OUR NETWORK

Apa itu Sweeper-Keeper?

Pos penjaga gawang di sepakbola modern seperti saat ini menuntut banyak hal. Ia bukan cuma dipaksa tangguh menghalau serangan lawan, tapi juga diandalkan ketika tim melakukan build up dari bawah.

Tidak semua kiper bisa melakukan tugas tambahan macam ini. Namun, ada beberapa kiper yang terlihat begitu proaktif dalam permainan. Yang paling terkenal adalah Manuel Neuer yang dianggap memegang peran sebagai sweeper-keeper. Apa maksudnya sweeper-keeper?

Sejarah Sweeper-Keeper

Kiper bisa dibedakan dari gaya bermain mereka: ada yang selalu keluar dari sarangnya untuk menutup arah tembakan atau menghalau bola, tapi tidak sedikit yang memilih dekat dengan gawang. Namun, tujuannya tetap sama: menjaga gawangnya tak kebobolan.

Berdasarkan Sportskeeda, sweeper-keeper yang pertama bisa dilacak hingga 1800-an. Ia adalah Leigh Richmond Roose yang menjadi sweeper-keeper pertama di dunia. Ia bermain buat Everton Stoke City, dan Sunderland, dalam karier sepakbolanya.

Cara kerja Roose adalah dengan memaksimalkan aturan FA yang menyatakan bahwa kiper boleh memegang bola dengan tangan di areanya sendiri. Asalkan, bola tersebut tidak dibawa selamanya. Ini yang membuat Roose seringkali memegang bola dan memainkannya seperti bola basket, dengan memantulkannya, sampai area lapangan tengah, sebelum melakukan serangan.

Akan tetapi, pada 1912, aturan ini diubah. Kiper hanya boleh memegang bola di area kotak penalti. Namun, saat itu, Roose sudah pensiun dari sepakbola.

Penerus Roose adalah Lev Yashin dan Gyula Grosics. Keduanya punya kontrol bola yang bagus dengan kakinya. Yashin pun dikenal dengan lemparan jauhnya yang biasa dilakukan untuk melancarkan serangan balik.

Definisi Sweeper-keeper?

Lantas apa itu sweeper-keeper?

Masih menurut Sportskeeda, dalam bahasa sederhana, sweeper-keeper berarti seorang penjaga gawang yang mendorong dirinya sendiri ke depan, dan punya jarak yang dekat dengan garis pertahanan terakhir.

Pos ini adalah sesuatu yang diidamkan dalam taktik Total Football ala Johan Cruyff. Ia ingin agar penjaga gawang menjadi penyerang pertamanya, dan striker adalah bek pertamanya. Karena dalam ideologi Total Football ala Cruyff, kiper adalah pemain ke-11 dalam tim yang harus bisa menyediakan opsi umpan buat rekan-rekannya.

Hal yang sama juga diadaptasi oleh murid Cruyff, Pep Guardiola, di semua tim yang ia latih. Guardiola ingin agar kiper berperan aktif dalam membangun serangan. Bisa jadi ini yang jadi alasan mengapa ia memilih Bayern Munchen yang punya Manuel Neuer di sana.

Akan tetapi, ide dari kiper yang proaktif ini sebenarnya berasal dari pertanyaan: bagaimana cara mengatasi pressing ketat yang dilakukan lawan?

Biasanya, lawan melakukan pressing ketat hingga sepertiga akhir lapangan. Saat bek memegang bola, lawan langsung menekan dan menutup ruang. Bek yang bingung dan kiku akan mengumpan kemana, biasanya mengoper pada kiper sebagai opsi terakhir. Tahu apa yang selanjutnya terjadi? Biasanya, kiper akan membuang bola sejauh mungkin dari gawangnya.

Di sinilah Cruyff dan Pep ingin mengubah cara kiper bermain. Kiper dipaksa meninggalkan zona nyamannya demi membantu lini pertahanan yang ditekan. Perubahan posisi kiper ini akan memberikan opsi umpan yang lebih luas. Apalagi kalau lawan menekan satu pemain dengan lebih dari satu orang. Artinya, akan ada pemain yang tak terkawal dan bisa diumpan.

Seorang sweeper-keeper dituntut untuk punya kepercayaan diri saat mengontrol bola dengan kaki. Ia pun harus punya umpan yang bagus dan akurat, juga punya visi saat mendistribusikan bola ke depan.

Ini yang membuat kiper dengan kemampuan tangkapan yang biasa-biasa saja, seperti Claudio Bravo, justru menjadi kunci serangan utama Manchester City, di musim pertama Guardiola di Inggris.

Gaya main Total Football biasanya juga menerapkan pressing tingkat tinggi. Penyerang menekan sedalam mungkin ke area pertahanan lawan. Gelandang mendekat ke penyerang, sementara bek juga ikut naik sampai tengah lapangan.

Konsekuensinya adalah tim berisiko kena serangan balik, jika bola dilambungkan melewati bek, dan pemain lawan cukup cepat untuk mengejar bola tersebut. Nah, di sinilah pentingnya peran seorang sweeper-keeper. Karena ia bergerak lebih dekat dengan bek, maka saat ada bola melewati bek, maka ia harus menangani bola tersebut sendiri agar tim terhindar dari bahaya.

Namun, yang paling penting adalah soal kewaspadaan sang kiper dan timing untuk membuat keputusan. Kiper harus tahu kapan harus memegang bola dan memberikan umpan, atau membuang bola jauh-jauh. Kalau lawan punya striker berbahaya seperti Luis Suarez dan Karim Benzema, pilihan membuang bola jauh-jauh agaknya menjadi opsi yang lebih aman.

Penerapan Sweeper-Keeper dalam Taktik Sepakbola Modern

Setiap taktik tidak bisa disebut bagus atau buruk. Karena pada akhirnya tergantung dari penerapannya di atas lapangan. 5-3-2 bukanlah taktik yang menjanjikan untuk bisa menang besar. Namun, ini yang dilakukan Amerika Serikat di Piala Dunia 2014, yang mengantarkan mereka sampai babak 16 besar. Soalnya, tujuan mereka bukanlah main cantik dan mencetak gol banyak, tapi bisa menang dan lolos dari grup yang berisi Jerman, Portugal, dan Ghana.

Apakah tim yang menggunakan sweeper-keeper akan selalu menang dan berhasil? Tentu tidak. Contohnya bisa dilihat dari blundernya Alisson saat Liverpool menghadapi Manchester City. Terlalu lama memegang bola bisa bahaya juga. Ini pula yang menjadi alasan mengapa kewaspadaan amatlah penting. Atau lihat Ederson saat melawan Manchester United tahun lalu, ketika ia justru mengumpan pada Scott McTominay.

Akan tetapi, peran sweeper-keeper ini penting bagi tim yang memaksimalkan penguasaan bola atau serangan dengan build up. Tentu berisiko bila kiper terlalu naik ke atas karena ia tak bisa menggunakan tangannya. Namun, kalau diterapkan dengan efektif, naiknya kiper bisa mengurangi peluang lawan melakukan serangan balik cepat. Kalau bola terebut, tim tersebut bisa kembali menyerang tanpa membutuhkan waktu yang lama.

Risiko lainnya adalah soal kritik pada kiper itu sendiri. Bila ia kalah dalam situasi 1 lawan 1 di kotak penalti, ia masih bisa dimaafkan. Namun, kalau gawang kebobolan karena ia ada di luar wilayahnya, itu kerap disayangkan, seperti yang terjadi pada Neuer di pertandingan terakhir fase grup Piala Dunia 2018.

Loading...