OUR NETWORK

Wilfried Zaha Perlu Bersyukur Tetap di Crystal Palace

Duduk di bangku cadangan sebelum masuk menggantikan Jordan Ayew pada menit ke-65, masa depan Wilfried Zaha bersama Crystal Palace dipertanyakan. Meski jendela transfer di Inggris sudah resmi ditutup sebelum Premier League 2019/2020 dimulai, Zaha dikabarkan memiliki masalah dengan pemilik the Eagles, Steve Parish.

Arsenal dan Everton merupakan dua kesebelasan yang begitu gencar mengincar Zaha selama musim panas 2019. Menanggapi keinginan kedua kesebelasan tersebut, Crystal Palace mematok harga 100 juta Pauns untuk Zaha.

Arsenal kemudian lebih memutuskan untuk memboyong Nicolas Pepe seharga 72 Pauns dibandingkan menuruti permintaan the Eagles. Sementara Everton terus berjuang hingga detik-detik terakhir bursa transfer.

Pertama mereka menawarkan 65 juta Pauns ditambah Cenk Tosun dan James McCarthy ke Crystal Palace. Setelah ditolak, the Toffees mengubah proposal mereka jadi 70 juta Pauns. Jumlah tersebut sudah jauh di atas tawaran Arsenal yang hanya berani mengeluarkan 40 juta Pauns untuk jasa Zaha. Tapi Crystal Palace masih menolak. Akhirnya, 100 juta Pauns disodorkan sesuai permintaan the Eagles.

Sayangnya, kesempatan Zaha untuk bernegosiasi dengan Everton dihalangi oleh Parish. Pemain Pantai Gading tersebut harus bertahan di Selhurst Park. Memiliki kontrak hingga 2023, Zaha kabarnya masih berpeluang meninggalkan Crystal Palace. Meski Arsenal sudah memiliki Pepe. Everton telah memboyong Alex Iwobi. Jasa Zaha dikaitkan dengan Chelsea. Menurut Metro, the Blues siap menyodorkan 80 juta Pauns pada Crystal Palace di Januari.

Manajer Crystal Palace Roy Hodgson pun tidak bisa menutup peluang tersebut. Mengakui hubungan Zaha dengan para petinggi Crystal Palace sedang rusak. “Dirinya ingin pindah. Namun para presiden dan pemilik klub merasa tak ada tawaran yang pas dengan keinginan mereka. Masalah Zaha adalah dengan para petinggi,” aku Hodgson.

“Zaha adalah seorang profesional dan semua anggota tim memiliki hubungan baik dengan dirinya. Saya berharap ia menghargai kontrak yang telah diberikan,” lanjut nakhoda tertua di Premier League tersebut.

Kembali Bersinar di Crystal Palace

Zaha sudah pernah meninggalkan Crystal Palace di 2013/2014. Ketika itu, dirinya ditebus dengan dana 10,5 juta Pauns oleh Manchester United. Digadang-gadang sebagai pemain muda yang memiliki masa depan cerah dan bisa jadi andalan tim nasional Inggris, Zaha gagal memenuhi ekspektasi di Old Trafford.

Setelah hanya empat kali membela the Red Devils, Zaha pun dipulangkan ke Selhurst Park pada Agustus 2014. Zaha hanya memberikan kontribusi delapan gol dari 35 penampilannya di 2014/2015. Tapi setidaknya, dia kembali jadi pilihan utama. Crystal Palace pun membeli kembali membeli jasa Zaha dengan dana kurang dari empat juta Pauns.

Perlahan tapi pasti, Zaha kembali ke puncak performanya. Pada 2015/2016, ia mencetak dua gol dan mengarsiteki lima lainnya di Premier League. Semusim kemudian, angka itu bertambah lebih dari dua kali lipatnya. Zaha mencetak tujuh gol dan arsiteki 11 lainnya di Premier League 2016/2017.

Sekalipun kontribusi Zaha menurun di jadi hanya terlibat di 14 gol selama Premier League 2017/2018, ia tetap menjadi bagian penting dari Crystal Palace. Sosok yang dulu digadang akan menjadi pemain besar Inggris kembali terlihat. Tapi sekarang dirinya sudah berstatus pemain Pantai Gading.

***

Musim 2018/2019 menjadi puncaknya. Zaha mencetak 10 gol dan mengarsiteki jumlah yang sama sepanjang musim. Itu adalah raihan terbaiknya sejak pertama terlibat dalam sepakbola profesional pada 2010. Sudah tampil lebih dari 300 kali untuk Crystal Palace, wajar jika Zaha ingin pindah. Apalagi ketika namanya sedang diincar berbagai kesebelasan.

“Melihat dirinya bermain adalah sebuah kebahagian tersendiri. Waktu saya menanganinya di Crystal Palace, ia sudah memiliki ambisi untuk pergi. Saya membujuknya untuk bertahan namun Zaha memilih Manchester United. Akhirnya saya meminjamnya kembali karena tak ingin dirinya dilihat sebagai sebuah kegagalan,” kata mantan nakhoda Crystal Palace, Ian Holloway.

“Sekarang Zaha ingin pindah karena merasa harus membuktikan kualitasnya dan membuat orang-orang lupa akan kegagalan di Manchester United,” jelas pria berkepala plontos itu di Sky Sports.

Mengincar Peserta Liga Champions

Foto: Crystal Palace

Setelah tawaran Everton ditolak oleh petinggi Crystal Palace, Zaha meminta dirinya untuk segera dijual. Saat kondisinya sudah seperti ini, sangat jarang klub bisa menahan pemain. Cesc Fabregas (Arsenal) dan Dimitri Payet (West Ham United) adalah contoh bagaimana pemain sering kali lebih kuat dibandingkan klub.

Tapi dengan ditutupnya bursa transfer musim panas di Premier League, Zaha hanya dapat keluar dari Inggris. Setidaknya hingga Januari 2020.Parish sendiri sudah memperingatkan para pemain bahwa tidak ada yang bisa meninggalkan Selhurst Park hingga bursa transfer musim dingin 2020 dibuka.

Bedasarkan laporan Kaveh Solhekol dari Sky Sports, kegagalan Zaha hengkang dari Crystal Palace sebenarnya tidak semata-mata dikarenakan dana transfer. Tapi juga status Everton dan Arsenal sebagai klub peminat. Pasalnya, mereka tidak memiliki tiket Liga Champions.

“Ada sebuah perjanjian tidak tertulis yang telah disepakati di Crystal Palace selama musim panas 2019. Mereka hanya rela melepas Zaha jika ada kesebelasan Liga Champions yang datang dan memenuhi permintaan klub,” jelas Solhekol.

Mungkin itu yang menjadi alasan mengapa Everton gagal mendapatkan jasa Zaha meski sudah memenuhi permintaan Crystal Palace dan menyodorkan 100 juta Pauns. The Eagles sendiri kabarnya sempat mengincar jasa Allan Saint-Maximin untuk menggantikan Zaha.

Tetap Mendapat Dukungan Penuh di London

Foto: Bleacher Report

Kenyataannya, tidak ada tawaran yang sesuai dengan standard klub. Zaha bertahan harus Crystal Palace, sementara Saint-Maximin lebih dulu dipinang Newcastle United. Zaha dan Parish pun kabarnya sudah melakukan gencatan senjata.

Walaupun gencatan senjata itu bukan berarti perdamaian, setidaknya ada awalan untuk memperbaiki hubungan Zaha dengan para petinggi klub. Rekan-rekan satu tim Zaha pun tetap memberikan dukungan kepada pemain kelahiran 10 November 1992 tersebut.

“Jika Zaha tetap ada di sini setelah bursa transfer Januari 2020, itu akan menjadi sebuah kemenangan besar bagi kami,” buka Andros Townsend. “Semua sudah melihat kualitas Zaha. Ia membantu klub ini menghindari degradasi hingga berjuang masuk 10 besar. Dia memberikan dimensi lain untuk Crystal Palace,” kata Townsend.

“Saya tahu betapa berartinya dia untuk klub ini. Zaha akan melupakan drama transfer yang telah terjadi karena ia merupakan seorang profesional. Dirinya sama sekali tidak mengeluh. Semoga Zaha bisa kembali ke performa terbaiknya lagi,” kata Christian Benteke.

Crystal Palace Tempat Terbaik

Foto: Evening Standard

Crystal Palace adalah tempat terbaik untuk Zaha. Mereka sudah menyelamatkan karier Zaha satu kali setelah ia dibuang Manchester United. Meski dirinya ingin hengkang lagi, rekan-rekan satu timnya dan Roy Hodgson yang menangani the Eagles tetap memberikan dukungan.

Zaha mungkin mengawali Premier League 2019/2020 sebagai pemain cadangan. Namun, hanya butuh waktu sebelum dirinya kembali ke susunan utama Hodgson dan jadi tumpuan seperti biasa.

Jika dirinya bisa mempertahankan performa yang ia miliki dalam tiga musim terakhir, tidak ada alasan untuk Zaha merasa gerah di Selhurst Park. Sekalipun klub lain seperti Chelsea disebut menginginkan jasanya, bertahan di Crystal Palace akan tetap jadi pilihan terbaik.

Crystal Palace mungkin hanya berstatus kesebelasan papan tengah. Tapi dalam beberapa tahun terakhir setelah Zaha kembali, mereka selalu mengalami peningkatan. Pada 2016, the Eagles berhasil melangkah ke final Piala FA. Pada 2016/2017, mereka duduk di posisi empat klasemen akhir dengan 41 poin.

Bersama Roy Hodgson, Crystal Palace naik ke peringkat 11 dengan tiga poin lebih banyak (44) di 2017/2018. Bahkan saat peringkat mereka turun di 2018/2019, raihan poin the Eagles tetap mengalami peningkatan (49). Sejak dulu, Crystal Palace adalah klub dengan potensi tinggi. Apabila Zaha bisa membantu mereka memenuhi potensi itu, pengalaman buruk bersama Manchester United pun akan hanya dianggap sebagai catatan kaki.

Loading...