Perubahan Sikap Kylian Mbappe di PSG

Dengan seperempat pertandingan tersisa, PSG unggul 5-0 atas Montpellier yang bermain dengan 10 pemain sejak kiper mereka, Dimitry Bertaud, dikeluarkan dari lapangan pada menit ke-17. Kylian Mbappe termasuk salah satu yang mencetak satu dari lima gol tersebut. Pertandingan yang dihelat akhir pekan lalu itu adalah pertandingan kesembilannya dalam empat minggu.

Jadi, dengan jadwal pertandingan ke Borussia Dortmund di bulan Ferburari ini, Thomas Tuchel memutuskan untuk memberi Mbappe istirahat dengan menggantinya. Ya walaupun itu bukan hanya ide yang bagus, tapi opsi seperti ini sangat dibutuhkan. Namun, Mbappe merasa frustrasi diganti. Ketika ia berjalan pergi, ia mencoba untuk memotong jalur Thomas Tuchel di touchline.

Tuchel pun kemudian mulai memberi alasan kepada Mbappe. Awalnya, pemain muda itu berusaha untuk mengabaikan manajernya. Tapi tidak berapa lama setelah itu, mereka berdua terlibat dalam sebuah perdebatan. Mbappe kemudian berjalan menuju bangku cadangan, bergumam pada dirinya sendiri, dan dengan acuh mengayunkan tangannya di atas bahu Tuchel.

Rasa frustasi dan kekesalan Mbappe masih panas sampai pertandingan usai. Dan ketika ia berjalan ke ruang ganti dengan rekannya, ia dengan emosi menolak semua permintaan selfie dari para suporter PSG. Ya meski itu adalah insiden yang cukup kecil, emosi yang terlihat tidak dapat disangkal.

Kylian Mbappe, bahkan jelas-jelas menunjukan sikap yang tidak hormat kepada manajernya, Thomas Tuchel. Tapi ketika berbicara setelah pertandingan, Tuchel hanya mengatakan kalau insiden itu “tidak baik” untuk dibicarakan. Karena menurutnya yang akan terjadi setelah ini akan “membuka diskusi” dan “mengalihkan pikiran banyak orang”.

Tuchel cuma sedikit berkata, “Saya tidak marah dengan kejadian ini, saya hanya sedih.” Angel Di Maria juga mendukung manajernya itu, dan mengatakan, “Ada anak laki-laki di bangku yang ingin tampil, tapi dia perlu diistirahatkan. Jadi, dia perlu mendapatkannya.”

Dengan sikap yang kurang baik seperti itu, ada apa dengan Mbappe? Apakah ia memang hanya bersikap manja, atau ia memang ingin mencoba untuk pergi dari PSG?

Pasalnya, kejadian ini bukan pertama kalinya. Kylian Mbappe juga pernah bertindak dengan cara yang sama, dengan menunjukkan ego dan amarahnya. Kejadian yang serupa, dilansir dari The Guardian, pun sempat terjadi dalam pertandingan melawan Montpellier pada bulan Desember lalu. Ketika itu Mbappe diganti dan mencoba untuk mengabaikan keberadaan Tuchel.

Yang parahnya lagi, saat terpilih sebagai Pemain Muda Ligue 1 musim lalu, Mbappe pernah menggunakan pidato penerimaannya untuk mengingatkan klub lain tentang ketersediaannya. Ia mengatakan kalau sudah saatnya ia memiliki lebih banyak tanggung jawab, entah dengan klub yang sekarang atau dengan klub yang baru.

“Saya merasa mungkin inilah saatnya untuk memiliki lebih banyak tanggung jawab. Saya harap itu mungkin di Paris Saint-Germain. Itu akan sangat menyenangkan. Atau mungkin di klub lain dengan tantangan baru. Ketika Anda berada pada kesempatan seperti ini, Anda dapat mengirim pesan untuk memintanya. Saya pikir saya telah mengirimkan pesan milik saya,” ujar Mbappe saat memberi kode tentang ketersediaannya.

Anak baik yang sombong

Kilau superstar yang berkembang dalam diri Kylian Mbappe telah melahirkan sikap-sikap yang manja dan sombong. Meskipun di satu sisi, kilauannya itu sekarang tampak sangat kontras dengan perilakunya yang dinilai jauh lebih etis di luar sepakbola. Di pekan lalu misalnya, Mbappe meluncurkan badan amal bernama Inspired by KM yang akan mensponsori 98 anak-anak dari Paris untuk memenuhi impian mereka.

Aktivitas seperti ini terlihat berbanding kebalik dengan tingkahnya. Pemain berusia 20 tahun itu pernah bilang kalau “sekarang saya adalah seorang superstar”, tapi di sisi lain, ia bisa selalu tampil ramah saat wawancara. Akun Instagram-nya juga menggambarkan bahwa ia adalah seorang pemuda yang santai dan sadar sosial, yang mencoba menyadari posisi dan statusnya.

Selain itu, Mbappe sendiri baru-baru ini memposting tentang krisis kebakaran hutan Australia, memberikan suaranya untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon, dan memberikan suara dalam pemilihan Eropa. Ia menyumbang 60.000 euro untuk membantu menemukan pemain depan Nantes Emiliano Sala dan pilot David Ibbotson yang menghilang secara tragis Januari tahun lalu. Ia juga menyumbangkan semua 275.000 euro dari biaya pertandingannya di Piala Dunia 2018 untuk amal.

Tapi, dengan aktivitasnya ini suasana hatinya dapat berubah menjadi gelap dengan seketika di atas lapangan. Apalagi jika ia tidak dimanjakan. Maka, yang jadi pertanyaan, apakah sikap manja yang telah lama menodai pemain muda PSG (seperti Adrien Rabiot) akan menjangkit Kylian Mbappe? Lalu, apakah ia mulai merasa tinggi dengan kilau superstarnya?

Efek bersahabat dengan Neymar

Ia memang mencerminkan anak nakal yang muncul di AS Monaco pada tahun 2017, tapi itu tidak lebih buruk dari yang ia lakukan saat berdebat dengan Thomas Tuchel. Ambisi bocah lelaki yang saat itu masih berusia 18 tahun sekarang sudah tercoreng oleh sikapnya, yang dianggap tampak lebih sombong karena dominasi PSG.

Mungkin, persahabatannya yang semakin erat dengan Neymar berdampak buruk baginya. Neymar sangat berbakat, tetapi pemain yang berusia 28 tahun itu bisa dengan mudah memberi kesan yang sangat manja. Ia bahkan dengan mudahnya memukul suporter setelah final Piala Prancis pada musim lalu. Ia juga berulang kali menantang mantan pelatih Unai Emery, dan pernah berbicara seenaknya kepada wasit Jerome Brisard.

Maka bisa jadi, salah satu penyebab pertengkaran Mbappe dengan Tuchel adalah karena efek dari persahabatannya dengan Neymar. Secara alami, perdebatannya ini juga menumbuhkan spekulasi tentang masa depan kariernya di PSG. Bahkan menurut dua penulis The Guardian, Adam White dan Eric Devin, mungkin Mbappe akhirnya akan pergi dari Paris dalam waktu dekat.

Siasat untuk pindah dari PSG

Dua minggu yang lalu Kylian Mbappe semoat mengatakan kalau ia “100% bersama klub”, sebelum akhirnya menambahkan bahwa “pada akhir musim, kita akan lihat.” Penyerang timnas Perancis itu kemungkinan akan pergi dengan biaya transfer yang sangat besar, dan membantu meredakan kekhawatiran PSG tentang FFP.

Jadi bisa disimpulkan, bisa jadi kemarahannya pada Tuchel merupakan awal dari upaya yang ia perhitungkan untuk pergi. Karena jangan salah, Mbappe adalah pria yang cerdas, dan semua yang dilakukannya pasti disengaja dan penuh pertimbangan.

Di mana pun masa depannya berada, Mbappe dinilai akan tetap terpana dengan kilau superstarnya. Banyak pemain sepakbola yang murah hati dan sadar sosial seperti rekannya sendiri Neymar, yang telah membentuk sebuah badan amal untuk memberikan lebih banyak kesempatan bagi anak-anak yang kurang beruntung di Brasil. Tapi itu semua bukan jaminan bahwa sikap si pemain akan sama baiknya seperti aktivitas yang ditunjukannya di luar sepakbola.

***

Mungkin sekarang orang-orang sedang merindukan Kylian Mbappe yang dulu. Pemain yang begitu menarik perhatian karena ia menggabungkan bakat di lapangan dengan kepribadian ramah, profesional, dan fokus pada pekerjaan. Sebuah karakter yang mampu menginspirasi setiap anak dari latar belakang mana pun untuk mengejar impiannya.

Tapi walaupun begitu, siapa kita dengan seenaknya memberi tahu Kylian Mbappe bagaimana caranya menjalani kehidupan sepakbola secara baik dan benar? Sekarep-karep mu aja lah Mbappe.