Trippier Punya Segalanya untuk Sukses di Atletico Madrid

Foto: Standard.co.uk

Kieran Trippier resmi menjadi pemain Inggris pertama yang didaratkan Atletico Madrid sejak 1923/1924. Mundo Deportivo mencatat bahwa sebelum Trippier, ada pemain asal Inggris lainnya yang membela Rojiblancos, bernama Drinkwater. Namun tidak banyak hal yang diketahui tentang Drinkwater selain dirinya mencetak 10 gol dalam tiga pertandingan.

Trippier dikontrak Atletico Madrid hingga 2022 setelah pihak klub mengirimkan dana 22 juta Euro kepada Tottenham Hotspur. “Saya selalu memiliki ambisi untuk bermain di luar Inggris dan bergabung dengan Atleti merupakan sesuatu yang luar biasa. Atleti adalah kesebelasan yang fantastis dan juga ditangani oleh pelatih kelas dunia [Diego Simeone]. Saya tak sabar untuk belajar dari dia dan membantu Atleti meraih kesuksesan,” ungkap Trippier.

Bek kelahiran 19 September 1990 mengikuti mode yang dibentuk pemain-pemain muda Inggris untuk merantau ke luar negeri. Pemain-pemain seperti Jadon Sancho (Borussia Dortmund), Ronaldo Vieira (Sampdoria), dan Reo Griffiths (Olympique Lyon). Khusus di Spanyol, Trippier menyusul Marcus McGuane dan Louie Barry yang sudah lebih dulu merasakan atmosfer sepakbola Negeri Matador dengan membela tim muda Barcelona.

Kepergian Trippier dari Tottenham sebenarnya sudah sering dibicarakan sejak musim 2018/2019 berakhir. Pasalnya, setelah membela Inggris di Piala Dunia 2018, performa Trippier bersama Tottenham menurun. Namun, salah satu pahlawan the Three Lions di Russia itu tetap berhasil memikat mata kesebelasan ternama Eropa.

“Trippier sendiri mengakui bahwa performanya menurun setelah Piala Dunia 2018. Rumor tentang masa depannya tidak bisa dihindari lagi. Namun, lihat klub yang meminati jasanya; Juventus, Napoli, dan Atletico Madrid, itu bukan klub sembarangan,” ungkap Michael Bridge dari Sky Sports.

“Lagipula, jika dicermati secara statistik, angkanya tidak turun drastis. Jadi ini merupakan hal yang bagus. Atletico Madrid mendapatkan pemain berkualitas dan Trippier membuka lembaran baru dengan suasana yang lebih segar bagi dirinya,” tambah rekan sepekerjaan Bridge, Anton Toloui.

Kualitas Trippier tidak perlu diragukan lagi. Ia adalah bintang tim nasional Inggris ketika bertemu Kroasia di semi-final Piala Dunia 2018. Sudah menggunakan seragam kebanggan negaranya sejak masuk ke tim U18 dan hingga 19 Juli 2018, dirinya tercatat memiliki 16 penampilan bersama the Three Lions. Melihat daftar kesebelasan yang meminati jasanya di tengah ‘musim buruk’, jelas Trippier pemain hebat.

Akan tetapi selama membela Tottenham, ia dikenal sebagai bek yang gemar menyerang. Sementara Diego Simeone terkenal dengan sistem permainan rapat. Memiliki pertahanan yang sulit ditebus serta serangan balik mematikan.

Perbedaan gaya ini membuat Trippier diragukan bisa sukses di Ibu kota Spanyol. Jaydee Dyer dari Sky Sports merasa demikian. Mantan penjaga gawang West Ham United, Shaka Hislop, juga mengatakan hal serupa di ESPN FC. Penampilannya selama empat tahun di Tottenham seakan membuat mereka lupa bahwa Trippier juga bersinar selama membela Burnley.

Murid Sean Dyche

Foto: Standard

Trippier pertama bergabung dengan Burnley pada 2011 sebagai pemain pinjaman dari Manchester City. Setahun kemudian, the Clarets mempermanenkan jasanya di Turf Moor. Selama mengenakan seragam Burnley, Trippier merasakan dua era berbeda. Pertama ia diasuh Eddie Howe (2011-2013), kemudian Sean Dyche datang (2013-2015).

Dyche merupakan sosok yang paling berpengaruh terhadap posisi Trippier saat ini. Dirinya yang membuat Tottenham meminati jasa ‘the Bury Beckham’. Dirinya juga yang membuat Tripper lepas dari ketergantungan pada alkohol. Meningkatkan permainan Trippier secara keseluruhan.

“Eddie [Howe] memberikan saya kepercayaan. Dialah yang membentuk saya menjadi bek dengan mental menyerang. Tapi Dyche adalah sosok yang mengembangkan permainan saya. Ia membuat saya jadi lebih peduli dan lebih baik lagi untuk bertahan,” kata Trippier.

Dyche bahkan sudah yakin bahwa Trippier akan menjadi pemain tim nasional Inggris saat Burnley masih main di divisi dua. “Saya sudah mengatakan hal itu sejak di Championship. Saya rasa dia sudah menjadi pemain yang lebih baik. Memiliki pemahaman dalam bertahan dan menjadi bagian penting bagi tim kami,” aku Dyche.

“Saya sangat senang ketika ia pindah ke Tottenham. Dia bisa naik naik ke level berikutnya. Trippier krusial bagi kami. Dia juga krusial bagi Tottenham. Saya yakin ia akan punya peran yang sama di tim nasional,” lanjutnya.

Dyche dan Simeone memiliki karakteristik yang serupa. Meski nasib Burnley dan Atletico Madrid terlihat jauh berbeda. Tapi prinsip mereka sama, lebih mementingkan hati daripada kemampuan teknis.

Lebih Baik dari Santiago Arias

Kehadiran Antoine Griezmann, Saul Niguez, Rodri, dan lain-lain mungkin sedikit membuat karakter itu samar. Pasalnya, mereka dibekali kemampuan teknis yang tinggi dan hal itu memanjakan mata. Padahal, kunci Simeone tetap determinasi. Sama seperti Dyche.

JJ Bull dari Telegraph bahkan pernah mengatakan bahwa Dyche adalah Simeone versi Inggris. Jika Trippier bisa sukses bersama Dyche, tidak ada alasan baginya untuk gagal ketika diasuh Simeone. Walaupun ada Santiago Arias yang akan menjadi pesaingnya di posisi bek kanan, Trippier mungkin akan langsung menjadi pilihan utama Simeone.

Sekalipun Arias merupakan opsi teratas Simeone pada 2018/2019, dari 25 penampilannya di La Liga, ia hanya 16 kali bermain penuh selama 90 menit. Arias mungkin masih dalam proses belajar untuk masuk ke dalam sistem Simeone.

Pasalnya, ketika ia membela PSV Eindhoven, Arias lebih aktif membantu serangan. Gaya permainan Eredivisie yang seperti tidak peduli terhadap pertahanan membantu dirinya bersinar. Hal itu tidak bisa terjadi di Atletico Madrid.

Sementara Trippier sudah mempelajarinya selama diasuh Sean Dyche. Dirinya juga sudah memiliki pengalaman untuk tampil di kompetisi tertinggi Eropa ataupun dunia. Bermain di Liga Champions bersama Tottenham. Membela Inggris di Piala Dunia. Ia punya segalanya untuk sukses di Atletico Madrid!