OUR NETWORK

Niko Kovac Bukan Sosok yang Tepat untuk Bayern Munich?

Bayern Muenchen berada dalam kondisi yang tidak mengenakkan. Melihat penampilan mereka sekarang, sulit rasanya menyebut Bayern sebagai raksasa Bundesliga.

Sejauh ini, di musim 2018/2019, Bayern menampilkan permainan yang buruk. Di ajang Bundesliga, mereka berada di peringkat ketiga dengan torehan 20 poin, hasil dari enam kali menang, dua kali imbang, dan dua kali kalah. Di ajang Liga Champions, hasil imbang kala menghadapi Ajax Amsterdam membuat mereka berada di peringkat dua Grup H dengan raihan 7 poin.

Bagi klub lain, yang tidak sebesar Bayern tentunya, torehan ini sudah cukup apik. Berada di peringkat atas liga, serta mampu bersaing dengan ketat di Liga Champions dengan tim lain, menandakan bahwa tim tersebut memiliki kualitas. Tapi, ini adalah Bayern Muenchen. Raksasa Jerman, juga raksasa Bundesliga.

Di saat lazimnya Bayern Muenchen, dalam masa-masa sekarang (Bundesliga sudah masuk pekan 10), sudah menguasai liga, mereka justru masih tertatih di peringkat ketiga. Mereka juga belum tampil begitu meyakinkan di Liga Champions.

Apa yang terjadi dengan Bayern Muenchen?

Ada Apa dengan Niko Kovac?

Setelah kehilangan sosok Jupp Heynckes, Bayern belum lagi menemukan sosok pelatih berkualitas. Sempat ada Pep Guardiola mampir. Namun, dia punya satu dosa kala menangani Bayern: gagal membawa Bayern menjuarai Liga Champions dalam tiga musim berturut-turut.

Akhirnya, pada musim 2018/2019, Niko Kovac diangkat menjadi pelatih Bayern, setelah Heynckes yang memutuskan turun gunung di sisa musim 2017/2018, walau sukses mengantar Bayern menjuarai Bundesliga, gagal mengantarkan Bayern Muenchen juara Liga Champions (lagi).

Kovac pun sukses menjual dirinya dengan apik. Di laga final DFB Pokal, melawan Bayern Muenchen, Kovac yang kala itu masih menangani Eintracht Frankfurt sukses menggulingkan Bayern dengan skor yang apik, yaitu 3-1. Kovac datang ke Bayern dengan kepercayaan diri tinggi, sekaligus asa bahwa dia bisa mengangkat penampilan Bayern.

Namun, Kovac lupa bahwa menangani Bayern Muenchen bukan perkara gampang. Carlo Ancelotti, pelatih kawakan asal Italia, bahkan bisa dibilang gagal menangani Bayern. Kovac lupa bahwa ada tekanan tersendiri melatih klub sebesar Bayern. Hal ini yang dia rasakan sekarang.

Awalnya, Kovac sukses membawa Bayern tak terkalahkan dalam 4 laga awal Bundesliga 2018/2019. Namun, dimulai dengan hasil imbang menghadapi FC Augsburg, inkonsistensi penampilan mulai melanda, ditandai dengan dua kekalahan beruntun atas Hertha Berlin dan Borussia Moenchengladbach. Sempat bangkit, di kandang sendiri Bayern malah ditahan imbang SC Freiburg.

Inkonsistensi inilah yang membuat integritas dari kemampuan Kovac dipertanyakan. Suasana ruang ganti memanas, dan beberapa media Jerman memberitakan bahwa beberapa pemain bintang tidak lagi percaya pada Kovac, seperti Franck Ribery, Arjen Robben, Thomas Mueller, serta Mats Hummels. James Rodriguez bahkan dikabarkan akan hengkang dari klub pada Januari kelak.

Situasi semakin panas ketika istri dari Mueller, Lisa, mengunggah sesuatu di media sosial, yang isinya berkenaan dengan pertanyaan mengenai kapasitas seorang Kovac. Hal itu tampak seperti pembongkaran tersendiri terhadap aib yang dimiliki tim, membuat situasi Bayern menjadi tidak kondusif.

Namun, selain masalah mental dan psikologis yang sekarang sedang menghinggapi tim, secara permainan, Kovac juga menunjukkan sesuatu yang tidak terlalu istimewa bersama Bayern. Ketidakmampuannya mengatasi ego para pemain bintang membuat dirinya sulit menerapkan strategi yang dia inginkan. Ditambah lagi badai cedera yang kerap menghiasi tim, membuat semuanya terasa sulit baginya.

Perubahan Bayern Secara Taktikal

Selain itu, dia juga menerapkan skema yang bisa dibilang cukup berisiko. Jika lazimnya Bayern menggunakan skema 4-2-3-1, di bawah asuhan Kovac, Bayern menggunakan skema 4-1-4-1. Skema ini mengkhawatirkan karena lini tengah Bayern menjadi rentan diserang, apalagi sosok yang ada di posisi “1” itu bukan sosok yang pandai membaca serangan macam Xabi Alonso.

Di sana, yang bercokol adalah Thiago Alcantara. Thiago memang memiliki kemampuan distribusi bola yang baik, namun, dia memiliki kemampuan defense yang tidak sebegitu menonjol. Rataan tekel per laganya memang tertinggi di Bayern (2,6 kali), namun rataan intersep per laganya tidak sebegitu tinggi dibandingkan para bek (1,3 kali).

Alhasil, Thiago pun kerepotan jika dipaksa harus membendung serangan lawan sendirian. Apalagi dua gelandang tengah Bayern yang lain, baik itu James, Leon Goretzka, Renato Sanches, maupun Thomas Mueller, jarang membantu pertahanan.

Ditambah dengan serangan yang tidak kelewat apik, karena masih terlalu mengandalkan Ribery-Robben, serta tidak terlalu produktifnya Robert Lewandowski (hanya menorehkan 7 gol dari 12 laga), jadilah Bayern Muenchen kelimpungan dan inkonsisten.

Namun, pada dasarnya, memang masalah mental yang sekarang sedang menerpa Bayern. Mental juara mereka sedang diuji, dan mampukah Kovac menyuntikkan kembali mental juara Bayern ini?

***

Bayern Muenchen, teraktual, boleh saja meraih hasil apik kala menundukkan AEK Athena di ajang Liga Champions. Tapi, bukan berarti mereka harus menutup mata mengenai masalah yang ada di timnya. Kovac perlu segera mencari solusi.

Namun, ya, Niko Kovac masih muda, dan dia juga pernah mendapatkan kegagalan ketika menangani Timnas Kroasia. Namun, bukan berarti dia tidak memiliki kesempatan untuk berubah. Di sisa laga musim 2018/2019 yang masih panjang, Kovac masih bisa banyak belajar bagaimana caranya menangani tim seperti Bayern.

Caranya, selain menerapkan skema yang jelas dan meyakinkan, dia juga harus mendapatkan respek dari para pemain bintang. Ketegasan perlu dia tunjukkan, tanpa ragu, untuk menandakan bahwa dia tidak bisa dikendalikan oleh para pemain bintang. Biarkan mereka mengkritik, tapi, jika Kovac merasa apa yang dia lakukan benar, dia tak perlu risau.

Karena, kerisauanlah yang akan membuat Bayern Muenchen, juga dirinya, tidak berubah. Jika dia terbawa arus dan mengikuti keinginan nama-nama besar yang ada di Bayern, bisa-bisa dia malah seperti Carlo Ancelotti.

Loading...