OUR NETWORK

Klutus Klub 90’an (1): Disegani Karena Trofi

Di era 1990-an ada klub yang disukai, bahkan sampai seolah-olah dikultuskan. Ada yang disegani karena prestasi mereka yang mengejutkan, ada pula yang karena semangat dan serba ke-hampir-an.

Pada bagian yang pertama ini, terdapat sejumlah klub yang dikultuskan karena trofi yang mereka raih pada era tersebut. Siapa saja mereka?

Ajax Amsterdam 1994/1995

Daniel Storey dalam Planet Football yakin betul kalau skuad Ajax pada musim 1994/1995 akan mendapatkan kejayaan. Di musim sebelumnya, Ajax berhasil meraih gelar Eredivisie yang ke-24. Sehingga, kedigdayaan Ajax sepertinya akan terus berlanjut di musim setelahnya.

Ditangani oleh Louis van Gaal, Ajax berhasil memenuhi ekspektasi tersebut. Ajax mengumpulkan 61 poin hasil 27 kemenangan dan tujuh hasil seri. Dan tentu saja, nol kekalahan. Patrick Kluivert jadi pencetak gol terbanyak di liga dengan 18 gol, dari total 106 gol yang dicetak Ajax di liga musim itu.

(Catatan: Pada masa tersebut, kemenangan cuma mendapatkan dua poin)

Juara Eredivisie memang biasa. Namun, yang fantastis adalah mereka mengakhiri musim dengan menjuarai Liga Champions. Lawannya adalah AC Milan, yang sudah mereka kalahkan dua kali di fase grup dengan skor identik 2-0.

Ajax musim 1994/1995 dikenal karena skuad mereka yang masih muda. Pos lini pertahanan memang diisi pemain senior seperti Danny Blind dan Frank Rijkaard. Namun, pemain lain seperti Edgar Davids, Mark Overmars, dan Michael Reiziger, berusia 22 tahun. Patrick Kluivert dan Clarence Seedorf berusia 19 tahun, sementara Nwankwo Kanu masih 18 tahun.

Marseille 1990/1991

Masa kejayaan Marseille ada di 1990-an awal. Mereka meraih empat gelar Liga Prancis secara beruntun mulai dari musim 1988/1989.

Namun, musim 1990/1991 menjadi musim yang menarik. Marseille jadi tim paling produktif, sekaligus menjadi tim paling susah ditembus.

Sayangnya, Marseille gagal di dua final yang bisa mereka menangi. Marseille kalah dari AS Monaco di final Coupe de France, serta kalah adu penalti dari Red Star Belgrade di final Liga Champions.

Marseille dua kali mengganti pelatih pada musim 1990/1991. Peraih dua gelar liga, Gerard Gili, digantikan legenda Bayern Munchen, Franz Beckenbauer. Akan tetapi, Beckenbauer cuma bertahan dari September sampai Desember, sebelum digantikan Raymond Goethals.

Skuad Marseille saat itu diisi oleh pemain-pemain penting. Mereka didatangkan ketika Bernard Tapie menjadi Presiden Marseille. Tapie mendatangkan Karl-Heinz Forster, Alan Giresse, Jean-Pierre Papin, Chris Waddle, Klaus Allofs, Enzo Francescoli, Abedi Pele, Didier Deschamps, Basile Boli, Marcel Desailly, Rudi Voller, Tony Cascarino, dan Eric Cantona.

Glasgow Rangers 1995/1996

Sepanjang musim 1995/1996, Rangers memainkan total 53 pertandingan kompetitif. Rangers menjuarai Liga Skotlandia dan merupakan gelar kedelapan mereka secara beruntun dan mengubur kedigdayaan Celtic.

Selain Liga Skotlandia, Rangers juga berhasil menjuarai Scottish Cup usai mengalahkan Heart of Midlothian dengan skor telak 5-1.

Rangers pun mencapai fase grup Liga Champions setelah melewati babak kualifikasi terlebih dahulu. Sialnya, mereka satu grup dengan Juventus, Borussia Dortmund, dan Steaua Bucharest. Di Eropa, Rangers tak bisa meraih satupun kemenangan karena cuma meraih tiga poin hasil tiga kali imbang.

Meski demikian, skuad Rangers saat itu adalah yang terkuat di Skotlandia. Apalagi, manajer Rangers, Walter Smith, menghabiskan 12 juta paun di bursa transfer untuk mendatangkan Peter van Vossen, Stephen Wright, Gordan Petric, serta Paul Gascoigne yang menjadi rekrutan termahal di Skotlandia saat itu.

Inter 1997/1998

Musim 1997/1998 Inter ditangani Luigi Simoni dan bertumpu pada Ronaldo, yang masih berusia 20 tahun, sebagai juru gedor di lini depan. Skuad Inter saat itu dihuni campuran pemain senior dan pemain muda. Javier Zanetti masih berusia 23 tahun, sementara Alvaro Recoba berusia 21 tahun dan Nwankwo Kanu 20 tahun.

Di liga, Inter kepayahan mengejar Juventus yang meraih scudetto. Inter terpaut lima poin. Dua kekalahan dari tim papan bawah, Bari, jadi kunci kegagalan. Kekalahan di putaran pertama membuat Inter gagal mempertahankan puncak klasemen yang sudah mereka tempati selama 16 pekan. Sementara kekalahan di putaran kedua, memastikan Inter gagal meraih gelar Serie A.

Di Coppa Italia, Inter terhenti di perempat final. Inter dibantai rival sekota, AC Milan, dengan agregat 5-1.

Perjuangan Inter sejatinya hadir di Piala UEFA. Inter sempat kalah di leg pertama babak kedua dan babak 16 besar. Namun, mereka berhasil melakukan comeback pada leg kedua.

Perjalanan Inter berakhir di final yang mempertemukan dengan sesama wakil Italia, Lazio. Di final yang digelar di Parc des Princes tersebut, Inter menang 3-0 lewat gol Ivan Zamorano, Zanetti, dan Ronaldo.

Gol Ronaldo ke gawang Luca Marchegiani, disebut-sebut sebagai salah satu yang paling ikonik. Ronaldo yang mendapatkan umpan terobosan, langsung berhadapan dengan kiper. Tanpa menyentuh bola, Ronaldo bergerak ke kanan, lalu ke kiri. Dengan cepat Ronaldo memindahkan bola ke kanan dan Marchegiani pun tertipu. Sambil terduduk, ia cuma melihat jala gawangnya bergetar untuk ketiga kalinya.

Red Star Belgrade  1990/1991

Red Star diisi oleh sejumlah pemain muda di musim 1990/1991. Dengan skuad seperti itu, mereka berhasil menjuarai Liga Yugoslavia setelah unggul delapan poin dari Dinamo Zagreb.

Keberhasilan Red Star juga berlanjut di Piala Champions. Dalam perjalanannya, Red Star mengalahkan Grasshopper, Rangers, Dynamo Dresden, dan Bayern Munich. Di final, mereka bertemu dengan wakil Prancis, Marseille.

Dalam laga final yang digelar Stadio San Nicola, Bari, tersebut, Red Star sudah tiba di Italia enam hari sebelumnya. Mereka tinggal di kota Monopoli yang jaraknya sekitar 40 kilometer arah tenggara Bari.

Skuad Red Star tinggal di Il Melograno Hotel. Mereka tampak diisolasi, bahkan untuk menelepon saja dibatasi. Ini bertujuan untuk memfokuskan para pemain muda ini ke laga final. Soalnya, banyak pemandu bakat klub besar, atau bahkan agen, yang menawari mereka pindah klub usai laga final ini. Wajar kalau pelatih Ljupko Petrovic melakukan persiapan dengan sangat serius. Soalnya, final ini adalah pertandingan terbesar dalam hidup mereka.

Red Star bermain dengan mengandalkan parkir bus. Hasilnya, laga berakhir imbang tanpa gol yang membuat pertandingan dilanjutkan ke babak adu penalti. Entah karena sudah dilatih sebelumnya, tapi kelima penendang Red Star sukses meyarangkan bola, sementara Marseille cuma tiga yang berhasil menuntaskan tugasnya.

Usai laga, sejumlah pemain keluar dari Red Star. Perang di Yugoslavia juga memastikan akhir dari kejayaan, bukan cuma Red Star, tapi juga Yugoslavia sebagai negara. Yugoslavia pecah pada 1992.

Sumber: Planet Football

Loading...