Cara Inggris Hadapi Serangan Rasial di Pertandingan Internasional

Tammy Abraham menyatakan timnas Inggris akan meninggalkan lapangan kalau mereka menjadi target serangan rasial kala di kualifikasi Piala Eropa 2020 pekan ini. Inggris akan menghadapi Republik Ceko pada Jumat (11/10) mendatang, lalu menghadapi Bulgaria tiga hari kemudian.

“Kalau itu terjadi ke salah satu dari kami, itu juga berdampak pada kami semua. Harry Kane bahkan bilang kalau kami tak senang, kalau seorang pemain tak senang, kami akan keluar dari lapangan bersama-sama.”

Apa yang akan dilakukan oleh timnas Inggris bukannya tanpa alasan. Pasalnya, mereka kerap mendapatkan serangan rasial ketika tandang ke Eropa Timur. Laga melawan Bulgaria bahkan akan digelar tanpa penonton. Alasannya? Karena suporter Bulgaria melakukan pelecehan rasial di babak kualifikasi Piala Eropa 2020 saat menghadapi Republik Ceko dan Kosovo pada Juni lalu. Agustus lalu, kesebelasan Bulgaria, PFC Levski Sofia dan PFC Lokomotiv Plovdiv juga dihukum UEFA karena suporter mereka melakukan serangan rasial ke pertandingan Europa League.

Pelatih Inggris, Gareth Southgate, menyatakan bulan lalu kalau ia akan bicara kepada para pemain sebelum pertandingan ini. Abraham bilang kalau para pemain memutuskan mereka akan mengambil tindakan yang diperlukan.

UEFA sendiri memiliki protokol tiga-langkah untuk serangan rasial. Langkah yang terakhir adalah menghentikan pertandingan andai pengumuman dari panitia penyelenggara di dalam stadium tak menghentikan masalah.

“Kami juga bicara soal itu [protokol]. Harry Kane juga menanyakan pertanyaan tentang, alih-alih melewati tiga langkah protokol itu, kalau kami memutuskan bahwa kami ingin menghentikan pertandingan, tak peduli berapapun skornya, kalau kami tak senang dengannya, kami sebagai tim akan memutuskan apakah akan tetap atau tidak di lapangan.”

“Jika itu terjadi dan katakanlah ada peringatan atau apa pun di stadion, lalu itu terjadi lagi, kami harus membuat keputusan sebagai tim dan dengan staf.”

Bek Liverpool, Trent Alexander-Arnold, setuju kalau tim harus tetap mengikuti protokol. Namun, “Kalau itu terjadi secara ekstrem, kami harus melakukan aksi yang berbeda.”

“Ini keputusan tim, keputusan yang harus kami semua buat. Tak peduli kalau cuma satu pemain yang dilecehkan atau tim, kami adalah satu kesatuan. Tidak seorang pun boleh dibuat merasa tidak nyaman di lapangan. Setiap orang mesti diberi kesempatan untuk bermain di lingkungan yang adil. Kami adalah tim. Kalau satu orang dilecehkan, maka kami semua juga, kami adalah satu keluarga besar.”

Namun, hal ini mendapatkan sorotan dari bek Aston Villa, Tyrone Mings. Menurutnya, Inggris juga harus bekerja keras untuk memberantas rasisme di tanahnya sendiri. Apa yang diucapkan Mings bukannya tanpa alasan. Ketika Villa menang 5-1 atas Norwich pada Sabtu lalu, ada kejadian kurang mengenakan di mana dua pemain Villa ditargetkan pada serangan rasis.

“Ini memperlihatkan fakta kalau negara kita sendiri tak sempurna. Fakta kalau kita membicarakan tentang rasisme di negara luar negeri, di negara Eropa lainnya yang belum tentu beragam adalah hal lain, tapi ada masalah yang terjadi juga di negara ini, yang jauh dari kata ideal,” kata Mings.

“Keduanya adalah isu yang orang tak akan pernah bosan membicarakannya. Kalau itu terjadi, mereka harus dibawa ke cahaya terang. Kita harus mengatasinya, kita harus melakukannya dengan benar. Ada langkah besar untuk mencoba memberantas rasisme dari sepakbola. Ini masalah masyarakat.”

https://www.instagram.com/p/B3ZLZrDBei2/