Betapa Cocok Haller sebagai The Hammer

Anda pernah mendengar sebelumnya tentang kemiripan nama klub dengan nama manajer. ‘Arsene’ untuk Arsenal dalam waktu 22 tahun, ‘Mancini’ untuk Mancity yang meraih kejayaan. Kini, ada pemain yang namanya mirip dengan klub yang dia bela. ‘Haller’ bagi The Hammer.

West Ham United merekrut penyerang Frankfurt, Sebastien Haller dengan biaya 45 juta paun. Perekrutan dengan embel-embel ‘pecah rekor transfer klub’ sekali lagi dalam tiga tahun beruntun. Setelah Issa Diop dua tahun silam dan Felipe Anderson setahun lampau. Nama penyerang Prancis sedap di telinga saat dia disandingkan dengan julukan klub, “The Hammer(s)”.

Hanya ada beda satu huruf yang double mengisi tengah kata. Huruf ‘L’ dan ‘M’ pun bersebelahan sedari kita belajar mengeja alfabet dari A sampai Z. Haller-Hammer, punya rima asyik untuk dibuat ke dalam pantun, puisi, maupun lirik lagu. Band punk pendukung West Ham, Cockney Rejects mesti menyiapkan secarik kertas dan menulis sesuatu yang indah seandainya kiprah Haller layak disanjung pada sebuah anthem.

Ok, julukan West Ham nyatanya memang The Hammers bukan The Hammer. Tidak mungkin juga mengganti nama Haller menjadi ‘Hallers’. Namun jangan kadung buru-buru mengacaukan asyiknya sesuatu yang ‘klop’ ini. Bagaimanapun huruf ‘s’ di akhir kata benda dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan ‘plural’ alias jamak. Tanpa ‘s’ di akhir untuk benda berjumlah satu, tunggal, alias ‘singular‘.

The Hammers berarti ‘Sekumpulan Palu’, ‘Palu-palu’, ya pokoknya banyak palu. Julukan merujuk kisah awal klub yang dibentuk dari sekumpulan pekerja pabrik besi di sekitar kawasan Sungai Thames. Sedangkan Haller, seorang individu yang bahkan perannya sering sendirian di mulut gawang lawan, jelas terkategori tunggal.

Jadi terimalah Haller sebagai The Hammer. Palu godam terbaru andalan West Ham untuk menghantam klub lawan.

Penyerang Ideal

Sebastien Haller meraih trofi bergengsi DFB Pokal musim 2017-18 bersama Eintracht Frankfurt. Piala mayor pertama dalam kariernya. Foto: kicker.de.

Pergerakan jenius West Ham lakukan tatkala sukses mengangkut Haller dari Eintracht Frankfurt. Dia penyerang ideal yang selama dua musim mengerek prestasi die Adler selama dua musim terakhir. Sebagai tim yang acap kali degradasi dan promosi, gelar DFB Pokal 2018 dan tembus semifinal Europa League musim lalu bukti sahih Frankfurt mengalami momen-momen hebat.

Dalam kesuksesan tersebut, sulit tidak menyinggung Haller yang juga baru bergabung dua musim dari FC Utrecht. Dia menjadi target man yang kerap disandingkan dengan penyerang cepat Ante Rebic dan Luka Jovic. Tidak melulu dipasangkan sebai trio, tapi bisa saling berbagi peran.

Boleh saja, Ante Rebic menjadi man of the match di final DFB Pokal lewat dua gol ke gawang Bayern yang dibungkam 3-1. Namun Haller menjadi top skor tim dengan empat gol sepanjang turnamen. Boleh saja, Luka Jovic yang paling meledak di antara ketiganya, sampai sanggup direkrut klub super Real Madrid. Namun tidak bisa disingkirkan, 14 dari 17 gol liga Jovic musim lalu datang saat dia ditandemkan dengan Haller sepanjang 15 pertandingan.

Pergantian pelatih dari Niko Kovac ke tangan Adi Hutter sempat membuat Frankfurt limbung di awal musim. Meskipun sama-sama mengutamakan sepak bola menyerang, tapi filosofi keduanya berbeda. Terlebih, Frankfurt padat penyerang muda nan tajam. Haller pun tidak imun atas rotasi yang acap kali dilakukan menyesuaikan gaya permainan tim lawan.

Namun, produktivitasnya tidak tergerus. Dia sukses menjaringkan 15 gol dalam 29 pertandingan, meningkat enam buah dari era Niko Kovac. Padahal bersama Hutter, Haller enam kali dimasukkan dari bangku cadangan atau tidak main sama sekali. Total kariernya berseragam logo elang, dia membukukan 33 dalam 77 laga di semua ajang.

Bisa Lebih Baik dari Giroud

Posturnya yang menjulang dengan tinggi 190 centimeter kerap kali dia gunakan untuk mendominasi bek penjaganya. Dia bisa menang duel lewat langkahnya yang jenjang, kecepatan yang cukup baik dengan atau tanpa bola, dan tentu saja duel udara. Dia memenangkan 8,3 duel bola atas selama 90 menit dengan rasio kesuksesan 59%, tertinggi di Bundesliga.

Haller bukan tipikal penyerang tidak tahu diri yang gemar buang-buang peluang. Dia klinis, tidak terlalu sering menembak hanya untuk kesia-siaan. Rata-rata dia hanya menembak 2,2 kali dalam satu laga.

Bukan berarti tumpul, karena dia mencetak gol dengan lebih dari seperempat usaha tembakannya (28%) dan hanya 16 kali tembakan melenceng dari gawang dalam 54 kali upaya (29%). Bisa dibilang, dalam empat kali percobaan menembaknya, satu membuahkan gol, dua mengarah ke gawang, dan satu melenceng.

Rasio ini lebih baik daripada Luka Jovic yang menembak 3,9 kali dalam 90 menit untuk menghasilkan 17 gol. Bahkan bila dibandingkan penyerang veteran Premier League, Olivier Giroud yang juga dominan di udara dan sanggup mengkreasi peluang lewat kemampuan menjaga bola, rasio Haller lebih baik. Giroud menembak 3,5 kali dalam 90 menit untuk menjaringkan 13 gol di seluruh turnamen sekalipun memang dia sangat banyak berperan sebagai pemain pengganti.

 

Untuk urusan jumlah gol Bundesliga musim lalu, Haller memang berada di urutan kesembilan. Namun tambahan sembilan asisnya tidak dimiliki para pemain dengan jumlah gol di atasnya. Tanda lain, Haller bukan penyerang yang satu dimensi hanya mencetak gol. Dia punya fitur lain dalam permainannya yakni mampu menciptakan peluang bagi rekannya mendulang skor.

Di depan, dia memimpin penyerangan, menuntaskannya sendiri atau membaginya ke rekan yang berpeluang.

Pellegrini Mesti Senang

West Ham praktis tidak ada penyerang lain setelah melepas Andy Carroll, menjual Lucas Perez ke Deportivo Alaves, dan Marko Arnautovic yang menuntut fulus di negeri Cina. Praktis tinggal Javier Hernandez dan penyerang medioker Jordan Hugill yang tersisa.

Target pertama, penyerang muda Celta Vigo, Maxi Gomez gagal direkrut. Gomez berpikir rasional dengan bergabung ke Valencia yang tampil di Liga Champions musim depan. Sekalipun dapat gaji yang lebih kecil daripada penawaran West Ham, tapi dia tidak tertarik membela tim yang finis di peringkat ke-10 dalam rimba Premier League musim lalu.

Untung, Haller sanggup direkrut. Perlu uang sedikit dan membawa jargon ‘pecah rekor transfer’ klub untuk meyakinkan Haller memilih bermarkas di Stadion Olimpiade London, ketimbang bersabar menunggu tawaran klub lain yang konon mentas di Liga Champions.

“Kami perlu mendapatkan satu yang baru dan punya opsi berbeda sekarang. Dia bukan hanya penyerang di kotak penalti, dia bisa bermain baik pula di luarnya. Ini musim pertamanya di Inggris dan saya tahu dia akan menjadi penyerang bagus untuk tim,” kata manajer Manuel Pellegrini kepada situs klub, lega.

Haller bisa sajikan kombinasi hebat bersama Felipe Anderson yang flamboyan. Umpan lezat Anderson bisa dituntaskan Haller tanpa ampun di hadapan kiper lawan. Kemampuannya menahan bola untuk mengkreasi peluang juga layak direspon dengan baik bagi penyerang sayap yang lincah seperti Manuel Lanzini dan Andriy Yarmolenko. Seperti sebagaimana yang pernah Haller hasilkan bersama Rebic dan Jovic.

“Saya akan menampilkan segalanya 100% dan menghormati klub. Saya tahu ini transfer besar dan ada banyak ekspektasi di sekitarnya. Saya ingin membuat orang bangga atas transfer ini dan memberikan apapun yang saya punya,” ujar pemain yang tumbuh di kawasan Ris Orangis, Paris ini.

Dia satu yang patut dinantikan kiprahnya di Premier League musim depan. Dia Haller sebagai The Hammer. Ah, betapa cocok namanya.

sumber: theguardian/whoscored/whufc.com