Napoli 2-0 Liverpool: Tamparan untuk Juara Bertahan

Foto: Twitter James Millner

Liverpool datang ke San Paolo Stadium dengan status sebagai juara bertahan Liga Champions. Mereka bermain layaknya klub juara. Mereka menekan sepanjang waktu, tapi hasil akhir berkhianat. The Reds kandas 0-2 dari Napoli.

Dua gol Napoli dicetak pada 10 menit terakhir. Dries Mertens mencetak gol pada menit ke-82 lewat tendangan penalti. Wasit Dr. Felix Brych menunjuk titik putih setelah bek Andy Robertson dianggap melanggar Jose Callejon.

Fernando Llorente melengkapi kemenangan Napoli pada dua menit waktu tambahan. Gol ini terjadi karena kesalahan Virgil van Dijk yang mengumpan bola pada Adrian. Bola pun dicuri mantan pemain Tottenham Hotspur tersebut untuk menambah keunggulan Napoli.

Hasil ini membuat Napoli ada di peringkat kedua Grup E. Di pertandingan lain, Red Bull Salzburg menang 6-2 dari Genk. Kekalahan ini menjadikan Liverpool sebagai juara bertahan pertama yang kalah di pertandingan pembuka Liga Champions sejak AC Milan pada 1994.

Liverpool begitu kesulitan menembus lini pertahanan Napoli yang digalang Kalidou Koulibaly, Kostas Manolas, Givanni di Lorenzi, dan Mario Rui. Beberapa kali Koulibaly berhasil melakukan tekel bersih yang membuat serangan Liverpool pun terhenti.

Di sisi yang berlawanan, kiper Liverpool, Adrian, juga membuat dua penyelamatan kunci. Salah satu yang paling penting adalah ketika ia terbang dan menepis tendangan dekat Mertens dengan jarinya di babak kedua. Sebelumnya, kiper berusia 32 tahun yang menjadi pengganti Alisson ini menyelamatkan gawang The Reds dari Fabian Ruiz di babak pertama.

Hasil ini terbilang mengejutkan mengingat Liverpool saat ini masih belum tersentuh di Premier League. Rataan golnya sungguh gila: tiga gol per pertandingan! Hasil ini membuat Liverpool mencatatkan kekalahan tandang keenam dari delapan pertandingan tandang terakhir di Liga Champions.

Penampilan Impresif Koulibaly

Jurnalis BBC, Steve Sutcliffe, menyebut bahwa kegagalan Liverpool memecahkan pertahanan Napoli tak lain karena impresifnya penampilan Kalidou Koulibaly. Pemain timnas Senegal tersebut berulang kali mendemonstrasikan alasan mengapa ia menjadi target utama sejumlah kesebelasan besar Premier League.

Koulibaly dianugerahi pengahargaan sebagai bek terbaik Serie A musim lalu. Ia pun memperlihatkan sejumlah intercept dan tekel pada Roberto Firmino dan Mohamed Salah dalam situasi satu lawan satu.

“Ia berpatroli di belakang bek kiri Mario Rui untuk memadamkan bahaya yang diakibatkan oleh kecepatan dan tipu daya pemain berkebangsaan Mesir itu. Pembacaannya pada permainan patut dicontoh, memastikan ia jarang gagal dan mampu melancarkan serangan Napoli,” tulis Sutcliffe.

Liverpool Gagal Bersinar

Musim lalu, Liverpool kalah di tiga pertandingan tandang di fase grup. Namun, mereka unggul penuh atas tim lawan di Anfield dengan kecepatan dan energi mereka. Ditambah lagi briliannya striker mereka, Sadio Mane, Mohamed Salah, dan Roberto Firmino.

Di Naples, ketimbang menunjukkan gaya bermain mereka yang biasa, dengan kecepatan dan energi, Liverpool justru bermain lebih konservatif. Ini membuat dua full-back The Reds, Robertson dan Trent Alexander-Arnold gagal memberikan tekanan ke lini serang.

Di lini tengah, Fabinho tak terlihat sinarnya. Liverpool pun sulit menguasai bola meski Jordan Henderson dan James Milner bermain baik. Alhasil suplai pada trio lini serang menjadi terhambat.

***

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, menyatakan kalau mereka terluka karena meskipun kalah ada sejumlah kesempatan bagus bagi mereka untuk mencetak gol.

“Ini adalah pertandingan terbuka dengan banyak serangan balik, tapi kami tak mampu menyelesaikan peluang itu, dan itulah masalahnya. Di babak kedua pertandingan berlangsung gila, mereka berlari dan kami terus berlari.”

“Aku tak merasa kalau itu penalti. Apa yang bisa aku bilang? Buatku, itu jelas bersih dan jelas bukan penalti. Dia melompat sebelum terjadinya kontak, kami tak bisa mengubahnya. Kami bermain sepakbola yang bagus tapi tidak bisa menyelesaikannya.”

“Kami mengontrol momen tapi tak cukup punya kesempatan di akhir. Kami membuat keputusan bahwa kami tak tepat dan harus menerima hasilnya. Ini amat biasa bahwa hasil akhirnya tidak tepat,” kata Klopp.

Manajer Napoli, Carlo Ancelotti, menyatakan bahwa strategi yang ia terapkan adalah melakukan pressing tinggi, tapi di saat yang sama timnya harus bisa bertahan begitu dalam.

“Kami melakukan segalanya dengan baik. Kami harus terbiasa dengan momen yang berbeda. Ketika Liverpool mengontrol bola kami bertahan dengan baik dan kemudian mengambil kesempatan kami. Ini adalah pertandingan yang amat seimbang. Kami melakukannya dengan baik, karena aku merasa mereka adalah tim terbaik di Eropa.”