OUR NETWORK

3 Opsi Realistis Liverpool Menyiasati Absennya Fabinho

Unggul delapan poin dari rival terdekatnya di tabel klasemen Premier League, kini pasukan arahan Juergen Klopp harus menghadapi ujian berat yang kerap ditemui tim yang tampil agresif: Badai cedera. Dimulai dari absennya sang kiper, Allison Becker yang terkena akumulasi kartu merah dan beberapa waktu sebelumnya mengalami masalah cedera betis, kemudian permasalahan cedera Mohamed Salah yang sering kambuh, ditambah mereka dipusingkan dengan cederanya pemain penting mereka, Fabio Henrique Tavares alias Fabinho.

Fabinho memang tak mencetak banyak gol atau asis, hal yang kerapkali dijadikan tolok ukur briliannya seorang pemain. Namun urusan kontribusi di lapangan tengah, Fabinho seakan tak tergantikan bagi Liverpool di musim 2019/2020 ini.

Klopp sangat menyukai Fabinho dengan visi serta determinasinya yang diatas rata-rata. Apalagi ketika berbicara torehan statistiknya selama hampir semusim lebih berseragam Liverpool, terlebih ketika Klopp mulai memasagnya sebagai gelandang bertahan (defensive midfielder) di musim ini.

Rataan ball recoveries nya 6,18 per laga di Premier League. Begitupun dengan catatan akurasi operannya yang mencapai rataan hampir 86%. Tak hanya berkontribusi untuk pertahanan, ia pun menjadi orkestrator tempo permainan Liverpool.

Dalam skema Klopp, pemain berjuluk “Dyson” ini menjadi tumpuan bagi serangan balik The Reds. Juga yang wajib digarisbawahi: Liverpool tak pernah sekalipun menelan kekalahan ketika Fabinho bermain di ajang liga. Maka, ia juga yang bertanggung jawab atas rangkaian laga tak terkalahkan Liverpool dalam 14 laga Premier League 2019/2020.

Singkatnya, Fabinho adalah kunci. Dengan absennya Fabinho hingga awal 2020, maka jalan Liverpool akan semakin terjal. Namun apa yang sebaiknya Liverpool lakukan untuk tetap memelihara raihan impresif sejauh ini?

Mengubah formasi dasar 4-3-3 ke 4-2-3-1

Klopp identik dengan formasi dasar 4-3-3 semenjak melatih di Jerman. Pola ini juga yang ia terapkan demi mendukung pendekatan gegenpressing yang seakan menjadi trademark-nya. Dalam kacamata Klopp, salahsatu dari 3 gelandangnya akan berperan menjadi DM yang berfungsi sebagai sentral transisi bertahan ke menyerang (atau sebaliknya), dan juga melancarkan bola-bola through pass yang acapkali menjadi senjata mematikan Liverpool.

Dengan absennya Fabinho, maka opsi yang paling mungkin adalah mengubah formasi dasar mereka menjadi 4-2-3-1 dengan mempertimbangkan stok pemain gelandang mereka yang tidak memiliki kemampuan yang  setidaknya mendekati performa Fabinho. Naby Keita yang ditebus dengan harga mahal sejauh ini belum mampu memikat hati Klopp, ditambah dengan persoalan cederanya. Pun dengan James Milner dan Gino Wijnaldum yang lebih bertipikal destroyer. Maka, 4-2-3-1 dengan mengkombinasikan Milner dan Wijnaldum akan lebih memberikan keseimbangan.

Mengambalikan peran Henderson

Sebelum Liverpool menebus Fabinho senilai 39 juta paun dari Monaco pada musim panas 2018, Henderson tak tergantikan di posisi ini. Secara statistik, Henderson memang lebih terlibat salam pertahanan ketimbang kontribusinya untuk membantu penyerangan Liverpool.

Klopp memang sempat memasang Hendo di posisi Fabinho dalam kemenangan 2-1 atas Brighton, laga perdana mereka tanpa Fabinho di musim ini. Selama dua tahun gelandang didikan akademi Sunderland ini menjadi

Namun yang menjadi catatan, bahwa Henderson tak memiliki kemampuan sebaik Fabinho ketika The Reds menguasai bola. Tipikalnya yang bertahan membuat Henderson tak nyaman membawa bola berlama-lama dan melepaskan umpan berisiko seperti through ball atau direct pass menuju area berbahaya lawan seperti yang kerap dilakukan Fabinho.

Sebagai perbandingan, Henderson melakukan jumlah operan sukses rata-rata  sebanyak 85  (Fabinho sebanyak 76) ketika bermain sebagai gelandang terdalam tetapi memainkan persentase lebih kecil dari mereka maju (23% dibandingkan dengan Fabinho yakni 27%).

Pun demikian, jangan abaikan fakta bahwa Henderson-lah yang mampu mengantarkan Liverpool menjuarai titel Liga Champions ke-6 nya musim lalu. Maka, pilihan untuk kembali mengembalikan sang kapten untuk peran yang kini ditempati Fabinho adalah salah satu pilihan logis. Meskipun permainan ofensif yang ditunjukan Liverpool selama 14 laga di ajang liga akan berkurang.

Mencoba Gini Wijnaldum sebagai “No.6”

Untuk satu alasan, Liverpool mendatangkan Giorginio Wijnaldum: Versatile alias serba guna. Gelandang timnas Oranje membuktikan bahwa dirinya bisa tampil baik dimainkan di posisi manapun selama itu menjadi gelandang.

Sebenarnya, Wijnaldum lebih suka dimainkan pada posisi gelandang serang, seperti apa yang ia perankan di Newcastle atau timnas Belanda. Di Liverpool, menjadi jembatan antara pemain “No.6” dan “No.8”

Percobaan berbau perjudian ini akan sedikit memberikan ruang bagi Henderson untuk lebih bermain ofensif. Dengan kelebihan kemampuan visi yang dimiliki Wijnaldum, maka formasi khas 4-3-3 dapat tetap dimainkan Klopp. Ditambah, rencana ini akan memberikan kesempatan bagi Naby Keita untuk mendapatkan jam terbang reguler.

***

Liverpool kini unggul 8 poin dari penguntit utamanya, Leicester City. Dengan padatnya jadwal yang dihadapi Juergen Klopp dan anak asuhannya di bulan Desember ini, rasa-rasanya ketiga pilihan ini sangat mungkin untuk dicoba.

Bahkan Liverpool sempat mencoba menjalankan duet pivot Wijnaldum-Henderson dan memainkan formasi dasar 4-2-3-1 kala mengalahkan Everton dengan skor mencolok 5-2 (4/12). Di laga tersebut, Liverpool lebih terlihat solid di lini tengah meski banyak memberikan peluang bagi sang tamu.

Mengingat setidaknya ada 5 pertandingan (5 PL dan 1 Piala Liga) tersisa menuju 2020, Liverpool memiliki kemungkinan besar akan memainkan salah satu atau bahkan semua opsi di atas demi memperlebar selisih poin dari para pesaingnya musim ini serta menambah rekor 30 laga tak terkalahkan di Premier League.

Loading...