Virus Corona, Matt Hancock, dan Musuh Bersama Pesepakbola Inggris

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, meminta para pemain Premier League untuk memotong gajinya serta memainkan peran mereka untuk melawan pandemi virus corona.

“Melihat pengorbanan yang dilakukan orang-orang, hal pertama yang bisa dilakukan pesepakbola Premier League adalah memberikan kontribusi,” kata Hancock awal April lalu.

Karena hal ini, Asosiasi Pesepakbola Profesional Inggris, PFA, menyatakan kalau para pemain akan berbagi beban keuangan ini. Dalam pernyataannya, PFA menambahkan bahwa mereka sadar dengan sentimen publik bahwa para pemain harus membayar gaji staf di klub.

“Namun, dalam posisi kami saat ini adalah, sebagai entitas bisnis, kalau klub bisa membayar gaji pemain dan staf, ya mereka yang seharusnya melakukannya,” tulis pernyataan PFA. “Para pemain yang kami ajak bicara mengakui bahwa staf adalah bagian penting dari klub mereka dan mereka tak ingin melihat staf klub di-furlough secara tak adil.”

Menurut PFA, penggunaan skema dukungan dari Pemerintah Inggris mestinya dilakukan saat klub benar-benar membutuhkan skema tersebut. Pasalnya, kalau ada klub yang melakukannya, itu akan merugikan masyarakat secara luas.

“Dalam kasus di mana klub punya sumber daya untuk membayar semua staf, keuntungan dari pemain membayar gaji staf hanya akan melayani bisnis para pemegang saham klub,” tegas PFA.

Selain Hancock, Ketua Komite Digital, Budaya, Media, dan Olahraga, Julian Knight, juga telah menulis surat pada CEO Premier League, Richard Masters. Ia menyerukan adanya tindakan atas upah para pemain. Selain itu, klub yang mem-furlough staf tapi tak memotong gaji pemain, akan dikenai pajak tak terduga jika mereka tak mengubah pendekatannya.

“Tujuan dari skema coronavirus job retention bukanlah untuk mendukung ekonomi klub-klub Premier League,” tulis Knight.

Dalam pernyataannya, PFA menambahkan, “Kami sepenuhnya menerima bahwa para pemain harus fleksibel untuk berbagi beban dari wabah Covid-19 untuk mengamankan masa depan jangka panjang klub mereka sendiri, dan sepakbola pada umumnya.”

Sementara itu, PFA menyebut pengurangan gaji akan berdampak pada pemasukan negara dari pajak. Bila 30 persen gaji selama 12 bulan senilai 500 juta paun, maka pemerintah Inggris akan kehilangan sekitar 200 juta paun dari pemasukan pajak gaji pemain.

Kritikan Keras Wayne Rooney dan Gary Neville

Mantan pemain Manchester United, Wayne Rooney, mengkritik Premier League juga Matt Hancock atas reaksi mereka atas dampak virus corona terhadap sepakbola. Ia mengklaim pernyataan Hancock amatlah memalukan saat menjadi pesepakbola sebagai kambing hitam.

Rooney percaya bahwa pesepakbola kini dijadikan target sasaran. “Kalau pemerintah meminta saya untuk membantu perawat secara finansial, atau membeli ventilator, aku dengan bangga akan melakukannya, selama aku tahu ke mana uangku pergi,” tulis Rooney dalam kolomnya di The Times.

Menurut Rooney, kini ia ada di posisi di mana ia bisa memberi. Akan tetapi tidak semua pesepakbola ada di posisinya. Tiba-tiba pesepakbola diminta gajinya dipotong 30 persen. “Mengapa pesepakbola tiba-tiba jadi kambing hitam?” tanya Rooney.

Rooney pun menegaskan kalau tugas Hancock adalah memberikan yang terbaik dalam krisis ini. Ia balik menuduh apa yang dilakukan Hancock hanyalah untuk mengubah perhatian dari cara pemerintah menangani pandemik ini.

Rekan Rooney di Manchester United, Gary Neville, juga mengkritik Premier League. Menurutnya, Premier League sebagai operator Liga Inggris menangani krisis ini dengan amat buruk. Ia mencontohkan bahwa, Premier League terlambat untuk menghentikan kompetisi, dengan terus melanjutkan satu pertandingan di akhir pekan. Premier League bahkan tak menambahkan dana buat operasional EFL atau Non-League.

“Sepakbola kini terlalu banyak pemangku kepentingan dengan tujuan yang berbeda-beda. Mereka semua bertemu secara rutin, dan bilang kalau mereka ingin berkolaborasi, tapi ketika hal buruk menimpa penggemar, Premier League punya kekuatan dan pergi sendiri-sendiri. Ini terjadi di depan mata kita,” kata Gary.

Sumber: Standard.co.uk