OUR NETWORK

Atalanta yang Dipandang Sebelah Mata

31 Januari 2019, Stadio Atleti Azzurri d’Italia, Atalanta kontra Juventus di delapan besar Coppa Italia. Tim tamu jelas diunggulkan dalam pertandingan ini. Si Nyonya Tua adalah penguasa sepakbola Italia dan mereka tetap menurunkan Giorgio Chiellini, Paulo Dybala, dan Cristiano Ronaldo, untuk menghadapi kesebelasan papan tengah di Coppa Italia.

Chiellini mengalami cedera pada menit ke-27, dan Massimiliano Allegri mengganti tembok pertahanan asal Italia itu dengan Joao Cancelo yang aslinya berposisi sebagai bek sayap. Padahal ada bek tengah Uruguay, Martin Caceres, yang duduk di bangku cadangan dan memiliki posisi serupa dengan Chiellini.

Tanpa Chiellini, pertahanan Juventus menjadi rapuh. Cancelo sebagai pengganti justru melakukan kesalahan yang menjadi awal dari gol pertama Atalanta. Padahal dia mengisi sisi kanan pertahanan, bukan dipaksa mengisi pos Chiellini di tengah. Atalanta unggul 1-0 dan keran gol terbuka.

Sebelum Chiellini cedera, Duvan Zapata dan kawan-kawan sebenarnya sudah tampil lebih menggigit ketimbang Juventus yang favorit. Tapi absennya Chiellini dan kegugupan Cancelo menjadi awal kemenangan 3-0 La Dea.

Ini tentu bukan pertama kalinya Atalanta menang melawan Juventus, mereka sebelumnya sudah mencatat 14 kemenangan melawan Si Nyonya Tua. Kemenangan terakhir mereka terjadi pada November 2004. Butuh waktu hampir 15 tahun bagi Atalanta mencatatkan kemenangan ke-15 mereka.

Bukan hanya itu, kemenangan 3-0 atas Juventus juga membuat sejarah baru dalam tubuh klub. Untuk pertama kalinya, lolos ke semi-final Coppa Italia dua kali berturut-turut. Pada musim 2017/2018, Atalanta melangkah ke semi-final dengan mengalahkan Torino di delapan besar. Juventus jadi penghalang La Dea ke partai puncak dengan kemenangan 2-0 secara agregat. Revenge. Sweet, sweet revenge!

Kemenangan Atalanta melawan Juventus di Coppa Italia 2018/2019 bisa menjadi awal dari mimpi mereka untuk meraih piala. Mereka berhasil mengalahkan tim terbaik di Italia, dan mungkin sudah saatnya untuk membuka puasa gelar yang sudah dimulai sejak 1963.

(Sebenarnya Atalanta terakhir mengangkat piala pada 2011 saat jadi juara Serie-B.
Tapi mengacu ke piala Coppa Italia 1962/1963 sepertinya lebih dramatis, 56 tahun!)

Sejak 2016/2017, Atalanta sudah mulai merusak tatanan Serie-A. Mereka yang sebelumnya hanya sebatas tim papan tengah masuk ke empat besar klasemen akhir dan mendapatkan tiket Europa League. Diasuh Gian Piero Gasperini, Atalanta ungguli Inter dengan selisih sembilan poin dan 10 dari AC Milan yang biasanya mewakili Italia di kancah Eropa.

Pada musim berikutnya, mereka kembali mendapat tiket Europa League dengan duduk di peringkat tujuh klasemen Serie-A. Penurunan posisi di klasemen, tapi Gasperini berhasil mempertahankan status Atalanta sebagai wakil Italia di kompetisi antar klub Eropa.

Kesuksesan Atalanta tidak datang begitu saja. Ada tiga pemain yang menjadi kunci sukses mereka pada 2016/2017: Alejandro Papu Gomez, Franck Kessie, Andrea Conti. Gomez sudah membela Atalanta sejak 2014, sementara Kessie dan Conti merupakan jebolan akademi.

Sukses mengantarkan Atalanta ke peringkat empat klasemen Serie-A, posisi tertinggi dalam sejarah klub, Kessie dan Conti diboyong AC Milan ke San Siro. 2017/18, giliran jebolan akademi Atalanta lainnya, Mattia Caldara dan Musa Barrow yang bersinar.

Pada 2016/2017, Caldara dan Barrow sudah mengisi tim senior Atalanta. Namun mereka tertutup oleh sinar yang dihasilkan Conti ataupun Kessie. Juventus yang membeli jasa Caldara pada pertengahan musim 2016/2017 tak menggunakan jasanya. Dia kemudian ikut Conti dan Kessie ke Milan setelah membantu Atalanta mengamankan tiket Europa League 2018/2019.

Inzaghi bela Atalanta sebelum Juventus dan AC Milan
Foto: Calcio Atalanta

Jaminan Masa Depan Italia

Atalanta memang dikenal sebagai kesebelasan yang memiliki salah satu sistem akademi terbaik di Italia. Setiap tahun mereka selalu mengorbitkan pemain dari U19 dan ketika waktunya tiba, pemain-pemain itu bersinar menjadi tulang punggung klub.

Conti, Caldara, dan Kessie hanya sebagian kecil dari talenta-talenta jebolan La Dea. Marco Motta, Giacomo Bonaventura, Giampaolo Pazzini, Riccardo Montolivo, Manolo Gabbiadini, Andrea Consigli, Simone Zaza, dan Davide Zappacosta merupakan produk akademi La Dea meski bersinar di klub lain.

Keberhasilan mereka membangun akademi yang penuh talenta tidak lepas dari statusnya sebagai kesebelasan terbesar di Bergamo. Menyandang status tersebut membuat Atalanta menjadi garis finis untuk talenta-talenta di daerah mereka. Beberapa kesebelasan seperti Ascoli dan Avellino juga memiliki kerjasama dengan Atalanta, membuat pencarian talenta semakin mudah bagi La Dea.

Sama seperti Barcelona dan La Masia, Atalanta juga menerapkan cara yang digunakan oleh Ajax Amsterdam. “Kami sangat suka dengan gaya Ajax. Mereka tidak terlalu peduli dengan hasil di lapangan. Hal paling penting adalah membentuk pemain-pemain muda cara main yang benar,” kata Mino Favini, Kepala Pengembangan Talenta Atalanta yang juga menjadi sosok di balik kesuksesan Filippo Inzaghi.

“Lupakan masalah formasi. 4-4-2, 4-4-3, 4-3-2-1, itu semua hanya angka. Percuma jika para pemain tidak memiliki teknik yang benar. Jika Anda menulis buku tentang taktik, saat terbit hal itu sudah usang,” ungkap Kepala Akademi Stefano Bonaccorso.

“Taktik, strategi, semua akan datang dengan sendirinya. Jika seorang pemain tidak dapat memiliki teknik yang baik, biarkan dia untuk fokus ke hal tersebut. Itu dibutuhkan sebelum mereka bisa menerjemahkan taktik, strategi, dan formasi. Teknik adalah kunci,” lanjutnya.

Dengan filosofi inilah pemain-pemain jebolan akademi Atalanta bisa beradaptasi dengan segala sistem permainan. Hasilnya, ketika Gian Piero Gasperini datang dan meminta tim asuhannya bermain dengan cepat, atraktif, dan agresif, Atalanta memiliki pemain untuk mengakomodir hal tersebut.

Percassi mantan pemain Atalanta
Foto: Pigrecot.com

Uang Kosmetik

Sering kali, memiliki akademi yang produktif saja tidak cukup untuk bersaing. Athletic Club dan Southampton yang memiliki akademi ternama contohnya. Prestasi mereka sangat sulit untuk dipertahankan di tengah sepakbola yang semakin kompetitif dan bergantung pada kekuatan finansial.

Beruntung bagi Atalanta, mereka memiliki Antonio Percassi sebagai sumber dana. Mantan pemain akademi La Dea itu mengakhiri karir sepakbolanya di usia muda, 23 tahun. Lalu beralih fokus ke bisnis ritel kosmetik. Percassi memberikan jaminan finasial bagi Atalanta.

Pada 2015, perusahaan Odissea Srl milik presiden Atalanta itu mendapatkan keuntungan sebesar 509 juta Euro. 2017, jumlah tersebut naik menjadi 800 juta Euro. Dengan dana tersebut, Atalanta menjadi salah satu kesebelasan yang memiliki kekuatan finansial di Italia.

Batas maksimal pengeluaran La Dea di bursa transfer biasanya ada di sekitaran 10-15 juta Euro. Tapi setelah dua musim berturut-turut lolos ke Europa League, pengeluaran mereka menjadi sekitar 40 juta Euro di bursa transfer 2017/2018 dan 2018/2019. Penambahan dana itu tidak lepas dari prestasi mereka sampai-sampai mengumpulkan keuntungan 83 juta Euro dari musim 2016/2017.

Rekor transfer pun mulai dipecahkan. Luca Cigarini adalah pembelian termahal Atalanta sebelum menambah dana belanja mereka. Cigarini dibeli dari Parma 2008/2009 dan baru dipecahkan Marten de Roon pada 2017. Rekor de Roon juga sudah dipecahkan lagi oleh Duvan Zapata.

Penyerang asal Kolombia itu didatangkan dengan status pinjaman dari Sampdoria. Tapi Atalanta berani membayar 12,5 juta pauns untuk meminjam jasanya. Per 1 Februari 2019, investasi mereka terbayarkan. Zapata sudah terlibat di 25 gol Atalanta dari 29 penampilan. 20 diantaranya ia cetak dengan nama sendiri.

Atalanta saat juara Coppa Italia
Foto: Barbadillo.it

Piala Menghalangi Atalanta Jadi Raksasa

Memiliki sistem akademi yang di atas rata-rata, disokong dana finansial besar, Atalanta seharusnya menjadi salah satu kekuatan di sepakbola Italia, bahkan dunia. Namun hingga saat ini mereka masih dipandang sebelah mata.

Hal itu tidak lepas dari kegagalan mereka untuk meraih piala berarti sejak 1963. Atalanta bisa menghamburkan uang dan kondisi finansialnya sehat karena jebolan akademi mereka dibeli kesebelasan lain seperti AC Milan.

Terhitung sejak 2016/2017 saja, Atalanta sudah bisa mengumpulkan lebih dari 100 juta Euro dengan hanya menjual lima pemain ke Inter (Alessandro Bostani, Roberto Gagliardini), AC Milan (Kessie, Conti) dan Juventus (Caldara).

Padahal Inter ataupun AC Milan sedang dalam masa sulit. Terutama AC Milan. Sedangkan Juventus jarang memberi kesempatan ke pemain-pemain muda seperti Atalanta. Sebastian Giovinco, Ciro Immobile, dan Domenico Berardi adalah beberapa nama yang disia-siakan oleh Juventus selain Caldara.

Tapi, ketiga kesebelasan itu memiliki status sebagai bagian dari klub elit di Eropa. Mereka punya tradisi menjadi juara dan logo serta kostumnya dikenal di seluruh dunia. Inilah yang membuat Atalanta masih gagal untuk mendobrak peta persaingan Serie-A.

Kembali ikut serta di kompetisi antar klub Eropa pada 2019/2020 dan memenangkan Coppa Italia bisa membantu mereka melakukan hal itu. Pasalnya, hal terpenting dalam kompetisi adalah medali, piala, dan juara!

Loading...