OUR NETWORK

Piala Asia dan Piala Afrika, Karena Sepakbola untuk Semua

Pamor Piala Asia dan Afrika mungkin kalah dari Piala Eropa, tapi mereka tetaplah ramai secara lokal.

Tahukah Anda, bahwa sekarang, tahun 2019 ini, Piala Asia dan Piala Afrika akan dan sedang berlangsung?

Bagi Anda penggemar sepakbola yang berasal dari Asia maupun Afrika, atau jika Anda adalah John Duerden (pengamat bola Asia) atau Mark Gleeson (pengamat bola Afrika), hajatan Piala Asia dan Piala Afrika ini mungkin sama pentingnya dengan Piala Eropa. Bagaimanapun, dua turnamen ini adalah turnamen konfederasi. Soal tingkatan, sudah tentu turnamen ini masuk grade A FIFA.

Namun, jika bicara soal prestise, memang turnamen ini (Piala Asia dan Piala Afrika) masih kalah jika dibandingkan dengan Piala Eropa, apalagi Piala Dunia. Jangankan dari dua turnamen tersebut. Piala Asia dan Piala Afrika mungkin juga masih kalah mentereng jika dibandingkan dengan Copa America, turnamen sepakbola hasil inisiasi CONMEBOL (konfederasi Amerika Selatan).

Meski begitu, layaknya turnamen Piala Emas yang juga mungkin memiliki nilai tersendiri, Piala Asia dan Afrika pun memiliki sesuatu yang bisa jadi nilai jual. Apa sajakah itu?

Piala Asia, Ajang Bertemunya Budaya-Budaya Menarik Asia

Asia adalah benua yang luas. Di antara benua-benua lain di dunia, Asia memegang status sebagai benua terbesar dengan luas kurang lebih 44,579,000 km2. Total ada 55 negara yang berada di benua Asia. Uniknya lagi, dari 55 negara yang terbagi dari beberapa region itu, tiap region menampilkan budaya-budaya yang berbeda.

Jika bicara tentang Asia Barat, maka di situ akan bercokol negara-negara berdarah Arab macam Arab Saudi, Yaman, Yordania, Suriah, dan Irak. Ada juga Afghanistan, Pakistan, Lebanon, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Berbelok sedikit ke tengah, maka akan ditemui negara-negara Asia Tengah yang rata-rata merupakan pecahan dari Uni Soviet, macam Turkmenistan, Kazakhstan, Uzbekistan, Tajikistan, seeta Kyrgyzstan.

Beralih ke Asia Selatan, ada negara-negara macam India, Nepal, Sri Lanka, Bangladesh, dan Bhutan. Di Asia Timur, ada negara-negara macam Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Taiwan, serta Hong Kong. Sedangkan Asia Tenggara, ada negara-negara yang sudah kita kenal sedemikian rupa macam Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, dan tentu saja negara kita sendiri, Indonesia.

Menilik negara di atas, setiap region di Asia memiliki budayanya masing-masing. Barat dengan budaya Arab, Tengah dengan budaya khas Soviet, Timur dengan etos kerja keras namun tak melupakan kesopanan, Selatan yang dipengaruhi besar oleh filosofi Hindu dan Buddha, serta Tenggara yang juga tak kalah beragamnya.

Bayangkan jika setiap budaya di atas bertemu, saling berkenalan, dan saling menyapa satu sama lain. Mengasyikkan, bukan? Nah, di ajang Piala Asia-lah, hal tersebut terjadi. Ketika mereka tak bisa bersua di Piala Dunia, Piala Asia menjadi ajang tempat setiap orang mengenal budaya masing-masing negara di Asia.

Pertemuan budaya inilah yang menjadikan Piala Asia menarik. Apalagi, sekarang ditambah Australia yang juga membawa budaya dan aura persaingan tersendiri. Meski begitu, bukan berarti ajang ini hanya jadi pertemuan budaya semata. Ada beberapa bintang yang juga lahir dan pernah merasakan sengitnya kompetisi ini.

Contohnya di Piala Asia 2015. Ada nama Omar Abdulrahman yang moncer bersama Timnas Uni Emirat Arab. Son Heung-min serta Ki Sung-yueng juga memperkenalkan diri mereka di ajang tersebut. Oh iya, jangan lupa juga nama Massimo Luongo yang mencuat bersama Australia di ajang ini.

So, apakah Piala Asia masih tidak menarik?

Piala Afrika, Meski Masih Klenik, Tapi Tetap Menarik

Klenik adalah sesuatu yang tidak bisa lepas dari sepak bola Afrika. Winfried Schaefer, mantan pelatih Timnas Kamerun, bahkan pernah terlibat dengan praktik klenik ini saat membawa Kamerun menjuarai Piala Afrika 2002 silam.

Bukan cuma itu, sebuah kejadian pada akhir 2016 silam, saat seorang pemain di Liga Rwanda membuang jimat yang ada di pinggir gawang, lalu ia dikejar-kejar oleh pemain lawan, sampai akhirnya bisa mencetak gol indah, mencerminkan bahwa klenik memang masih ada. Tidak cuma di Indonesia, tapi juga di Afrika sana.

Praktik klenik ini memang jadi sebuah hal yang memalukan, karena dianggap membuat sepak bola Afrika jalan di tempat. Meski begitu, praktik ini ternyata menjadi ciri khas tersendiri dari sepak bola Afrika. Di tengah budaya Afrika yang tidak seragam Asia (hanya Afrika Utara dan Selatan saja yang berbeda), klenik hadir sebagai sebuah cerita tersendiri.

Faktanya, meski ada klenik, kompetisi ini tetap menarik. Di tengah-tengah penyelenggaraannya yang acap berbenturan dengan jadwal kompetisi Eropa, Piala Afrika tetap mampu menarik perhatian para pemain Afrika berkompetisi di dalamnya. Para pemain macam Samuel Eto’o, Didier Drogba, atau Pierre-Emerick Aubameyang, lebih memilih main di Piala Afrika.

Hal inilah yang membuat Piala Afrika kerap dianggap sebagai perongrong jalannya kompetisi Eropa. Ia selayak praktik “voodoo”, yang mencuri para pemain bintang dari klub Eropa, seolah menarik mereka untuk main di Timnas-nya masing-masing di ajang Piala Afrika.

Namun, lebih dari itu, hal ini menunjukkan bahwa Piala Afrika tetap menarik. Ada semacam gengsi yang dipertaruhkan di sana, gengsi untuk menunjukkan diri sebagai yang terbaik. Gengsi untuk mengangkat pamor negara sendiri di daerah yang kerap dilanda konflik.

***

Melihat gemerlap kompetisi sepakbola sekarang ini, mungkin akan sulit bagi Piala Asia dan Piala Afrika mengalahkan pamor kompetisi Piala Eropa, Copa America, maupun Piala Dunia. Dari segi publikasi, Piala Asia dan Afrika tidak dipublikasikan sedemikian rupa.

Walau tampak tidak adil, tapi itu tidaklah apa-apa. Tidak apa-apa tidak mendapat publikasi, tidak apa-apa tidak terlalu mendapatkan sorotan. Karena, pada dasarnya, Piala Asia dan Afrika memang kompetisi antar Negara Dunia Ketiga. Kompetisi yang menjadi pesta lokal bagi warga Asia dan Afrika, menunjukkan juga bahwa sepakbola, sampai sekarang, masih jadi milik semua.

Loading...