Jadwal dan Tradisi yang Dilanggar Javier Tebas di La Liga

Foto: Managing Madrid

Petinggi La Liga, Javier Tebas, sangat ingin liga divisi teratas Spanyol menjadi yang paling populer di dunia, dan yang paling menjadi fokusnya adalah penjadwalan pertandingan antara Barcelona dan Real Madrid. Menurut Tebas, pertandingan yang disebut sebagai El Clasico itu adalah kunci untuk mewujudkan visi luasnya pada La Liga.

Bahkan, demi mencapai itu, Tebas berani mengatakan bahwa ia dan rekan-rekan para petinggi La Liga akan melanggar tradisi sepakbola di Spanyol. Sebetulnya sudah lama ia menyimpan rencana seperti ini, dan ia tidak takut untuk mengutarakan pikirannya. Dengan begitu, tidak terlalu mengejutkan mengapa ia begitu lantang menuturkan ambisinya yang begitu radikal demi membuat La Liga menjadi liga terbaik di dunia.

Yang paling terlihat jelas dari proses perkembangan La Liga ini adalah aspek penjadwalan pertandingan. Di bawah Tebas, yang mulai bertanggung jawab memimpin liga sejak April 2013, saat ini setiap jadwalnya dibuat dengan memastikan apakah semuanya dapat diputar langsung di televisi, di Spanyol, dan di luar negeri.

Pada tahap ini, La Liga memberikan efek yang signifikan dalam prosesnya. Mereka menggunakan empat hari dalam seminggu, yaitu dari Jumat hingga Senin, dengan beberapa pertandingan yang berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu dimulai di pagi hari. Hal ini merupakan penyesuaian yang tepat bagi negara-negara di luar Spanyol, di mana mereka dapat mengkonsumsi pertandingan yang berlangsung di akhir pekan.

“Kami selalu harus berpikir tentang tradisi Spanyol, tetapi kami telah bekerja selama lima tahun terakhir untuk mengubah jadwal sehingga tidak ada pertandingan yang tumpang tindih. Orang-orang mengatakan itu berarti lebih sedikit penonton yang pergi ke stadion, akan tetapi sebaliknya, justru lebih banyak yang menonton di luar sana,“ ujar Javier Tebas dikutip dari The Guardian.

“Setidaknya sekitar 25% lebih banyak. Mengapa? Karena ada waktu sebelumnya yang tidak memungkinkan keluarga menonton sepakbola di stadion, akan tetapi memfasilitasi mereka menonton di luar stadion. Karena sekarang, sudah ada banyak waktu yang ramah keluarga. Jadwalnya lebih fleksibel dari yang Anda harapkan.”

Mungkin Tebas benar dengan perkataannya. Namun mengutak-atik tradisi juga menimbulkan hal kontroversial, khususnya soal penjadwalan pertandingan pada Senin malam. Langkah ini terbukti sangat tidak populer, sehingga menimbulkan protes. Di antaranya, sempat muncul protes yang dilakukan oleh pendukung Alavés selama kemenangan kandang mereka atas Levante pada bulan Februari lalu. Penonton membawa peti mati ke stadion Mendizorroza dan memegang spanduk bertuliskan “RIP Football.”

Selain itu, sempat muncul pula intervensi hukum dari Federasi Sepakbola Spanyol untuk menghentikan kebijakan pertandingan Senin malam sebelum berlangsungnya musim ini. Presiden federasi, Luis Rubiales, hanya mau membiarkan izin kepada kebijakan pertandingan Jumat malam. Namun, hakim menyangkal hal itu, dan memberikan Tebas kemenangan.

Kendati begitu, tidak lama setelah keputusan hakim tersebut, pihak federasi kembali mencerca badan yang mengatur semua yang berhubungan dengan penjadwalan kompetisi. Kemudian, di bulan lalu, diputuskan juga bahwa jadwal El Clasico pertama di musim ini akan pindah dari Sabtu 26 Oktober ke Rabu 18 Desember karena persoalan protes politik di Catalonia.

Perubahan jadwal pertandingan ini pun sudah disetujui oleh Barcelona, ​​Real Madrid dan federasi. Maka, pertandingan yang nantinya dihelat di Camp Nou tersebut akan berlangsung pukul 20.00 waktu setempat. Keputusan ini dinilai bagus dan cocok untuk warga Spanyol, akan tetapi sangat buruk dan kurang cocok bagi mereka yang berharap dapat menonton, terutama di Asia –karena perbedaan waktu hingga delapan jam.

Oleh karenanya, keputusan ini justru sempat memunculkan kemarahan yang tak terbantahkan dari Javier Tebas. Bahkan, ia berencana mengambil ancaman tindakan hukum terhadap persoalan ini. Namun, tidak lama setelah itu, ia membatalkan rencananya, tetapi tetap bersikeras bahwa jadwal pertandingan sekelas El Clasico harus segera dijadwalkan ulang agar dapat ditonton oleh berbagai masyarakat di luar negeri.

“Dari dua El Casico yang ada dalam satu musim, salah satunya harus selalu jadi milik orang di Asia, dan seharusnya mereka bisa menonton tanpa harus tidur dahulu. Maka satu sisanya lagi harus selalu jadi milik orang di AS, dan mereka juga tidak harus tidur dahulu untuk menonton pertandingannya,” pungkas Tebas.

Polemik seperti ini lalu memberi Javier Tebas pandangan baru. Ada sebuah strategi, seperti memungkinkan orang-orang di anak benua India untuk menonton konten La Liga secara gratis di Facebook, atau streaming liputan langsung pertandingan Divisi Segunda di YouTube, dengan tujuan “meningkatkan brand” dan meningkatkan pendapatan. Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa pendapatan TV global untuk dua liga teratas Spanyol akan melebihi 2 miliar euro (atau sekitar 1,7 miliar paun) pada akhir musim ini.

Namun, angka itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan penghasilan Premier League yang dilaporkan mencapai 9 miliar paun, yang dihasilkan dari kesepakatan siaran sejak tiga tahun terakhir. Dengan begitu, Premier League hadir sebagai konteks tantangan yang akan dihadapi Tebas dalam membuat liga Spanyol dikenal luas, lebih besar, dan lebih menguntungkan daripada liga Inggris.

Tapi, ketika menyikapi ini, Javier Tebas menegaskan bahwa ia “tidak terobsesi” dengan Premier League. Sebagian alasannya adalah karena perubahan cara orang mengkonsumsi konten sepakbola, yang dalam jangka panjang, La Liga mungkin lebih baik ditempatkan untuk mendominasi penyiaran di pasar internasional.

“Angka penonton global kumulatif La Liga adalah lebih dari 3,2 miliar euro. Tetapi apa artinya itu? Masih sulit rasanya untuk mengatakan apa itu jika Anda mengingat bahwa konsep audiens telah berubah. Sekarang ini, para penonton bisa menunjukkan minat mereka kepada konten Anda dari sisi menit yang ditonton. Bisa jadi, orang menonton pertandingan La Liga lebih banyak dari liga lain,“ jelas Tebas.

“Ini adalah tren yang sedang berkembang, dan kami akan terus berupaya menumbuhkan audiens kami. Kami telah berupaya untuk memiliki lebih banyak penonton dari meneliti aspek ini. Saya yakin, dalam 10 tahun kedepan tidak ada yang akan mengambil angka penonton kami, dan sebagai gantinya, kami akan mendominasi hak siar.”

 

Sumber: The Guardian