OUR NETWORK

Xi Jinping dan Kabar Baik Bagi Sepakbola China

China kini menjelma sebagai kekuatan finanasial sepakbola dunia, dengan banyaknya pemain bintang yang kini berkiprah di China tidak lepas dari dukungan sang Presiden Xi Jinpiing, namun berapa lamakah itu akan bertahan?

Akhir Februari lalu, Liga Super China (CSL) kembali membuat kejutan dengan merekrut dua pemain kunci Atletico Madrid: Yannick Carrasco dan Nico Gaitan. Keduanya resmi menjadi milik DL Yifang yang baru promosi musim ini dengan biaya 45 juta paun.

CSL sendiri memang kerap menggemparkan bursa transfer dalam beberapa tahun terakhir. Musim lalu, Shanghai SIPG sukses memboyong Oscar dari Chelsea. Nilai transfernya menjadikan Oscar sebagai pemain termahal di benua Asia.

Terobosan CSL tak lepas dari peran Presiden China, Xi Jinping, yang bertekad menempatkan negaranya ke dalam peta kekuatan sepakbola di dunia. Xi Jinping menunjukkan keseriusannya dengan turut mengawasi secara langsung perkembangan sepakbola di Negerinya. Bahkan, konon Xi pun turut ambil bagian dalam negosiasi beberapa pemain bintang yang datang ke CSL. Untuk mendatangkan Oscar misalnya, Xi bahkan terbang secara khusus ke London untuk membantu mempercepat kepindahan Oscar ke Shanghai SIPG.

Beberapa pihak meyakini CSL kini sudah menjadi bentuk kekuatan baru dalam peta persepakbolaan dunia. Sven Goran Eriksson menyatakan bahwa kedatangan pemain bintang akan membawa pengaruh secara signifikan dalam kualitas pemain-pemain dari China. Pertanyaan yang muncul berapa lamakah CSL bisa mempertahankan konsistensi untuk mencapai tujuan mereka sebagai kekuatan baru sepakbola dunia?

Pengaruh Politik pada Sepakbola

Dua minggu setelah transfer Carraso dan Gaitan, The Guardian menunculkan artikel tentang Xi Jinping yang dianggap memiliki potensi menjadi diktator di negaranya. Kekuatan Xi dan elektabilitas yang dimilikinya nyaris tidak mampu disaingi oleh siapapun.

Pergerakan politik Xi memang luar biasa. Setelah ditunjuk menjadi presiden, Xi membuat The Central Leading Group for Comprehensively Deepening Reforms. Ini adalah kelompok yang bertujuan membawa revolusi di China di bidang ekonomi, demokrasi, dan sosial, di bawah asuhan Partai komunis. Tujuan besarnya untuk membuat kepengurusan tata Negara lebih mudah dan cepat dalam satu komando.

Secara tidak langsung Xi menggenggam penuh kekuasaan untuk menentukan kebijakan yang akan diambil. Meskipun demokrasi adalah unsur dari kelompok tersebut, diyakini Xi akan menunjukkan kekuatannya dalam menentukan kebijakan.

Roderick MacFarquhar, penulis buku Mao’s Last Revolution, menjelaskan pola Xi mirip dengan apa yang dilakukan Mao. “Dia (Xi) merupakan sosok yang berkuasa. Ia kini berusia 64 tahun. Dia masih memiliki 20 tahun lagi untuk memimpin. Faktanya ia memiliki kemiripan dalam kepemimpinan Mao dari cara ia mengatur Negaranya”, ungkap MacFarquhar di The Guardian.

Menanti Kebijakan Xi Jinping Selanjutnya

Sejauh ini kebijakan yang diambil oleh Xi dianggap masih cukup baik, meskipun potensi menjadi diktator masih sangat terbuka. Namun Xi seolah tidak peduli dan menerapkan kebijakan-kebijakan yang menurutnya berdampak positif, tidak terkecuali di sepakbola.

Xi Jinping bertujuan membawa persepakbolaan di China menjadi industri baru. Investor-investor dari dalam negeri pun dianggap Xi sangat mampu menjadikan China masuk dalam peta industri sepakbola.

China dianggap salah satu roda industri dunia.  Beberapa pemilik klub besar Eropa seperti AC Milan, Atletico Madrid, Newcastel United, hingga West Bromwich Albion, dimiliki konsorium atau pemilik asal China. Bahkan suksesnya transfer Yannick Carasso dan Nico Gaitan tidak terlepas dari kepemilikan Wang Jianlin di Atletico dan DL Yifang. Nama stadion Atletico Madrid, Wanda Metropolitano diambil dari nama depan grup milik Wang yakni Wanda Group.

Lalu apakah dampaknya bagi Tim Nasional China, dengan banyaknya pemain bintang di liga mereka?

Sejauh ini belum ada dampak yang signifikan bagi Tim Nasional China dari segi prestasi. Anak asuh Marcello Lippi ini gagal lolos ke Piala Dunia Rusia 2018. Satu grup dengan Iran, korea Selatan, Suriah, Uzbekistan dan Qatar di grup A, China justru gagal. Padahal, mengingat liga mereka yang bertaburan bintang, mestinya bisa mendongkrak permainan China.

Apabila memang Xi akan kembali maju dalam pencalonan presiden ke depan, akan menjadi kabar baik bagi persepakbolaan China. Meskipun banyaknya isu miring tentang kepemimpinan Xi, beberapa pihak meyakini apabila Xi kembali terpilih belanja gila-gilaan klub-klub CSL akan kembali terjadi. Bukan tidak mungkin nama-nama besar di sepakbola akan berkarir di Asia. Bahkan klub besar Shanghai SIPG, sempat diisukan mengaktifkan klausul beli Cristiano Ronaldo dan memberi cek kosong kepada Barcelona untuk melepas Lionel Messi!

Loading...