Kekhawatiran Polisi Inggris pada Suporter The Three Lions

Foto: Irish TImes

Kepala perwira polisi nasional untuk sepakbola, Mark Roberts, telah mengungkapkan bahwa ia menulis permintaan kepada UEFA untuk mendesak mereka agar tidak menggelar kualifikasi Euro 2020 Inggris melawan Republik Ceko di Praha pada pekan ini, di tengah kekhawatiran tingkat mabuk dan perilaku antisosial dari para suporter The Three Lions.

Ajuan ini juga didasarkan dari fakta lokasi di Praha yang dapat memicu perilaku mabuk. Namun, UEFA mengabaikan permintaan tersebut. Oleh karena itu, Roberts tidak merahasiakan kekecewaannya dengan memerintahkan polisi, FA, dan otoritas Ceko, untuk bersiap jika kemungkinan terburuk terjadi. Polisi Ceko sendiri sudah siap untuk mengerahkan sejumlah petugas dari berbagai unit guna mengatasi semua kemungkinan yang akan terjadi.

Di sisi lain, England Suporter Travel Club akan membawa 3.731 anggotanya ke Praha, sementara itu 3.130 sisanya akan berada di Sofia saat pertandingan Inggris melawan Bulgaria. Namun, diperkirakan ada sekitar 6.000 suporter Inggris yang akan berada di Praha, sebuah kota yang terkenal dengan bir dan kehidupan malamnya yang murah. Sebelumnya belum pernah ada suporter Inggris sebanyak itu datang ke Praha dalam satu waktu.

Ketika Inggris bermain melawan Belanda di Amsterdam dalam pertandingan persahabatan pada Maret 2018, ada lebih dari 100 penangkapan dan kecaman atas perilaku mengerikan para suporter Inggris. Dengan catatan ini, maka tak heran mengapa Mark Roberts begitu khawatir dan mengajukan banding ke UEFA terkait hal serupa.

“Saya menulis kepada UEFA dan meminta mereka untuk mempertimbangkan jadwal kick-off pada Jumat malam. Karena hal itu bukan sesuatu yang bisa kami lakukan. Sulit rasanya ketika kami berurusan dengan mereka (UEFA) dan, terutama, ketika Anda mengajukan banding. Saya pikir ini sangat disayangkan karena Anda dapat melihat risikonya. Kami lebih suka mencegah berkembangnya suatu situasi daripada mencoba mengelolanya pada malam hari dan menyesali sesudahnya,” ungkap Mark Roberts dikutip dari The Guardian.

Seiring dengan itu, pihak polisi dan FA telah melakukan banyak hal untuk mengatasi hooliganisme yang sering terjadi di Inggris, tetapi masalah yang akan terjadi nanti lebih terkait dengan perilaku antisosial atau seperti yang dikatakan Roberts, yaitu “mentalitas bar-bar karena masalah yang diakibatkan konsumsi alkohol.” Ia bahkan menggambarkan berapa banyak pemabuk adalah remaja atau pria muda tanpa catatan kriminal yang seringnya sulit untuk diidentifikasi oleh polisi.

Orang-orang mabuk seringnya hanya mengungkapkan diri mereka sebagai pembuat onar ketika mereka minum berlebihan, dan kemudian, kadang-kadang tidak berpikir mereka telah melakukan banyak kesalahan. Roberts lalu memberikan sedikit contoh yang terjadi di final National League yang dihelat di Portugal ketika para suporter Inggris menyebabkan kekacauan di Porto.

“Saya melihat seorang suporter muda Tottenham yang berada di luar salah satu bar. Dia mabuk dan bergabung dengan semua orang di sana, lalu menyanyikan lagu yang kita semua kenal. Dia tidak melempar botol, tetapi situasinya meningkat mencekam. Beberapa hari kemudian, saya melihat anak itu dan dia pergi keluar untuk membeli ibunya hadiah kecil. Hadiah yang terbungkus kertas,” tutur Roberts.

“Namun, dia sudah menjadi bagian dari grup itu (para suporter pemabuk) dan jika dia mendapat hukuman, dia akan merasa ngeri karena tidak pernah merasakannya. Begitu juga ibunya. Dia ada di sana dengan mentalitas rusa jantan yang bar-bar. Mereka tidak selalu menyadari risiko dari apa yang mereka lakukan.”

Mark Roberts kemudian menguraikan implikasinya bagi para suporter Inggris dengan mengatakan bahwa semua yang mereka lakukan berisiko merugikan diri sendiri. Ia juga menjelaskan tentang apa yang terjadi sebelum semi-final National League melawan Belanda di Guimarães, ketika dua pintu putar fasilitas publik tidak berfungsi, kerumunan bertambah dan ada sedikit dorongan mengerikan akibat keramaian mereka, yang membuat polisi anti huru hara kehilangan kesabarannya.

“Apa yang kami lihat adalah polisi Portugal mungkin mencapai ambang batas kesabaran mereka. Mereka mulai memainkan hukuman fisik di tempat. Para seporter Inggris sangat layak mendapatkan itu akibat ulahnya sendiri. Seperti yang semua orang tahu, orang-orang yang mabuk itu akan melakukan hal-hal kasar selama beberapa hari. Dan hal semacam itu mulai mempengaruhi cara mereka dipolisikan,” tandas Mark Roberts.

 

Sumber: The Guardian