OUR NETWORK

Gelandang Manchester City, Kekuatan Sekaligus Kelemahan Pep Guardiola

Manchester City harus menelan pil pahit usai disingkirkan Tottenham Hotspurs di babak Perempat Final Liga Champions, bagaimana bisa sebuah kesebelasan dengan permainan atraktif dan menyerang bisa tersingkir di ajang bergengsi se antero Eropa tersebut?

Manchester City harus mengubur mimpinya (lagi) untuk bisa menyapu bersih semua gelar. The Citizens harus menerima disingkirkan di perempatfinal Liga Champions (lagi). Musim lalu mereka disingkirkan Liverpool dan kali ini City disingkirkan Tottenham Hotspur dengan agregat 4-4. City tersingkir karena kalah agresifitas gol tandang, karena pada pertemuan pertama Spurs menang 1-0 dan kalah 3-4 di pertemuan kedua.

Semua sorotan tertuju kepada Pep Guardiola, meskipun telah memberikan gelar bergengsi seperti Liga Inggris, juara Piala Liga, dan Community Shield. Namun, dengan dana belanja yang melimpah dan bentuk permainan yang attraktif, seolah masih belum cukup untuk membawa Manchester City meraih semua gelar juara atau setidaknya meraih Treble Winners seperti rival sekota mereka, Manchester United.

Lalu apa masalah Manchester City atau lebih terkhusus kepada Pep Guardiola hingga mereka gagal di ajang Liga Champions?

Peran Gelandang, Kekuatan Sekaligus Kryptonite Pep Guardiola

Manchester City punya segalanya, kiper yang bukan hanya diberkahi refleks yang cepat namun juga kemampuan untuk memainkan bola dengan kaki sekaligus membangun serangan. Lini belakang pun serupa, tangguh dalam bertahan dan cepat dalam menyusun serangan. Di lini depan City punya Aguero yang merupakan salah satu stiker tertajam di dunia, pun degan Gabriel Jesus yang punya ketajaman yang tak perlu diragukan. Namun kekuatan sekaligus kelemahan Manchester City terletak pada sektor gelandang.

Pep memainkan sepakbola yang mengambil inisiatif sekaligus menekankan penguasaan bola sebagai kiblatnya. Gelandang City dituntut memiliki kemampuan mengolah bola, mempertahankan penguasaan bola sekaligus memberikan umpan dengan akurasi yang mendekati sempurna. Semua untuk membangun sepakbola yang bukan hanya menang, namun juga mempertontonkan kemampuan atraktif, dan inilah bumerang bagi Pep Guardiola.

Bernardo Silva, David Silva, Ilkay Gundogan, dan Kevin De Bruyne merupakan pemain yang lebih bertipikal menyerang. Anomali bagi De Bruyne yang kerap melakukan track back ketika kehilangan bola. Namun untuk gelandang pekerja yang bertipikal bertahan, sulit mencari tipe tersebut dalam skuat Manchester City kecuali satu nama: Fernandinho.

Baca juga: Bulan Desember yang Tak Bersahabat dengan Manchester City

Gelandang asal Brasil ini merupakan satu-satunya gelandang bertahan yang dimiliki Manchester City. Apabila ia bermain dalam performa terbaik, tidak ada yang bisa melewatinya. Ia juga cukup vital dalam skema Pep dalam membangun serangan.

Inilah yang menjadi persoalan bagi Pep. Ia tidak memiliki deputi sepadan bagi Fernandinho di lini tengah. Apabila Fernandinho sedang dalam off form atau mengalami cedera, Pep berulang kali melakukan banyak percobaan dan bisa dikatakan gagal.

Menghadapi Crystal Palace misalnya. Pep memainkan John Stones sebagai gelandang jangkar. Hasilnya? City kalah 2-3 dari tim tamu. Di partai sebelumnya, Gundogan dimainkan sebagai gelandang jangkar menghadapi Leicester City di King Power. Hasilnya serupa. City kalah 1-2 atas Liecester.

Mundur setahun sebelumnya, Manchester City menjamu sang tetangga, Manchester United, di Etihad Stadium. City unggul dua gol di babak pertama melalui Kompany dan Gundogan. Namun ketika babak kedua berjalan, skenario berubah.

Manchester United secara mengejutkan berbalik unggul 2-3. Seperti yang ditulis oleh Jack Wilson, kolumnis Express, menyebut skema Mourinho saat itu jelas dengan meminta Pogba menekan sedini mungkin ketika Fernandinho menguasai bola.

Di babak pertama Pogba kesulitan menekan Fernandinho karena pergerakan Bernardo Silva kerap menyulitkannya. Mourinho tidak mengubah skemanya di babak kedua, Mou bahkan tidak membahas perubahan taktik dan hanya meminta para pemainnya menerapkan skema yang sama. Pogba berani lebih menekan Fernandinho, dan lebih mendapatkan ruang di daerah pertahanan City. Gol ketiga United yang dicetak oleh Smalling tidak lepas dari pelanggaran Danilo yang mendapatkan umpan tidak sempurna dari Fernandinho akibat ditekan oleh Pogba dan Lukaku.

Peran Penyerang Tunggal City

Selain Fernandinho, skema City yang mengandalkan satu penyerang murni tunggal kerap memberikan hasil kurang memuaskan. Karena City hanya bertumpu pada Aguero atau Gabriel Jesus untuk menggedor gawang lawan.

Tapi bukankah ada Sane, Mahrez, atau deretan gelandang haus gol lainnya? Benar, semua pemain City bisa mencetak gol. Namun ketika Aguero atau Jesus tidak dalam bentuk permainan terbaik, City selalu terlibat dalam kesulitan besar untuk menghasilkan gol. Leg pertama lawan Tottenham menjadi bukti.

Aguero yang gagal mengeksekusi penalti, bermain dalam off form. Pergerakan tanpa bolanya tidak tampak dan membuatnya diganti di babak kedua. Permainan buruk Aguero kemudian membuat para pemain City kesulitan mencetak angka.

Ini menunjukkan betapa beratnya beban Aguero dalam skema Pep yang bertumpu pada satu penyerang murni di lini depan. Dan Pep juga bukanlah sosok manajer yang bisa mengubah permainan di tengah babak dan menerapkan perubahan mikro seperti Rinus Michels atau Sir Alex.

Namun, mari mengamini apa yang diutarakan Jonathan Wilson. Tidak adil rasanya menilai kegagalan Pep di Liga Champions sebagai kegagalan mutlak dalam kariernya. Pep Guardiola tetaplah manajer jenius dengan segudang cara untuk bermain atraktif untuk meraih kemenangan. Ia juga merupakan manajer dengan disiplin yang sangat tinggi.

Kegagalan Pep di Liga Champions tidak perlu disesali. Toh di ajang ini keberuntungan memang selalu berperan penting untuk meraih gelar juara. Bahkan musim lalu bisa menjadi contoh ketika Real Madrid menjadi juara sangat terbantu dengan blunder Karius di final dan Ulreich di babak semifinal.