan maupun di tempat berlatih, setiap kitman selalu punya kesamaan: mereka menjadi staf pertama yang datang, juga yang paling akhir untuk pulang.