OUR NETWORK

Menilik Lahirnya Bisnis Besar dari Sepakbola Perempuan

Tonggak sponsorhsip telah menunjukkan kepada publik jika sepakbola perempuan sekarang adalah sebuah ranah untuk bisnis yang besar. Bahkan dukungan dari Visa untuk UEFA, telah menambah keyakinan bahwa sepakbola perempuan memiliki nilai jual yang tinggi. Ini merupakan suatu pertanda besar, jika potensi kesuksesannya akan berdiri kokoh dalam beberapa tahun mendatang.

Di sisi lain, bentuk sponsor-sponsor unik saat ini sering diejek dan dipandang sebelah mata. Dari sponsor matras yang bermitra dengan Manchester United, sampai sponsor Angry Birds di lengan jersey Everton, menjadi beberapa perusahaan penyokong dana yang tidak terlalu dielu-elukan. Padahal, sponsor merupakan unsur paling terpenting dalam perkembangan sebuah klub di era modern seperti sekarang ini.

Maka dari itu, sponsor memiliki daya tarik tersendiri untuk dipakai sebagai sebuah perubahan. Seperti halnya yang dilakukan UEFA sekarang, yang memilih melakukan gebrakan baru dengan menyetujui kesepakatan tujuh tahun dengan Visa untuk menjadi sponsor pertama sepakbola perempuan UEFA. Kesepakatan ini telah diresmikan, dan untuk sebuah perubahan, UEFA tampak membuat kesepakatan ini menjadi lebih inovatif.

Jika dipertanyakan mengapa UEFA melakukan semua itu? Jawabannya karena, menurut Nadine Kessler, Kepala Sepakbola Perempuan UEFA, tujuan dari semua rombakan ini adalah untuk memberikan nilai yang jelas bagi sepakbola perempuan.

“Pada akhirnya, ini semua bukan hanya tentang nilai uang, tapi ini semua lebih kepada tentang bagaimana menunjukkan kepada orang-orang bahwa sepakbola perempuan juga memiliki nilai yang besar. Ini adalah pesan yang kami coba kirimkan kepada publik,” tutur Nadine Kessler.

Namun ternyata, perubahan ini telah memunculkan kritik-kritik sensitif yang ditujukan kepada sepakbola perempuan, dengan mengklaim bahwa kompetisi yang akan dihelat nanti tetap tidak dapat berdiri dengan sendirinya. Banyak yang masih kurang setuju dengan perkembangan sepakbola perempuan ini secara lebih lanjut.

Bahkan, terdapat juga banyak alasan yang membenarkan kritik-kritik barusan. Alasan pertama, ada larangan-larangan historis pada sepakbola perempuan di sejumlah negara. Lalu, yang kedua, terdapat sikap dan stereotipe buruk terhadap olahraga yang dilakoni perempuan, dan yang terakhir, ada pandangan yang masih belum bisa setuju dengan penggunaan fisik perempuan dalam sepakbola. Maka beberapa hal inilah yang sejak awal perlu untuk diperhitungkan oleh pengembangan sepakbola perempuan.

Tapi kendati begitu, dengan sederhana para pengembang sepakbola perempuan UEFA berjanji akan menjawab semua kritikan tersebut meski memang kenyataannya mereka sangat tertinggal jauh di belakang sepakbola pria. Namun yang jelas, sepakbola perempuan tetap memiliki banyak kesempatan untuk berpotensi menjadi kompetisi yang mandiri dan berdiri sendiri.

Maka dari itu, kesepakatan dengan sponsor besar seperti Visa, adalah satu tanda terbesar dari terealisasinya potensi tersebut –yang juga nantinya akan membantu mempercepat pertumbuhan. Selain itu, kedepannya mereka juga akan memisahkan hak-hak atas sepakbola perempuan dari sepakbola pria untuk pertama kalinya. Itu berarti, UEFA secara langsung akan mengukur seberapa jauh nilai serta pertumbuhan permainan ini secara mandiri.

Di bawah kerjasama baru, semua level permainan sepakbola perempuan dari kompetisi kelas bawah sampai ke kompetisi Liga Champions, semua elemen ini akan terus disokong penuh dengan dukungan berupa dana besar dalam proses perkembangannya. Dan perlu diingat, kemandirian kompetisi ini juga bukan hanya dari sisi finansial, karena UEFA nantinya akan memisahkan final Liga Champions Perempuan dari kompetisi sepakbola pria untuk pertama kalinya.

“Rencana ini adalah proyek yang memiliki makna dan latar belakang yang sama. Selama ini, sangat bagus dan sangat bermanfaat untuk menjadi bagian dari pekan-pean Liga Champions, di mana mereka bermain di kota yang sama, di hari yang sama dan sebagainya. Namun perhatian sangat besar pasti menjadi sangat berbeda ketika kami memisahkan diri dan membuat kompetisi secara mandiri. Seluruh dunia akan melihatnya, dan ini semua memiliki banyak manfaat,” jelas Kessler.

“Tetapi, pasti banyak yang mempertanyakan ‘berapa banyak perhatian yang nantinya akan ttertuju pada kompetisi itu? Apakah sepakbola perempuan akan memberikan momen tersendiri?’ Ya, kami berharap jawaban dari kedua pertanyaan ini akan menjadi bukti lebih lanjut, bahwa faktanya sepakbola perempuan harus memiliki platform sendiri, dan nantinya mampu menggunakan platform ini.”

Pemikiran Nadine Kessler ini merupakan pemikiran yang bangkit dari keresahan atas bentuk perkembangan sepakbola perempuan yang dinilai tidak merata. Selama ini, perkembangan sepakbola perempuan dan sepakbola pria itu semacam antitesis, dan seringnya sepakbola perempuan hanya dianggap sebagai pelengkap kompetisi dari sepakbola pria. Bahkan faktanya, selama ini euforia final kompetisi sepakbola perempuan tidak lebih dari sekedar ‘keseruan numpang lewat’ di bawah ketiak besar sepakbola pria.

Namun, apa yang sekarang telah dilakukan oleh UEFA, diprediksi akan melampaui semua keraguan dan anggapan remeh tersebut. Semua rencana ini juga akan membantah anggapan bahwa sepakbola perempuan tidak memiliki nilai. Selain itu, UEFA sudah berjanji akan menunjukkan kepada mereka yang berkuasa dalam dunia sepakbola, untuk lebih menilik pertumbuhan bisnis besar dari sepakbola perempuan. Yang jelas, UEFA yang dipelopori oleh Nadine Kessler, berharap jika semua janji ini akan menginspirasi semua pihak.

“Ini bukan hanya soal perkembangan sepakbola di Eropa, dan ini semua bukan hanya soal UEFA. Tapi ini semua merupakan sebuah pesan yang ingin saya coba sebarkan kepada dunia perihal sepakbola perempuan,” pungkas Kessler.

“Kami harus benar-benar perlu mencoba untuk memperbaiki berbagai hal soal sepakbola perempuan ini bersama-sama pada saat yang sama, dari sudut pandang konfederasi, dari sudut pandang asosiasi nasional, bahkan dari sudut pandang klub-klub sepakbola.”

“Kondisi dan tahap perkembangan masih sangat luas. Kami memiliki berbagai tahap perkembangan di Eropa, dan ini adalah langkah awal kami menuju langkah yang besar nanti. Jika dibandingkan dengan rencana-rencana soal perkembangan sepakbola perempuan lainnya di dunia ini, rencana kami jelas cukup istimewa.”

***

Bisnis besar, tidak akan melakukan hal-hal dari kebaikan hatinya. Bisnis besar selalu berorientasi pada keuntungan semata. Perusahaan yang bekerjasama dengan sebuah ‘proyek besar’ akan dengan senang hati bergabung ketika mereka melihat pasar proyek tersebut naik, atau dengan kata lain, mereka akan bergabung ketika mereka mendapat manfaat besar bagi organisasi mereka sendiri.

Maka sekarang, sepakbola perempuan datang dengan melahirkan tawaran-tawaran seperti itu. Bahkan saat ini mereka sedang menghadapi banyak penawaran secara etis dan politis seputar sponsor, seperti ‘siapa yang akan menjadi mitra dalam perkembangan prosesnya’. Jadi pada intinya, bisa jadi sepakbola perempuan merupakan sebuah elemen baru yang dapat melahirkan bisnis besar di dunia sepakbola.

 

Catatan redaksi: kutipan dilansir dari The Guardian