OUR NETWORK

Mengapa Striker Dihargai Lebih Mahal Ketimbang Bek?

Berdasarkan Transfermarkt, dari 20 pemain dengan biaya transfer termahal, hanya ada empat pemain bertahan dan dua gelandang. 14 lainnya adalah pemain bertipikal menyerang, seperti striker maupun penyerang sayap.

Secara teori, setiap pemain di posisinya masing-masing punya peran krusial di atas lapangan. Tanpa pemain di posisinya masing-masing, sebuah kesebelasan tak akan bergerak dengan mulus, karena pemain di tiap posisi ini bagaikan transmisi yang berhubungan satu sama lain.

Penyerang dibayar mahal karena mencetak gol? Tentu, bukan cuma penyerang yang bisa mencetak gol, gelandang bisa, pun dengan bek yang biasa naik saat tendangan penjuru maupun tendangan bebas. Apalagi dengan skema satu penyerang yang perannya adalah pemantul bola. Belum lagi dengan skema false nine di mana bukan penyerang yang mencetak gol, melainkan rekannya yang lain.

Akan tetapi, ingatan manusia terkadang pilih-pilih. Para penggemar lebih memilih momen kemenangan ketimbang saat bertahan. Hal ini yang juga ditulis Jorge Hernandez di Latin American Post. Ia bilang kalau penggemar akan menggila saat merayakan gol. Di sisi lain, mereka juga tak akan menanggalkan kritiknya pada para bek saat gawang kebobolan.

“Dari perspektif sehari-hari, lebih mudah menghancurkan daripada membangun. Oleh karena itu, pemain yang keren, yang melakukan setiap serangan, otak lini tengah dan kaki-tangannya akan terlihat sebagai penyelamat dalam setiap pertandingan. Sementara itu, para bek, akan menghindari lawan yang maju, atau kiper, dengan tangannya, akan membelokkan tendangan ke kabinnya,” tulis Hernandez.

Setiap pemain punya posisi dan perannya masing-masing. Namun, hanya yang melakukan gocekan, tendangan indah, dan gaya-gaya di atas lapangan, yang akan dikenal oleh para penonton. Dan hal itu jarang dilakukan oleh para pemain bertahan.

Mengapa? Ini tak lepas dari fungsi mereka sendiri. Para pemain bertipe menyerang, harus bisa menggocek bek lawan agar bisa mencetak gol. Mereka juga harus punya teknik tendangan yang bagus agar bola tendangan mereka bisa mengecoh atau lebih cepat dari gerakan kiper.

Hal ini “diperparah” oleh media yang memang lebih senang dengan aksi ofensif ketimbang defensif. Akhirnya, para penggemar terpapar dan terbiasa oleh informasi pentingnya para penyerang di atas lapangan, ketimbang permainan bertahan.

Masuk akal?

Sumber: Latin American Post.

Loading...