OUR NETWORK

Kesalahan Shinji Okazaki Pergi dari Leicester City

Penyerang veteran Jepang, Okazaki Shinji (33) dipastikan akan pergi meninggalkan King Power Stadium di musim panas 2019. Membela the Foxes selama empat tahun, Okazaki merupakan salah satu bagian dari tim legendaris Leicester City yang menjuarai Premier League 2015/2016. Mencetak 14 gol dari 114 penampilan, Okazaki merasa dirinya butuh petualangan baru.

“Dia ingin membuktikan bahwa dirinya masih layak menjadi penyerang. Oleh karena itu Okazaki meminta untuk dilepas,” kata Manajer Leicester Brendan Rodgers menjelaskan keputusan Okazaki. “Dia adalah pemain yang luar biasa dan loyal kepada tim ini. Dengan usianya yang sudah 33 tahun, kami menghargai ambisinya untuk pergi,” lanjut Rodgers.

Walaupun peranan Okazaki tidak begitu menonjol seperti Ngolo Kante, Riyad Mahrez, atau Jamie Vardy di 2015/2016, ia tetap diakui sebagai legenda.

“Okazaki dan Danny Simpson adalah salah satu alasan mengapa kami bisa diakui sebagai salah satu kesebelasan terbaik di Premier League. Begitu juga dengan Mahrez, Vardy, dan Kante. Semoga mereka selalu mengingat hal itu,” kata Christian Fuchs.

Diboyong dari Mainz dengan dana sekitar 10 juta pauns, Okazaki adalah pemain Jepang kedua yang pernah dimiliki Leicester. Menyusul seniornya, Abe Yuki (2010-2012). Ketika Abe mendarat di King Power, Leicester masih bermain di divisi dua Inggris. Wajar apabila publik Jepang tidak terlalu mengenal Leicester.

Foto: Sky Sports

Tapi setelah Okazaki datang dan memberi kesuksesan pada the Foxes, Negeri Matahari Terbit mulai mengakui Leicester. “Waktu pertama saya datang, tidak ada warga Jepang yang mengenal klub ini. Tapi sekarang semua mengenalnya. Kita adalah juara Premier League, wakil Inggris di Liga Champions. Memori itu tidak akan saya lupakan,” ungkap Okazaki kepada Leicester City TV.

Abe juga memuji kontribusi juniornya selama di Leicester. “Kita bisa lihat sendiri bahwa ia tidak kehilangan apapun. Dia tetap seperti saat bermain di J.League ataupun 1.Bundesliga. Seorang pekerja keras di atas lapangan dan para suporter menyukai hal itu,” kata Abe.

Okazaki dirumorkan akan pergi ke Thailand untuk membela Buriram United. Dirinya tidak membantah hal itu. Tapi dia juga memiliki ambisi untuk tetap main di Eropa. “Saya kenal dengan pemilik klub [Buriram] karena koneksi di Leicester. Mungkin di masa depan saya akan ke Liga Thailand. Tapi saat ini saya masih ingin bermain di Eropa,” akunya.

Mengincar Posisi Penyerang

Foto: Metro

Masalahnya, Okazaki bersikeras bahwa dia masih layak menjadi seorang penyerang. “Saya adalah seorang penyerang. Sementara di Leicester saya dilihat sebagai seorang gelandang. Saya tidak melihat diri sendiri sebagai gelandang berkualitas. Oleh karena itulah saya pergi dari Leicester dan mencari klub baru yang mau memberi tempat di lini serang,” jelasnya.

Brendan Rodgers masih merasa Okazaki bisa memberikan kontribusi kepada tim. Tidak sebagai penyerang, tapi gelandang serang. Ia tampil 25 kali untuk Leicester sepanjang 2018/2019. Menjadi gelandang pilihan utama di Piala Liga dan FA.

“Saat Anda main sebagai seorang penyerang, gol adalah harga mati. Sedangkan Okazaki adalah seorang pemain pintar yang bisa menekan pertahanan lawan dari lini kedua. Dia pas untuk berada di belakang Vardy dan menjadi penghubung lini tengah dan depan,” kata Rodgers.

Hal serupa juga diutarakan oleh Abe. “Penyerang lain mungkin dinilai dengan mencetak gol. Tapi tidak dengan Okazaki. Penampilannya selalu konsisten dan memberi kontribusi dalam terciptanya peluang. Itu adalah senjata utamanya”.

Menatap Piala Dunia 2022

Foto: FC RedBull Salzburg

Memaksakan diri untuk tetap menjadi penyerang dan dinilai lewat gol sama saja melepas senjata. Padahal menurut laporan Leicester Mercury, Okazaki masih mengincar tempat di Piala Dunia 2022. Bermain di level tertinggi adalah salah satu cara untuk menembus tim nasional. Apapun posisinya.

Okazaki seharusnya bisa belajar dari pengalamannya di Jerman. Saat ia masih membela Mainz, ada nama Alexander Meier sebagai salah satu pemain terbaik 1.Bundesliga. Meier aslinya berposisi sebagai penyerang. Tapi ia mendapatkan status ‘Dewa Sepakbola’ setelah mengisi pos gelandang serang seperti Okazaki di Leicester City.

Melihat skuad Jepang di Kirin Challenge Cup 2019, posisi penyerang memang jadi target paling empuk. Moriyasu Hajime selaku nakhoda Samurai Biru hanya memiliki dua nama di lini depan: Suzuki Mushashi dan Daichi Kamada.

Tapi bukan berarti Okazaki bisa dengan mudah masuk ke dalam tim nasional sebagai penyerang. Sekalipun bermain sebagai juru gedor di klub, tidak ada jaminan baginya mendapatkan tempat yang sama saat membela tim nasional.

Buktinya, Minamino Takumi yang merupakan penyerang andalan RedBull Salzburg diubah menjadi gelandang serang di tim nasional. Padahal Minamimo sudah membuktikan bahwa dirinya adalah salah satu penyerang terbaik di Liga Austria. Memenangkan sembilan piala domestik, termasuk lima gelar liga secara beruntun.

Okazaki masih punya segala atribut untuk sukses di luar Leicester. Tapi selama ia masih dibutakan ambisi menjadi penyerang, mungkin Piala Dunia 2022 hanyalah sekedar mimpi.