OUR NETWORK

Wonderkid Salah Langkah, Adam Maher

Berhasil menembus Liga Europa 2019/2020, AZ Alkmaar membuat keputusan mengejutkan dengan melepas salah satu gelandang andalan mereka, Adam Maher. Jebolan akademi AZ ini diselematkan oleh pihak klub setelah dilepas Twente pada musim panas 2018. Menjadi bagian penting dalam tim John van den Brom, Maher seperti memulai kembali kariernya di usia 25 tahun.

Terlibat dalam lima gol dari 25 pertandingan Eredivisie sepanjang 2018/2019. Maher ikut membantu AZ Alkmaar mengamankan tiket Liga Europa. Peran Maher memang tak begitu krusial jika dibandingkan Guus Til dan Teun Koopmeiners di lini tengah AZ. Tapi setidaknya ia memberi keseimbangan untuk lini tengah the Cheeseheads ketika dua pemain tersebut aktif membantu serangan.

Tapi nyatanya, AZ tidak memperpanjang kontrak Maher. “Awalnya kami ingin Maher tetap di sini. Pada akhirnya kami memutuskan bahwa hal itu tidak bisa terjadi,” ungkap Direktur Olahraga AZ Alkmaar Max Huiberts.

Menurut laporan yang beredar, AZ ingin membangun skuad baru untuk 2018/2019. Maher tidak masuk dalam rancangan itu. Maher pun disebut kesal dengan keputusan manajemen AZ yang mengumumkan kepergiannya secara cuma-cuma.

Pengakuan Cruyff

Lahir di Ait Izzou, Maroko, Maher adalah salah satu pemain terbaik yang pernah diciptakan akademi AZ. Sebelum Maher muncul pada 2011, akademi AZ mengalami paceklik talenta. Angkatan Stefano Lilipaly adalah produk terbaik AZ Alkmaar sebelum Maher. Mengorbitkan Kolbeinn Sigthórsson, Johann Berg Gudmundsson, dan Luciano Narsingh ke tim utama.

AZ Alkmaar perlu menunggu tiga tahun untuk menunggu talenta terbaik mereka lagi. Dari 10 talenta yang dicoba ke tim utama, Maher adalah satu-satunya pemain yang berhasil. Ia bahkan diperebutkan berbagai kesebelasan eropa setelah dua musim jadi pilihan utama.

Saat pemain-pemain lain dibuang ke Telstar atau Ross County, Maher diincar Manchester City, Arsenal, Tottenham, Chelsea, dan FC Barcelona. Dirinya adalah seorang wonderkid dan potensi itu sudah tercium sejak dirinya masih anak-anak.

“Saya mendapat kesempatan masuk Ajax tiga kali. Tapi selalu gagal. Untungnya hal itu tak membuat saya menyerah,” tutur Maher. Membela AZ Alkmaar dan menjuarai KNVB beker, talenta Maher akhirnya diakui oleh sepuh Ajax, Johan Cruyff. “Ia layak dinobatkan sebagai pemain muda terbaik,” aku Cruyff.

Pujian bukan hanya datang dari Cruyff. Mantan pemain tim nasional Belanda yang pernah menjuarai Piala UEFA bersama Feyenoord, Pierre van Hooijdonk, juga memuji Maher. “Dia jelas pemain terbaik di Eredivisie apabila melihat kemampuan teknisnya. Jujur, saya pernah melihat dirinya bermain seperti Andre Iniesta,” kata mantan pemain Nottingham Forest itu.

Memilih PSV Ketimbang Arsenal

Foto: Sportnieuws

“Saya tahu Maher bisa menerima pujian dan tidak lupa diri. Ia memiliki karakter seperti itu. Bagi saya, dirinya sangat mirip dengan Cesc Fabregas,” tambah asisten pelatih AZ Martin Haar.

Nakhoda AZ Alkmaar saat itu, Gertjan Verbeek, mengusulkan Maher ke Arsenal. “Ia dapat berkembang jadi pemain besar seperti Robin van Persie di bawah asuhan Arsene Wenger,” jelas Verbeek.

Arsenal akan menjadi tempat yang tepat mengingat Haar membandingkan Maher dengan Fabregas. Namun, Maher yang baru mendapat panggilan dari tim nasional Belanda lebih memilih PSV Eindhoven sebagai pelabuhan berikutnya.

Karier Maher di PSV sebenarnya tidak buruk. Diasuh Ronald Koeman dan Phillip Cocu, ia berhasil jadi pilihan utama di PSV. Tampil lebih dari 50 kali pada dua musim pertamanya. Maher bahkan mendapat izin untuk menggunakan nomor punggung enam yang dilepas Mark van Bommel. “Menurut Mark, ia layak menggunakan nomor itu,” kata Direktur Teknis PSV Marcel Brands.

Sial bagi Maher, ia tersingkir di musim ketiganya. Pada Eredivisie 2015/2016, Cocu lebih suka melihat Davy Propper dan Gaston Pereiro di lini tengah melengkapi Andres Guardado. Propper baru dibeli dari Vitesse. Sementara Pereiro diimpor dari klub Uruguay, Nacional.

Korban Regenerasi Eredivisie

Foto: Sportnieuws

Semusim kemudian, Maher resmi kehilangan tempat di PSV. Dipinjamkan ke klub Turki, Osmanlispor sebelum dilepas PSV secara cuma-cuma di Januari 2018. “Sejauh ini, karier terbaik saya ada di AZ Alkmaar,” aku Maher usai menandatangani kontrak dengan Twente.

Padahal bersama PSV dirinya memenangkan lima piala, termasuk dua gelar Eredivie secara beruntun. Tapi AZ masih menjadi tempat terbaiknya.

Mungkin jika dirinya memilih Arsenal dan mengikuti saran Verbeek, jalan cerita karier Maher akan berbeda. Sejarah mengajarkan bahwa pemain-pemain Belanda akan punya karier yang lebih stabil jika merantau di usia muda.

Terlalu lama bermain di Eredivisie bisa membuat talenta mereka tertutup oleh pemain-pemain baru yang lebih muda. Maher adalah salah satu korban dari hal itu. Saat di PSV, tempatnya diambil Propper dan Jorrit Hendrix. Ketika ia jadi pilihan utama, publik justru tergila-gila oleh Memphis Depay. Maher dilupakan.

Kembali ke AZ Alkmaar, juga sama. Sekalipun sering tampil dan berperan penting untuk menjaga keseimbangan tim, Maher bukanlah prioritas AZ. Tidak seperti Guus Til, Calvin Stengs, ataupun Teun Koopmeiners.

Pemain kelahiran 20 Juli 1993 itu kini dikaitkan dengan Glasgow Celtic hingga Blackburn Rovers. Ia mungkin sudah tidak muda lagi, tapi bukan berarti kariernya habis. Mungkin saja Maher seperti Carlos Bacca, Dado Prso, atau Marco Matterazzi yang merasakan masa-masa terbaik di usia senja. Peluang itu masih ada selama dirinya tidak salah langkah (lagi).