OUR NETWORK

Musim 2019/2020: La Liga yang Paling Ketat

Gol telat Portugues Manzanera pada menit ke-89 bikin Granada tak lagi bertengger di empat besar La Liga. Kekalahan 1-2 atas Real Sociedad menjadi pengulangan dari pekan sebelumnya saat Granada juga kalah 1-3 dari Getafe. Buat Sociedad kemenangan ini membuat mereka ada di tiga besar bersama Real Madrid dan Barcelona dengan poin sama, 22.

Barcelona sejatinya bisa memperlebar jarak di klasemen. Akan tetapi, secara mengejutkan, mereka kalah 1-3 dari Levante. Tiga jam kemudian, Real Madrid berpeluang mengudeta Barcelona andai mereka mengalahkan Real Betis. Sialnya, El Real justru ditahan imbang tanpa gol di Bernabeu.

Hasil di pekan ke-12 La Liga tersebut menghadirkan fakta menarik. Jarak antara peringkat pertama dengan peringkat ke-13 hanyalah lima poin. Di sembilan besar, jarak mereka hanya terpisah empat poin! La Liga terlihat menjadi lebih kompetitif musim ini yang membuat kesebelasan seperti Granada, Sevilla, dan Real Sociedad, berpeluang untuk menghentikan dominasi Real Madrid dan Barcelona.

Pengaruh Barcelona dan Real Madrid yang Inkonsisten

Ketatnya La Liga musim ini tak lepas dari pengaruh Barcelona dan Real Madrid yang inkonsisten. Barcelona sudah kalah tiga kali kalah masing-masing dari Atletico Madrid, Granada, dan Levante. Sementara itu, Real Madrid baru kalah sekali, tapi seri empat kali.

Posisi Ernesto Valverde dan Zinedine Zidane dirumorkan akan segera didepak melihat hasil minor mereka musim ini. Apalagi Real Madrid hanya menang sekali dari tiga pertandingan pembuka musim ini. Presentase kemenangan Zidane pun turun di bawah 50 persen.

Hasil-hasil minor tim papan atas menghadirkan fakta menarik di La Liga:

  • Ini adalah pertama kalinya sejak 2005/2006 di mana Barcelona dan Real Madrid keduanya punya 22 poin atau lebih rendah hingga 11 pertandingan.
  • 22 poin yang dimiliki Barcelona adalah yang terendah yang dimiliki pemuncak La Liga di 11 pekan, sejak Valencia dan Deportivo La Coruna pada musim 2000/2001 dengan 21 poin.
  • Tiga kekalahan yang dialami Barcelona merupakan yang terbanyak yang dialami pemuncak klasemen La Liga sejak Osasuna melakukannya pada 2005/2006.
  • Hanya Real Madrid, yang pada 2000/2001, yang berhasil menjuarai La Liga usai kalah di tiga dari 11 pertandingan awal mereka.
Foto: La Liga

La Liga yang Kian Ketat

Barcelona dan Real Madrid mendominasi La Liga dengan menjadi juara di 14 musim dari 15 musim terakhir. Satu-satunya klub yang bisa menahan dominasi keduanya adalah Atletico Madrid pada 2013/2014 dan Valencia pada 2003/2004.

Musim ini, ada empat kesebelasan di luar Barca dan Madrid yang berpeluang untuk mengejar gelar juara La Liga. Real Sociedad menjadi yang terdepan dengan koleksi poin sama dengan Barca dan Madrid. Di bawahnya, ada Atletico Madrid yang menjadi runner-up musim lalu. Atleti menjadi ancaman utama buat Madrid dan Barcelona karena mereka terbilang konsisten ketimbang kesebelasna lainnya.

Dua kesebelasan lain adalah Sevilla dan Granada. Dilatih Julen Lopetegui, Sevilla sudah memenangi enam pertandingan dan kalah tiga kali. Sementara itu Granada hadir sebagai kejutan. Ia menjadi satu-satunya tim promosi yang ada di papan atas setelah 12 pertandingan.

Menanti Akhir Musim La Liga

La Liga kerap diasosiasikan sebagai persaingan dua kuda balap antara Real Madrid dan Barcelona. Hal ini masih terjadi di musim ini. Namun, mereka tak lagi dominan. Ada empat kesebelasan lain yang masih berpeluang besar untuk meraih gelar.

Pada 2007, Real Madrid menjuarai La Liga meski punya poin sama dengan Barca. Mereka lebih unggul secara head to head. Pun pada 1994 ketika Barcelona mengangkat trofi dengan mengalahkan Deportivo setelah unggul dalam rekor head to head.

Berbeda dengan liga lain, La Liga menggunakan sistem head-to-head dalam penentuan klasemen. Kalau berakhir sama, maka yang dilihat adalah selisih gol. Kalau masih sama juga, dilihat siapa yang paling banyak mencetak gol.

Hal ini bikin La Liga menjadi mendebarkan karena rekor pertemuan antar kesebelasan menjadi begitu penting dalam menentukan hasil akhir kompetisi. Yang paling konsisten, biasanya, dialah yang akan juara.

View this post on Instagram

MUSIM KETAT LA LIGA . Gol telat Portugues Manzanera pada menit ke-89 bikin Granada tak lagi bertengger di empat besar La Liga. Kekalahan 1-2 atas Real Sociedad menjadi pengulangan dari pekan sebelumnya saat Granada juga kalah 1-3 dari Getafe. Buat Sociedad kemenangan ini membuat mereka ada di tiga besar bersama Real Madrid dan Barcelona dengan poin sama, 22. . Barcelona sejatinya bisa memperlebar jarak di klasemen. Akan tetapi, secara mengejutkan, mereka kalah 1-3 dari Levante. Tiga jam kemudian, Real Madrid berpeluang mengudeta Barcelona andai mereka mengalahkan Real Betis. Sialnya, El Real justru ditahan imbang tanpa gol di Bernabeu. . Hasil di pekan ke-12 La Liga tersebut menghadirkan fakta menarik. Jarak antara peringkat pertama dengan peringkat ke-13 hanyalah lima poin. Di sembilan besar, jarak mereka hanya terpisah empat poin! La Liga terlihat menjadi lebih kompetitif musim ini yang membuat kesebelasan seperti Granada, Sevilla, dan Real Sociedad, berpeluang untuk menghentikan dominasi Real Madrid dan Barcelona. . Pengaruh Barcelona dan Real Madrid yang Inkonsisten . Ketatnya La Liga musim ini tak lepas dari pengaruh Barcelona dan Real Madrid yang inkonsisten. Barcelona sudah kalah tiga kali kalah masing-masing dari Atletico Madrid, Granada, dan Levante. Sementara itu, Real Madrid baru kalah sekali, tapi seri empat kali. . Posisi Ernesto Valverde dan Zinedine Zidane dirumorkan akan segera didepak melihat hasil minor mereka musim ini. Apalagi Real Madrid hanya menang sekali dari tiga pertandingan pembuka musim ini. Presentase kemenangan Zidane pun turun di bawah 50 persen. . . . #Barcelona #Sevilla #RealMadrid #AtleticoMadrid #Granada #AtleticoMadrid #LaLiga #LigaSpanyol #Berita #Sepakbola #Bola #Indonesia

A post shared by LigaLaga (@ligalaga.id) on

Loading...