OUR NETWORK

Vahirua, Kebanggaan Tahiti yang Terlupakan

Vahirua begitu nama yang tertera di bajunya. Namanya asing di telinga para penikmat sepakbola meskipun disebut nama panjangnya sekalipun, yaitu Marama Kevin Vahirua, tentu saja orang-orang masih harus googling terlebih dahulu.

Namun begitu, pemain yang berpetualang ke Ligue 1 tersebut cukup memiliki nama di Tahiti yang notabane negara kelahirannya. Posisinya sebagai gelandang serang cukup menjanjikan terbukti dengan torehan prestasinya sebagai pesepakbola terbaik Oseania pada tahun 2005 dan mampu membawa Nantes menjuarai Ligue 1 yang hingga saat ini belum mampu direngkuh ulang.

Ia masuk dalam era keemasan Nantes ketika Les Canaries sedang diasuh oleh Raynald Denouiex  yang berhasil memberikan gelar juara liga dan mengawinkannya dengan trofi Super Cup Perancis.

Mengembara di Prancis

Vahirua mengawali karirnya bersama Nantes pada musim 98 setelah dipromosikan dari tim junior Nantes oleh pelatih Denouiex. Vahirua yang saat itu berusia 20 tahun baru melihatkan sinarnya pada dua musim setelahnya. Sebelumnya ia kerap menghabiskan waktunya di bangku cadangan. Gol debutnya pun tercipta di akhir musim debutnya  saat Nantes berjumpa Le Havre pada pekan ke 34.

Pada musim 2000/2001 lah sinarnya mulai terlihat ia pemain yg cukup efisien dan matang dalam menyelasiakan peluang, kecepatan dan kelincahannya menjadi salah satu atribut lebih yang dimilikinya. Dengan atribut tersebut dirinya kerap dipasang sebagai striker ataupun winger.

Vahirua juga kerap dimasukan di menit-menit krusial guna menjadi senjata rahasia untuk tim. Dan dari tujuh gol liga yang ia cetak pada saat Nantes menjuarai liga di 2000/01 tiga gol diantaranya ia torehkan sebagai pemain pengganti.

Ia pun dijuluki sang Super Sub karena kerap mencetak gol sebagai pemain pengganti yang tak hanya terjadi di liga. Ia kerap menyelamatkan tim melalui bangku cadangan di Coupa De France selama berseragam Nantes dirinya sukses menorehkan 41 gol dari 147 laga yang ia jalaninya.

Dirinya hanya bertahan enam musim dengan klub kecilnya ia pindah ke OGC Nice di musim 2004/2005 pada musim ini dirinya kerap dimainkan sedikit lebih kedalam layaknya seorang pengatur serangan tak disangka torehan asis nya pun meningkat hanya dalam tiga musim kebersamaanya bersama Nice.

Vahirua berhasil menorehkan 10 asis sedangkan saat bersama Nantes diirnya hanya mampu mengumpulkan dua asis dalam enam musim. Selepas itu pemain yang kini telah berusia 38 tahun tersebut pindah ke Lorient. Pada musim 2009/10 ia berhasil menjadi pemain kunci Lorient dirinya nangkring di posisi dua sebagai daftar pencetak asis terbanyak liga dengan 10 asis.

Torehan tersebut hanya kalah oleh Lucho Gonzalez yang pada saat itu berhasil membawa Olympique Marseille. Pada kala itu Vahirua berhasil menjadi penyuplai bola untuk Kevin Gameiro yang di musim tersebut juga berhasil mencapai level terbaik permainannya dengan torehan 17 golnya.

Setelah lama di Perancis Vahirua mencoba peruntungannya di Yunani bersama Panathinaikos pada 2012. Namun sayang peruntungannya di liga dewa dewi tak begitu munjur ia pun kembali lagi ke Perancis bersama Nancy dan menutup karirnya di Perancis bersama AS Monaco.

Bangga Sebagai Warga Negara Tahiti

Ia pun kembali ke Tahiti negara yang telah ia tinggalkan selama beberapa tahun. Meskipun sempat dianugrahi sebagai pemain terbaik Oseania pada 2005 silam faktanya tak ada yang terlalu istimewa dari pemain kelahiran 80an ini selain dirinya adalah orang Tahiti pertama yang bermain di Liga Perancis ataupun di benua Eropa.

Sebenarnya sebelumnya ada nama Pascal Vahirua pemain kelahiran Tahiti yang tak lain tak bukan adalah sepupu dari Marama Vahirua yang juga memperkuat beberapa tim di Liga Perancis. Namun dirinya pindah kewarganegaran dan membela timnas Perancis.

Saat kembali ke Tahiti dirinya mengaku bangga “Saya selalu bangga mengatakan bahwa saya adalah Tahiti, bahwa saya berasal dari negara yang luar biasa, bahwa saya mewakili Tahiti,” kata Vahirua dikutip dari OceaniaFootball.com.

Kebanggaan Vahirua sebagai pemain asal Tahiti diapresiasi oleh negaranya ia dijadikan teknikal direktur sepak bola Tahiti. Pengurusannya pun diperluas tidak hanya mengurusi sebuah tim sepak bola saja ia pun diharapkan bisa bersinergi bersama tim futsal dan tim sepak bola pantai Tahiti. Melihat pengalaman serta sepak terjangnya dalam berkiprah di dunia sepak bola tentu saja ini menjadi tantangan baru untuknya.

Pengalaman Vahirua yang pernah bermain di Liga Champions bersama Nantes dan menjadi pencetak gol asal Tahiti pertama di Liga Champions tentu dirinya punya kapabilitas untuk memajukan sepak bola negaranya.

Ironisnya hingga kini Tahiti belum mampu mencapai level permainan puncak seperti 2012 silam saat mereka berhasil menjuarai kompetisi Oseania. Walaupun bangga sebagai pemain Tahiti dirinya tidak pernah membela Tahiti dan tidak terlibat dalam gelaran piala Oseania ketika negara tersebut mampu menjadi juara.

Pada 2013 Tahiti berhasil masuk Paia Konfenderasi setelah keluar sebagai juara Oseania pelatih yang pada kala itu menangani Tahiti Eddy  Etaeta langsung menyertakan namanya. Etaeta mengetahui jika Squad yang ia miliki hanyalah sekumpulan pemain amatir dari berbagai macam penjuru. Bahkan ada yang seorang pemain sepak bola pantai.

Vahirua menjadi satu satunya pemain professional dalam tim tersebut pemain yang berpenghasilan melalui sepak bola. Dirinya pun mencoba realistis menyambut keberhasilan Tahiti memasuki Piala Konfenderasi.

“Kita harus realistis kami adalah tim amatir, kami tidak dapat bersaing dengan timnas lainnya, tetapi itu akan menjadi bagian dari pembelajaran. Bagaimana kita akan maju jika kita tidak menghadapinya? Ini adalah batu lompatan untuk sepak bola Tahiti dan ini sangat positif. ” Ujar Vahirua.

Ia diberikan peran sebagai kapten pada piala konfenderasi tersebut dan dirinya berhasil mencetak satu asis melalui umpan tariknya di sepak pojok. Satu gol melalui sundulan Jonathan Tehau  tersebut dirayakan oleh seluruh pemain dan pelatih gol tersebut menjadi sebuah kebanggaan bagi negara tersebut. Bahkan itu menjadi satu – satunya gol mereka di Piala Konfenderasi tersebut.

Perayaan Gol Dayung oleh Vahirua

Seperti Sin Cara di Raul Jimenez yang mempopulerkan budaya Meksiko ke dunia dengan cara dia merayakan gol Vahirua juga lebih dulu melakukan hal yang serupa tapi tak sama dengan selebrasi golnya. Ia kerap melakukan selebrasi mendayung. Selebrasi tersebut bermakna bahwa dirinya adalah orang Tahiti dan tidak lupa denga asal usulnya.

Seperti yang kita ketahui Tahiti adalah negara Polinesia Perancis atau negara sebrang laut, Tahiti termasuk negara kepulauan dengan jumlah penduduk 250 ribu. Negara ini terkenal dengan selancar dan pantainya yang terkenal kerap menciptakan ombak besar.

Selebrasi tersebut adalah simbol untuk negaranya dan dirinya saat kecil kerap berlomba balap perahu bersama teman – temannya. Selebrasi tersebut kerap disebut sebagai Paddle Celebration.

“Perayaan yang sangat penting yang sebagai seorang anak bermimpi menjadi seorang peselancar dan yang terus bersenang-senang dalam balapan kano bersama teman-teman.

Saya telah mengubah dayung menjadi simbol negara saya. Bagi saya, menghidupkan kembali yang memberi saya kesempatan untuk memberi hormat kepada negara saya, sesederhana itu”.

Vahirua juga mengatakan kepada Asosiasi bahwasannya itu menjadi tanda khasnya. Inilah Vahirua pemain yang ‘asing’ namanya namun membanggakan Tahiti melalui selebrasi-selebrasinya.