OUR NETWORK

Taktik Manchester City (2): Full-Back Atraktif dan Pressing Ketat

Manchester City berada di puncak klasemen sementara Premier League dengan torehan 61 gol yang mengejutkan banyak pecinta sepakbola. Mereka telah menjadi tim terbaik di liga, dan lebih terlihat seperti juara bertahan ketimbang Chelsea.

Hal ini berbanding kontras dengan apa yang mereka lakukan di musim lalu, di mana saat itu mereka menempati urutan ketiga di akhir klasemen. Namun musim ini, mereka justru sering menunjukkan sebuah permainan yang sangat teratur dan membuat para lawan merasa kesusahan.

Jadi, hal apa yang sebenarnya merubah permainan tim rival sekota Manchester United ini?

Full-Back yang Atraktif

“Kunci untuk memenangkan semua ini adalah karena saya memiliki pemain yang fantastis. Tidak ada pelatih, apalagi saya, yang mendapatkan sebuah mukjizat dengan cuma-cuma.” Inilah kata-kata Pep Guardiola selama masih menjabat sebagai manajer untuk klub raksasa Barcelona.

Ambisinya dalam meracik taktik bukanlah sebuah hal yang sepele. Pun sama halnya ketika datang ke Etihad Stadium musim lalu. Meski harus puasa tanpa gelar selama satu musim, namun ia berhasil membuat tim asuhannya Manchester City menjadi yang terbaik selama paruh musim 2017/2018.

Musim lalu, City memiliki kekurangan opsi pada posisi full-back, namun Pep Guardiola masih berusaha mencoba sesuatu yang berbeda. Seringkali, Bacary Sagna dan Aleksandar Kolarov masuk lebih dalam disaat tim tersebut sedang menyerang maju ke area lapangan lawan, dan Fernandinho akan mundur perlahan ke jantung pertahanan.

Pada dasarnya, Pep Guardiola menciptakan sebuah formasi 3-2-2-3 saat menyerang ke depan. Dan itu adalah formasi yang terbilang ‘usang’ dengan bentuk seperti huruf W dan M. Pasalnya, formasi ini sudah tidak terlihat selama lebih dari setengah abad di Inggris. Namun, Guardiola berhasil membawanya kembali. Sebenarnya, pemain full-back miliknya tidak diharuskan berlari lebih melebar, meskipun terkadang mereka diizinkan untuk melakukannya.

Dengan De Bruyne dan Silva yang mencari ruang untuk memberi umpan, permainan menjadi lebih memusat. Maka, Manchester City harus memiliki pemain yang bisa memanfaatkan situasi dari sisi pinggir lapangan dengan baik. Inilah sebabnya Guardiola menghabiskan begitu banyak uang untuk Walker dan Benjamin Mendy.

Taktik City – Foto: Dailymail.co.uk

Dalam permainan melawan Stoke City ini, Kyle Walker tahu persis ke mana ia harus pergi. Sontak rekan satu tim Belgia-nya melebar ke sisi kanan lapangan. Lalu ada Sterling yang menuju ke tengah lapangan untuk menunggu umpan silang rendah yang tak terelakkan.

Seseorang harus berada di dalam kontak untuk memainkan pola tersebut. Itu berarti, ketika De Bruyne mendongak lurus ke depan untuk segera mengumpan, ada seorang pemain yang berlari dengan sempurna ke ruang yang ada di depannya.

Taktik City – Foto: Dailymail.co.uk
Taktik City – Foto: Dailymail.co.uk

De Bruyne berhasil menemukannya, dan seketika Walker menyilangkan bola tersebut dengan rendah ke tengah kotak dan menjadi umpan spesial untuk Gabriel Jesus. Terlihat mudah, tapi pola ini terbilang rumit. Walker juga dirasa nyaman ketika membawa bola ke tengah lapangan, dan mengantarkannya kepada para pemain yang berada di depan.

Pressing Ketat

Perubahan strategi transparan yang dilakukan Manchester City selama musim ini adalah dengan menekan tim lawan dari depan dan menghentikan tim lawan menciptakan peluang.

Semua perubahan ini membuat City menjadi kuat dengan sisi yang lebih menyerang. Karena faktanya, mereka telah memecahkan rekor untuk jumlah gol yang dicetak pada paruh musim ini, taktik ini adalah suatu penerapan yang efektif yang dilakukan Pep Guardiola. Ada satu pemain yang dituntut berlari dari satu posisi ke posisi lain, dan bisa datang dengan mengorbankan beberapa organisasi defensif tim lawan.

City, bagaimanapun, memiliki metode untuk memastikan pertahanan mereka tidak runtuh saat pemain lawan melakukan serangan balik cepat. Penerapannya terbilang rumit dan membutuhkan stamina penuh dari setiap para pemainnya.

Guardiola sendiri secara spesial telah menerapkannya ketika masih mengasuh raksasa Catalan Barcelona dan membuatnya begitu brilian dengan menekan tim lawan dari areanya sendiri. Taktik ini ‘menelan banyak korban’ termasuk sang juara bertahan, Chelsea. Meski nampaknya pertahanan mereka sama sekali tidak mendapat tekanan, namun pada menit ke-12, di pertandingan bertajuk Big Match ini Chelsea sama sekali tidak diberi jalan keluar untuk membentuk pola penyerangan.

Taktik City

Gabriel Jesus tidak membiarkan para pemain The Blues ‘beristirahat’ dan memainkan bola dengan nyaman di daerah mereka sendiri. Ia tidak seperti Aguero, karena ia adalah pemain yang membuat kiper Chelsea begitu kerepotan dalam mengolah bola di dalam kotak penalti. Kecepatannya sangat mengganggu, dan ia pun hampir mencetak satu gol dari situasi tersebut.

Selama sisa 78 menit yang panjang, Chelsea telah berpikir dua kali untuk bermain nyaman di belakang. Courtois pun kerap membuang bola dalam situasi seperti itu. Itu berarti, The Citizen secara konsisten mendapatkan bola dengan mudah kapan pun kesempatan dapat dipecah karena lawan dipaksa untuk membuangnya dari daerah mereka sendiri.

Chelsea pun tercatat hanya berhasil menyelesaikan 79 persen operan mereka ketika melawan City. Statistik ini berkebalikan dengan 86 persen operan yang berhasil dilakukan Chelsea ketika bertandang melawan Stoke dan Everton. Melihat hal itu, catatan ini menunjukkan sebuah penurunan yang signifikan dari tim berlabel juara bertahan.

Hal mengejutkan lain dari Manchester City di musim ini adalah, tidak ada satu pun tim di Premier League yang telah berhasil menyelesaikan total keberhasilan 89 persen operan dalam satu pertandingan kecuali mereka (City). Dan tidak ada tim yang bermain menggunakan umpan pendek lebih banyak daripada City dengan catatan keberhasilan sebesar 93,39 persen.

Taktik City – Foto: Dailymail.co.uk
Taktik City – Foto: Dailymail.co.uk
Taktik City

Catatan tersebut bisa tercipta berkat penerapan skema baru mereka yang selalu menyediakan opsi pemain untuk diumpan di setiap posisi. Itu terbukti karena mereka kerap menahan bola dan kembali memenangkannya kembali dengan cepat. Manchester City sendiri sejauh paruh musim ini, hanya kebobolan 12 gol di liga, dan itu berarti, hanya sedikit saja peluang krusial yang berhasil diciptakan tim lawan mereka.

 

Catatan redaksi: Tulisan ini merupakan saduran dari tulisan Amithai Winehouse di Dailymail.

Loading...