OUR NETWORK

Kecaman Chelsea atas Perlakuan Berbeda FIFA kepada Manchester City

Mulai Januari nanti, Chelsea akhirnya sudah resmi diperbolehkan mendatangkan pemain baru di bursa transfer. Padahal, seperti yang diketahui sebelumnya, FIFA sempat memberikan larangan dua jendela transfer kepada Chelsea, yang akhirnya membuat mereka tidak bisa membeli satu pemain pun di bursa transfer musim panas lalu.

Alasan klub asal London barat itu diberi skorsing dua jendela transfer oleh FIFA adalah karena mereka telah melanggar aturan mengenai transaksi dengan pemain luar negeri di bawah usia 18 tahun. Namun, hukuman itu dipangkas menjadi satu kali saja setelah Court of Arbitration for Sport atau yang biasa disingkat CAS memutuskan bahwa hukuman yang diberikan FIFA terlalu keras.

Kendati begitu, Chelsea justru langsung melancarkan kecaman terhadap FIFA. Dilansir dari media The Guardian, meski The Blues berhasil memenangkan banding di pengadilan CAS untuk mengurangi durasi sanksinya, tapi mereka merasa kurang puas dan menuduh pendekatan yang dilakukan FIFA sangat tidak memuaskan. Bahkan, menurut pihak Chelsea, FIFA telah memperlakukan mereka secara tidak adil dibandingkan dengan apa yang diterima Manchester City.

Chelsea diselidiki oleh FIFA atas dugaan pelanggaran terhadap 150 pemain, dengan dakwaan paling serius terkait dengan pasal 19 undang-undang badan pengatur. The Blues kemudian didakwa oleh FIFA karena melanggar aturan ini dalam 27 kasus. Namun, setelah ditinjau ulang, CAS menyatakan bahwa Chelsea hanya melanggar “sekitar sepertiga” aturan dari kasus-kasus khusus ini. CAS juga mengurangi denda mereka menjadi 230.000 paun.

Maka wajar mengapa Chelsea sangat marah kepada FIFA, mengingat di satu sisi mereka juga telah sepenuhnya bekerja sama dengan badan investigasi untuk membantu menemukan bukti-bukti konkrit yang didakwakan FIFA. Selain itu, yang membuat Chelsea lebih marah lagi adalah, mereka menyadari kalau ternyata City juga memiliki semua dakwaan dan pelanggaran aturan serupa pada periode yang sama sejak 2009.

Tapi sayangnya City tidak menerima sanksi serupa dengan Chelsea. Mereka hanya didenda 300.000 paun pada bulan Agustus lalu setelah melanggar peraturan mengenai perekrutan pemain di bawah umur. Melihat hal ini, Chelsea langsung mengucapkan terima kasih kepada CAS karena telah membantu mereka mendapat keadilan atas kredibiltas FIFA yang berat sebelah dalam menyetarakan hukuman kepada klub yang mendapatkan kasus serupa.

“Pendekatan yang diambil FIFA untuk kasus ini sangat tidak memuaskan. Paling tidak itu karena FIFA memilih memperlakukan Chelsea buruk sepenuhnya, dan memberikan keleluasaan bagi Manchester City dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal bagi Chelsea. Chelsea menghargai pentingnya pekerjaan yang dilakukan oleh FIFA sehubungan dengan perlindungan pemain di bawah umur,” tutur perwakilan Chelsea dikutip dari The Guardian.

“Chelsea juga telah sepenuhnya bekerja sama dengan FIFA selama penyelidikannya. Namun, jika FIFA terus memberikan sanksi yang tidak konsisten dan tidak setara dengan klub yang memiliki kasus sama, maka itu tidak hanya akan merusak tujuan peraturan yang dibuat, tetapi juga akan meragukan kepercayaan yang selama ini ada pada FIFA. Seharusnya FIFA dapat secara tepat mengatur aspek penting seperti ini.”

Selama proses pengadilan, Chelsea mengatakan bahwa dalam 16 dari 27 pelanggaran pasal 19 yang sebagaimana digariskan oleh FIFA, mereka sebenarnya telah mendaftarkan para pemainnya dengan cara yang persis sama seperti klub-klub Premier League lainnya yang juga mendaftarkan pemainnya pada saat di mana kasus pelanggaran diangkat oleh FIFA.

Selain itu Chelsea juga mengatakan bahwa, setelah pemeriksaan pemain dengan Premier League, mereka malah diberitahu bahwa tidak ada hal khusus yang diperlukan, dan pada kenyataannya memang tidak ada yang namanya proses khusus. Ini membuat tuduhan yang diberikan FIFA terlihat “menyesatkan” dan Chelsea merasa dirugikan karena harus dikenakan denda dalam masalah ini.

Lalu dalam enam kasus lainnya, Chelsea menyatakan bahwa pelanggaran yang didakwakan FIFA hanya bersifat prosedural saja, dan dalam lima kasus sisanya mereka menentang konsep FIFA tentang pendaftaran pemain secara khusus.

 

Sumber: The Guardian

Loading...