OUR NETWORK

Vinicius, Solari, dan Castilla

Terjungkal pada fase 16 besar Liga Champions 2018/2019, Real Madrid mungkin mengalami musim terburuk mereka dalam 10 tahun terakhir. Sejak awal musim Los Blancos memang telah diselimuti masalah. Mulai dari penunjukan Julen Lopetegui yang kontroversial, hingga kepergian Cristiano Ronaldo ke Juventus.

Ditekuk Sevilla 0-3, kalah dari Alaves (0-1) dan Levante (1-2), Lopetegui akhirnya didepak dari Bernabeu setelah Sergio Ramos dan kawan-kawan dibantai Barcelona 1-5 pada pekan ke-10 La Liga 2018/2019. Ketika itu, mereka menduduki peringkat sembilan, memiliki selisih tujuh poin dari Blaugrana yang menempati puncak klasemen.

Manajer Tottenham Hotspur, Mauricio Pochettino, disebut akan menjadi pengganti Lopetegui di Bernabeu. Namun, mantan pemain Espanyol itu menolak tawaran Los Blancos. Kabarnya Pochettino tidak diberi kebebasan dalam transfer pemain sehingga lebih memilih Tottenham dan White Hart Lane baru di London.

Rumor terus berhembus, Real Madrid disebut terus mengincar manajer-manajer ternama. Tak terpengaruh dengan rumor tersebut, Santiago Solari yang ditunjuk sebagai caretaker atau pengganti sementara Lopetegui tetap fokus menjalankan tugasnya.

Solari merupakan salah satu pemain Los Blancos di era Galacticos pertama. Tetap diberi tempat di Bernabeu sekalipun Real Madrid kedatangan gelandang-gelandang kelas dunia seperti Luis Figo dan Zinedine Zidane.

Ketika Zidane diangkat dari Castilla ke tim senior, Solari yang menangani tim U19 Real Madrid juga mendapatkan promosi sebagai pengganti maestro Prancis tersebut. Wajar apabila akhirnya ia mengikuti jejak Zizou -sapaan Zidane- ke tim utama.

Gelandang asal Brasil, Casemiro bahkan mengakui kemiripan Solari dengan Zizou. “Tidak adil sebenarnya membandingkan satu pelatih dengan yang lainnya. Semua punya karakter masing-masing. Tapi Solari memiliki cara yang sama dengan Zidane,” kata Casemiro.

“Dia adil kepada semua pemain. Hubungan kami dengan dirinya seperti ayah dan anak. Itu juga yang dilakukan oleh Zidane di sini,” lanjutnya.

Mencatatkan empat kemenangan beruntun sebagai pengganti sementara Lopetegui, Solari mendapat kontrak permanen hingga 2021 dari Presiden Real Madrid Florentino Perez. “Dia [Solari] merupakan sosok yang pintar dan selalu seperti itu sejak dulu. Dirinya paham apa yang dibutuhkan Real Madrid dan ke mana klub ini ingin mengarah,” puji Perez.

Namun, setelah Los Blancos disingkirkan Ajax Amsterdam di fase 16 besar Liga Champions 2018/2019, nasib Solari kembali menjadi tanda tanya. Perez disebut akan mengadakan rapat dengan pria asal Argentina itu dan menunjuk nakhoda baru bagi Real Madrid. Nama pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, serta dua mantan nakhoda Los Blancos, Jose Mourinho, dan Zidane disebut akan menjadi pengganti Solari.

Apapun keputusan Perez akhirnya, setidaknya Solari sudah memberikan modal berharga bagi Real Madrid. Ia mengangkat posisi El Real dari peringkat sembilan klasemen La Liga ke posisi tiga sementara.

Hingga pekan ke-26, mereka unggul enam poin dari Getafe (4th) dan berjarak delapan angka dengan Alaves yang menduduki peringkat lima. Dengan kata lain, posisi Real Madrid di zona Liga Champions bisa disebut aman.

Selain membawa Real Madrid kembali ke zona Liga Champions, Solari juga menjadi sosok yang mengangkat Vinicius Junior ke tim utama Los Blancos. ‘Penyelamat’ El Real di tengah krisis kepercayaan diri.

Vini, Vidi, Vici

Foto: ESPN MX

Vinicius menderita cedera pergelanggan kaki dan akan absen selama dua bulan. Bahkan ada yang menyebut musim 2018/2019 sudah berakhir baginya. Padahal dia baru dipanggil untuk membela tim nasional Brasil oleh Tite.

Kehilangan Neymar yang sudah lebih dulu mengalami cedera, Tite mempercayakan pos sayap kiri tim Samba kepada Vinicius. “Kami terbuka untuk talenta baru. Dia tampil lebih dari 30 kali musim ini. Itu luar biasa. Bersaing di tim hebat dan memperlihatkan teknik serta emosi yang dewasa,” puji Tite.

Perkataan Tite itu tidaklah berlebihan jika melihat performa Vinicius bersama Real Madrid. Debut di tim senior ketika masih ditangani Lopetegui, penyerang kelahiran 12 Juli 2000 itu terlibat dalam lima gol Castilla dalam periode kurang dari dua bulan.

Solari yang menangani Vinicius di Castilla langsung membawa mantan pemain Flamengo ke tim senior saat ditunjuk sebagai pengganti Lopetegui. Perlahan tapi pasti, Vinicius diberikan jam terbang oleh Solari. Dirinya bahkan tidak pernah absen sejak 12 Desember 2018.

“Vinicius 18 tahun, Ia memiliki potensial dan segala alasan untuk jadi besar. Dia main dengan pemain-pemain hebat dan dijaga juga oleh mereka,” tutur Solari. Sementara Casemiro mengatakan bahwa publik tidak boleh memberikan beban ke Vinicius, meski sadar dia pemain hebat.

“Dia masih 18 tahun dan sangat cocok untuk Real Madrid. Kita tidak boleh memberi beban. Bayangkan apa yang bisa Vinicius lakukan dua tahun lagi apabila sekarang saja seperti ini”.

Melihat angka, Vinicius mungkin masih kurang mengesankan. Diberi lebih dari 1.600 menit di atas lapangan, ia baru mencatat tiga gol dalam 28 pertandingan. Akan tetapi sebenarnya pengaruh Vinicius tidak bisa dilihat melalui angka.

Ketika dia mulai permanen di tim senior muncul gairah baru dalam permainan Los Blancos. Karim Benzema mulai kembali tajam dan beban Gareth Bale sedikit diringankan. Seakan tahu Real Madrid sedang membutuhkan sosok yang dapat diandalkan dan memberi rasa percaya diri pasca kepergian Ronaldo.

Angkat Nama Castilla

Bukan hanya datang dan menaklukkan ekspektasi yang ada pada dirinya, Vinicius juga secara tidak langsung mengangkat nama Castilla. Tim cadangan Real Madrid ini sering disebut kalah jauh dibandingkan Barcelona B. La Masia lebih baik dari La Fabrica.

Vinicius bukanlah produk asli Real Madrid. Tapi setidaknya dia memang didatangkan untuk membela tim senior Los Blancos. Tidak seperti Barcelona yang memboyong Adama Traore dari Hospitalet hanya untuk dilepas ke Aston Villa. Atau mengontrak Munir dari Rayo Majad, dijanjikan tempat di tim senior, tapi nyatanya tidak diberi kesempatan untuk bersaing.

Menurut data Transfermarkt, selepas era Pep Guardiola, Barcelona mempromosikan 12 pemain dari tim B mereka. Tapi hanya tiga yang masih bertahan di Camp Nou. Terakhir, Sergi Samper hengkang ke Vissel Kobe karena tidak mendapat jam terbang di Barcelona.

Sementara Real Madrid mengorbitkan 10 pemain dari Castilla sejak era Zidane, dan enam dari mereka masih bertahan menggunakan kostum putih-putih, termasuk Vinicius. Peluang yang diberikan kepada Vinicius akan menjadi modal berharga ketika Real Madrid mengincar pemain muda lainnya seperti Joao Felix dari Benfica.

Bahkan hal ini sudah bisa dirasakan dengan penolakan penyerang Santos, Rodrygo Goes, pada Barcelona akhir tahun lalu. Rodrygo kelahiran Januari 2001 lebih memilih Real Madrid sebagai pelabuhan berikutnya.