Qatar dan Investasi Negara Timur-Tengah di Sepakbola

Qatar dan negara-negara Timur Tengah saling bersaing satu sama lain. Politik sudah pasti, sampai ke arena ajang balap merekapun tak mau dilewati. Saat investasi di klub sepakbola kian populer, Qatar dan negara-negara Timur Tengah juga tak mau ketinggalan.

Membangkitkan Tim Medioker

Awalnya, Uni Emirat Arab berinisiatif membeli Manchester City pada 1 September 2008. Sebelumnya, City dimiliki oleh mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra.

Thaksin mudah melepas City yang ditaksir 200 juta paun oleh Abu Dhabi United Group Investment and Development Limited (ADUG). Sementara Thaksin, membeli City seharga 30 juta paun saja.

Akuisisi ini membuat suporter City bergairah. Karena bertepatan dengan deadline day, mereka berharap ada transfer besar yang terjadi. Rumor mengarah pada Dimitar Berbatov. Namun, yang ternyata hadir adalah bintang Brasil dari Real Madrid, Robinho.

Kehadiran ADUG membawa perubahan besar buat City. Mereka membeli banyak pemain mahal dan memperbaiki kualitas tim dari timur Manchester itu. Momentumnya hadir pada 2011 saat City menjuara Piala FA pertama sejak 42 tahun lalu.

Momentum ini nyatanya tidak cuma buat City, tapi juga buat klub di ibukota Prancis; Paris Saint-Germain.

Setelah berjuang bertahun-tahun karena kesalahan pengelolaan, PSG menemukan titik terang. Qatar Sports Investment (QSI) membeli klub pada 2011. Sama seperti City, PSG dirombak ulang dengan tujuan mendulang banyak piala.

Dengan kucuran dana dari QSI, PSG memperbaiki skuad dengan mendatangkan Blaise Mautidi, Salvatore Sirigu, Maxwell, Kevin Gameiro, Javier Pastore, Thiago Silva, sampai Zlatan Ibrahimovic. Semusim kemudian, mereka meraih gelar juara Ligue 1 yang pertama dalam 19 tahun. Setelahnya, dominasi PSG di Prancis tidak tertahankan: 10 gelar dalam 13 musim.

Meraih Keuntungan dengan Uang Sendiri

Kita tahu kalau UEFA menerapkan Financial Fair Play dengan tujuan agar klub sepakbola dikelola secara sehat. Klub tidak boleh merugi dalam batas tertentu.

Cara utama agar klub tidak rugi adalah angka pendapatan harus lebih besar dari pengeluaran. Di sisi lain, hibah dari pemilik klub tidak dianggap sebagai pendapatan. Oleh karena itu, masih ada cara lain: uang hibah diputar seolah-olah uang pemasukan.

Banyak cara yang bisa dilakukan, termasuk yang dilakukan PSG dan Manchester City. Mereka memasang perusahaan BUMN sebagai sponsor jersey. PSG dengan Qatar Airways dan Manchester City dengan Etihad Airways.

Sementara itu, baik ADUG maupun QSI sama-sama perusahaan milik negara. Artinya, kalau keduanya butuh uang, pemerintah tinggal menyuruh BUMN lain untuk “menyumbang”.

Sejauh ini, cara yang dilakukan keduanya bisa dibilang berhasil dan juga efektif.

Diikuti Arab Saudi

Apa yang dilakukan Qatar dan UEA juga diikuti oleh Arab Saudi. Sebagai “pemimpin” Timur Tengah, wajar kalau Saudi langsung mencari tim yang berbeda. Saudi dirumorkan membeli salah satu klub terbesar di dunia, Manchester United.

Akan tetapi, Arab Saudi nyatanya membeli Newcastle United. The Magpies sendiri tengah mengalami krisis dalam manajemen mereka. Sejak 2008, para penggemar memprotes kepemilikan Mike Ashley. Berkali-kali pula Ashley mengumumkan kalau Newcastle dijual. Namun, tak ada yang bisa membelinya.

Sampai akhirnya pada April 2010 ada rumor kalau Public Investment Fund dari Arab Saudi tertarik membeli The Magpies. Sempat terjadi perdebatan, terutama karena ini dianggap sebagai cara Saudi melakukan sportwashing atas banyak isu yang menimpa mereka.

Isu terbesarnya adalah pelarangan tayangan beIN Sports. Padahal, beIN adalah saluran resmi Premier League itu sendiri. Ada kabar kalau Saudi bahkan mendukung siaran beoutQ, layanan siaran Premier League bajakan. Karena banyaknya persoalan, Saudi memilih mundur pada 30 Juli 2020 dari akuisisi Newcastle. Akan tetapi hal ini justru menimbulkan kekecewaan dari para penggemar Newcastle.

Tiba-tiba saja, pada 7 Oktober, PIF menyelesaikan akuisisi Newcastle. Dalam investigasinya, The Guardian menulis kalau ada peran Pemerintah Inggris, dalam hal ini Boris Johnson. Soalnya, Boris mendapat pesan singkat dari Pangeran Salman kalau keputusan Premier League yang menyulitkan PFI akan memengaruhi hubungan Inggris dengan Saudi.

Keuntungan Secara Ekonomi

Negara-Negara Teluk mengandalkan minyak sebagai pemasukan utama mereka. Namun, minyak tidak bertahan selamanya. Untuk itu, selagi kaya, mereka mencari cara untuk bagaimana bisa hidup di era “setelah minyak”.

Salah satu caranya dengan mengincar pasar penggemar sepakbola Eropa. Hal ini terlihat dalam berkembangnya sektor penerbangan dan juga turisme.

Uni Emirat Arab punya dua perusahaan penerbangan sekaligus, Etihad dan juga Emirates. Keduanya menempel di jersey dua klub top Eropa. Etihad bahkan sekaligus menjadi nama stadion Arsenal.

Negara yang memiliki klub seperti Qatar, UEA, dan Saudi, berpeluang mendatangkan tim mereka berlatih di negara tersebut. Hal ini memberikan peluang sekaligus promosi turisme kepada dunia.

Sportswashing

Sportswashing merupakan alasan paling dibenci oleh negara-negara teluk. Soalnya, mereka menganggap kalau apa yang mereka lakukan, dengan berinvestasi di sepakbola, cuma tameng. Ada masalah besar yang mau mereka tutupi lewat investasi tersebut.

Dalam akuisisi Newcastle misalnya, di mana penolakan hadir di mana-mana. Soalnya, Saudi kental dengan pelanggaran HAM. Pun saat Piala Dunia 2022 digelar di Qatar, gelombang protes juga terdengar karena perlakuan Qatar terhadap para pekerja migran.

Meski demikian, ada pengaruh baik dalam hal sosial. Sejak Mohamed Salah bergabung dengan Liverpool pada 2017, angka Islamophobia dan kasus kebencian pada Islam, menurun drastis di Liverpool.

Di Newcastle, para penggemar mengibarkan bendera Saudi. Mereka senang betul karena Pangeran Salman adalah pemilik klub bola dengan kekayaan terbesar di dunia.

Hal serupa dirasakan penggemar Man City dan Qatar. Di bawah kekuatan uang Arab, mereka mendominasi liganya masing-masing. City bahkan menjadi tim pertama di Premier League yang menjuarai liga empat kali beruntun!

Saat perayaan Dubai Globe Soccer Awards, sejumlah pesepakbola top macam Robert Lewandowski, Kylian Mbappe, sampai Cristiano Ronaldo, semuanya mengunggah foto Burj Khalifa. Mereka juga mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Dubai.

Masa Depan Negara-Negara Teluk di Sepakbola Eropa

Selama uang dari minyak masih ada, Negara-Negara Teluk bukan tidak mungkin akan terus berekspansi dalam berinvestasi di klub sepakbola Eropa. Saudi berencana membeli Chelsea, Qatar juga ingin mengakuisisi Manchester United.

Apa yang dilakukan Qatar dan UEA tentu membuat iri Saudi. Mereka telah memberikan standar tinggi bagi tim yang diakuisisi. Sementara Saudi juga harus melakukan banyak hal. Kalau melihat City, mereka tidak melakukannya dengan instan; bahkan mesti berinvestasi di bidang lain seperti tempat latihan.

Kalau tujuan utama akuisisi ini untuk sportswashing, Saudi mesti melakukan cara yang lebih menggelegar, agar publik bisa melupakan apa yang mereka lakukan terhadap, Jamal Khashoggi, misalnya.

Sumber: Atlantic Council.

 

 

a