OUR NETWORK

Mengenal Football Blackout di Sepakbola

Liga 1 Indonesia tampak punya hubungan yang mesra dengan pemilik hak siar. Mereka membikin jadwal agar semua pertandingan bernilai tinggi bisa disiarkan; termasuk menggelar pertandingan setiap hari dan digelar pada pukul 21:30 WITA.

Akibatnya jadwal pertandingan menjadi tidak bisa diprediksi. Tim yang bertanding tak main pada akhir pekan seperti layaknya liga top di Eropa. Mereka bisa bermain hari apa saja asal pembikin jadwal menemukan slot kosong. Meski demikian, hal ini memiliki dampak positif bagi para suporter. Soalnya, mereka hampir bisa selalu menyaksikan tim manapun bertanding.

Hal berbeda justru terjadi di Inggris. Sebagai liga paling populer di dunia, warga Inggris justru tak bisa menyaksikan seluruh pertandingan Premier League di televisi. Soalnya, ada aturan di mana pertandingan yang digelar hari Sabtu pukul tiga sore, tak boleh disiarkan. Aturan ini dinamai “Football Blackout”.

Pada tulisan ini, kami akan membahas tentang:

  1. Definisi Football Blackout
  2. Sejarah Football Blackout
  3. Negara yang Punya Aturan Football Blackout
  4. Keinginan Menghapus Football Blackout
  5. Apa Pengaruhnya Football Blackout?

Definisi Football Blackout

“Football Blackout” adalah aturan yang melarang pertandingan disiarkan di televisi. Aturan ini mencakup pada pertandingan di Premier League, Football League, dan juga Piala FA, pada Sabtu antara 14:45 hingga 17:15 waktu Inggris.

Pertandingan masih boleh digelar pada rentang waktu tersebut. Namun, tak boleh disiarkan di wilayah Inggris. Artinya, masyarakat Inggris tidak bisa menyaksikan liga sepakbola negaranya setiap Sabtu di rentang waktu tersebut.

Apa apa alasannya?

Sejarah Football Blackout

Aturan ini terjadi ketika Chairman Burnley, Bob Lord, berhasil meyakinkan chairman lainnya di Football League. Ia berpendapat kalau siaran televisi pada Sabtu sore, bisa berdampak negatif pada kehadiran penonton di divisi bawah.

Ia mencontohkan kalau Manchester United menghadapi Liverpool pada Sabtu pukul 3 sore. Para penggemar dari tim divisi bawah lebih memilih menonton pertandingan tersebut di televisi, ketimbang menghadiri pertandingan tim yang mereka dukung. Dampaknya? Pendapatan tim dari divisi bawah bisa berkurang.

Aturan tersebut berjalan hingga saat ini. Malah, pertandingan La Liga juga pernah terdampak. Sky Sports pernah tidak menyangkan 15 menit pertama pertandingan yang kick-offnya digelar pukul lima sore waktu Inggris.

Meski demikian, baru pada 2021 ada pengecualian untuk pertandingan final Piala FA yang digelar pada Sabtu pukul 3 sore. Sebelumnya, pada 2012, final Piala FA dipindah ke pukul 5 sore.

Ketatnya “Football Blackout” membuat semua pertandingan terakhir Premier League digelar pada Minggu pukul tiga sore. Sampai-sampai pub dan bar pun dilarang menayangkan pertandingan lewat live stream.

Meski dilarang disiarkan di televisi, tapi untuk siaran radio di seluruh penjuru Inggris, tetap diperbolehkan. Ini pula yang bikin program “Match of the Day” tetap laku. Padahal, isinya hanya para pengamat sepakbola mengomentari jalannya pertandingan, tanpa diperlihatkan seperti apa pertandingannya.

Negara yang Punya Aturan Football Blackout

Cuma United Kingdom yang terdiri dari Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara, yang punya aturan ini. Negara top lain seperti Prancis, Spanyol, Jerman, dan Italia, tak punya aturan serupa. Apalagi tak ada bukti yang cukup kalau pelarangan siaran pada periode tertentu bisa berdampak pada kehadiran tim divisi bawah.

Gara-gara Football Blackout, negara-negara di Amerika Utara dan Asia, justru bisa menyaksikan lebih banyak pertandingan Premier League, ketimbang di Inggris itu sendiri.

Keinginan Menghapus Football Blackout

Satu-satunya cara untuk menyaksikan pertandingan saat Football Blackout berlaku adalah dengan datang ke stadion. Ini juga yang jadi permasalahan para penggemar Manchester United di Inggris ketika Ronaldo kembali ke Old Trafford pada 11 September 2021 lalu.

Para penggemar Manchester United di Inggris terhalang aturan Football Blackout yang membuat mereka hanya bisa mendengarkan mendengarkan momen penting tersebut dari radio, menonton Match of the Day, atau datang langsung ke stadion. Sialnya, tak selamanya mereka punya uang untuk membeli tiket Premeir League yang relatif mahal. Kalaupun ada, belum tentu bisa mendapatkannya karena jumlah tiket yang terbatas, sementara peminatnya sangat tinggi.

Ini tentu bikin mereka frustrasi. Berdasarkan Goal, hanya ada sedikit atau malah tidak ada sama sekali korelasi antara pertandingan yang disiarkan dengan jumlah penonton yang hadir. Tak peduli siapapun yang tanding pada pukul tiga sore. Sehingga banyak suporter Premier League yang ingin Football Blackout dihapuskan.

Apa Pengaruhnya Football Blackout?

Meski tak ada negara top Eropa lain yang punya aturan Football Blackout, tapi UEFA mengatur kalau harus ada masa di mana pertandingan tak boleh disiarkan di tv pada Sabtu atau Minggu. Tujuannya adalah mendorong penonton hadir langsung ke stadion. Ini dilakukan untuk mendukung klub yang penghasilannya lebih besar dari tiket pertandingan ketimbang siaran televisi.

Kenapa jadi bermasalah di Inggris? Soalnya, pertandingan Premier League digelar berbarengan dengan divisi bawah, sehingga menghadirkan persaingan untuk memperebutkan pentonon.

Ini yang diungkapkan mantan CEO FA yang juga Chairman Tranmere Rovers, Mark Palios. Ia bilang kalau timnya sangat bergantung pada kehadiran penonton untuk mendapatkan pemasukan. Banyak suporter Liverpool dan Everton yang juga menonton Tranmere ke stadion. Sehingga saat orang-orang bilang Football Blackout tak memengaruhi kehadiran penonton, itu tidak tepat.

Contoh lainnya suporter Wigan Athletic dan Bolton Wanderers. Saat tim mereka ada di divisi bawah, sangat mungkin mereka lebih memilih menonton Manchester United di televisi. Alasannya? Karena mereka berasal dari wilayah yang sama.

Palios bilang bahwa menonton pertandingan di stadion adalah bagian dari tradisi. Buat sebagian orang, menonton klub Premier League itu sulit: secara akses dan harga tiket. Sehingga cara termudahnya adalah dengan menonton pertandingan di divisi bawah.

Ini yang membuat Palios murka ketika ada wacana pembentukan European Super League. Buat klub besar jelas menguntungkan, tapi ini justru merusak budaya dan piramida sepakbola Inggris yang dibangun sejak 100 tahun lalu.

Hal berbeda diungkapkan Chairman Leyton Orient, Nigel Travis, yang harus melihat data lebih detail. Kondisi setelah Covid mengubah banyak hal. Banyak dari suporter Leyton yang justru tak tinggal di sekitar Leyton. Sehingga Leyton berinisiatif membangun siaran streaming. Dari tiket, Leyton cuma mendapatkan untung 5 persen pertiket. Sementara lewat streaming mereka mendapatkan 30 kali lipat!

“Dunia telah berubah, dunia sudah menjadi digital. Dan penonton kami terus bertambah sepanjang waktu, di luar siaran streaming kami. Aku pikir tahun ini kami akan menjual lebih banyak tiket musiman ketimbayng yang kami jual sepanjang sejarah kami,” terang Travis.

Sumber: Goal.com, Inews.co.uk,

Loading...