Prancis adalah sebuah negara maju di kawasan Eropa Barat. Dengan segala sumber daya yang dimiliki, juga kekuatan politiknya di kancah dunia, tentu banyak yang menyangka bahwa segala yang dilakukannya amat mudah.

Prancis tak pernah benar-benar memiliki prestasi secara timnas. Sebelum era 1980-an, Prancis malah kesulitan tampil di Piala Dunia maupun Piala Eropa.

Sejak menjadi juara Piala Dunia 1998, perlahan dominasi Prancis sebagai kesebelasan nasional maupun produsen talenta-talenta terbaik dunia telah mereka buktikan. Bila dihitung dari pencapaiannya sejak tahun itu, Prancis telah mencapai 3 kali final Piala Dunia (2006, 2018, 2022) yang satu diantaranya menghasilkan trofi Piala Dunia kedua bagi mereka.

Urusan mencetak talenta terbaik dunia, bisa dibilang mereka adalah jagonya. Dalam dua dekade terakhir, nama fenomenal seperti Zinedine Zidane, Thierry Henry, Patrick Vieira, atau Claude Makelele telah dicatatkan sebagai legenda sepakbola dunia.

Kegagalan Tampil Piala Dunia, Kelahiran INF dan Cetak Biru Sepakbola Prancis

Kegagalan Prancis untuk tampil di 3 edisi Piala Dunia dan 3 Piala Eropa secara beruntun sejak 1962 hingga 1972 membuat Prancis berpikir untuk melakukan suatu perubahan besar untuk mengatur sepakbola mereka.

Bebagai kota di Prancis mulai membangun pelatihan bagi pemain muda, terutama di kota-kota yang berpenduduk cukup besar. Federasi Sepakbola Prancis (FFF) juga membangun pusat pelatihan pemain pertamanya, National Center of Excelence dan Institut National de Football (INF) yang didirikan di kota Vichy, terletak di sekitar sungai Allier, di tengah Prancis.

Ternyata, langkah yang mereka lakukan tak memiliki dampak signifikan untuk mengenemukan dan mengembangkan talenta baru di persepakbolaan Prancis. Karena itu, lahirlah sebuah “cetak biru” yakni The Professional Football Charter yang dibuat pada 1973 yang memiliki poin-poin:

– Setiap klub profesional wajib memiliki akademi

– Menambah fasilitas yang tersedia bagi para pemain muda

– Meningkatkan mutu pelatih untuk meningkatkan mutu pemain muda yang akan dihasilkan

Inisiasi FFF dan pemerintah Prancis membuat 32 sekolah khusus sepakbola di tiap daerah serta sekolah reguler yang berfokus kepada akademis namun mengutamakan sepakbola sebagai pelajaran di luar kelas.

Kemudian, pembangunan INF baru di Clairefountaine yang berada lebih dekat dengan Paris memungkinkan banyak talenta yang akan didapat, maupun yang tinggal di sekitaran kota. Fasilitas INF Clairefountaine kala itu adalah yang termewah dan tercanggih.

Masukan berharga dari eks pelatih timnas Prancis, Stefan Kovacs juga menjadi poin penting bagi kemajuan INF Clairefountaine. Kovacs yang merupakan warga negara Rumania, memberi ide agar pemusatan sepakbola harus seperti di negara asalnya: Gratis, Intensif, dan Berfokus kepada pengembangan individu, bukan filosofi sepakbola tertentu.

Syarat untuk masuk ke INF Clairefountaine cukup simpel: Memiliki kewarganegaraan Prancis, berusia 13 hingga 15 tahun, tinggal di sekitaran Paris (region Il De France). Namun sistem penyaringannya yang ketat membuat ada saja talenta yang terlewatkan. Setelah melalui 4 tahap seleksi dari akademi dan trial (uji tanding) hanya 22 orang yang bisa terpilih dalam tiap tahunnya.

Dimitri Payet, N’Golo Kante, Antoine Griezmann, adalah talenta terbaik yang bermain di timnas Les Blues namun tidak sempat mencicipi INF Clairefountaine.

Karena itulah, FFF dan pemerintah Prancis membangun 13 pusat pengembangan pemain muda baru di seluruh Prancis untuk menemukan talenta yang terlewatkan dari setiap daerah. Kini ada total 37 akademi berskala masif di seluruh Prancis yang dapat menampung sekitar 2000 bakat dari usia 15 hingga 20.

Paris Sebagai Daya Tarik Bibit Pesepakbola

Ketika kalian mendengar negara Prancis, apa yang langsung ada di benak kalian? Menara Eiffel!

Itu pula yang terlintas di kepada jutaan orang di bumi ini tentang Prancis. Lalu apa hubungannya dengan perkembangan sepakbola Prancis? Jawabannya adalah Paris.

Langkah Prancis memindahkan Institut National Football (INF) dari Vichy ke Paris pada 1983 adalah salah satu tindakan paling berpengaruh besar bagi perkembangan sepakbolanya hingga seterdepan sekarang.

Kala itu, Vichy yang terkenal sebagai kota spa dan resor tertua di dunia, dianggap terlalu terasing untuk dijangkau. Penduduknya saat itu hanyalah 27 ribu jiwa, sedangkan Paris yang terletak di region Il De France memiliki populasi 10 juta jiwa lebih.

Paris juga menjadi salah satu kota pilihan para imigran yang datang ke Prancis. Hal ini secara sadar diperhatikan oleh pemerintah Prancis. Karena itulah, walaupun imej Paris bukan seperti Madrid atau Milan yang lebih kental dengan imej sepakbolanya, namun sebenarnya Paris adalah sebenar-benarnya kota sepakbola. Talenta sepakbola akan lebih banyak ditemukan di kota yang sangat multi-kultural seperti Paris.

Lingkungan Paris yang berlatar belakang multi-kultural dan banyak berpenduduk anak muda, fasilitas olahraga yang melimpah di setiap sudut kota, dan banyak pertandingan tidak resmi di setiap harinya, membentuk Paris sebagai kota ideal membentuk pesepakbola baru.

Mengutip Euro Football Daily, sejak 2002 hingga 2018 ada 60 pemain yang berlaga di Piala Dunia yang lahir di Paris. Paling banyak di antara kota manapun di dunia.

“Kamu bisa menemukan banyak pemain dengan kualitas teknik tinggi, dalam hal menggiring bola, trik, dan satu lawan satu, dan kebanyakan dari mereka tidak pernah lebih dari 10 menit dari lapangan (di Paris),” ujar Yves Gergaud, pelatih muda dan pemandu bakat yang menemukan talenta muda Prancis seperti Kingsley Coman, Presnel Kimpemb√©, dan Ferland Mendy di Paris Saint -Germain.

Di dalam skuat Prancis yang berpartisipasi di Piala Dunia 2022 Qatar saja ada 11 pemain yang lahir di Paris atau di sekitaran (sub-urban) Paris. Kylian Mbappe yang memiliki ayah seorang Kamerun dan ibu berdarah Aljazair adlaah salah satunya.

Ligue 1, “Liga Petani” yang menanam bibit dan memanen hasilnya

Tak adil rasanya jika hanya menaruh kesuksesan sepakbola Prancis saat ini hanya kepada peran INF Clairefountaine dan Kota Paris saja. Dibaliknya, ada peran liga domestik yang membuat banjir talenta muda.

Ligue 1 Prancis yang dijuluki publik sepakbola luar Prancis sebagai “Farmers League” adalah salah satu kuncinya. Kemunduran yang bisa dibilang buah dari skandal pengaturan skor dan kegagalan finansial yang menimpa Marseille usai tahun 1993, dominasi Lyon pada 1994 hingga 2012, serta minimnya prestasi di ajang kontinental seperti Liga Champions menyebabkan imej Ligue 1 yang medioker.

Peran kerjaan Qatar yang berinvestasi di Paris Saint-Germain secara tak langsung mendongkrak popularitas liga domestik. Kehadiran Neymar, Mbappe, hingga Lionel Messi bertanggung jawab mendongkrak rataan penonton yang hadir ke stadion di Prancis.

Mengutip data transfermarkt, musim 2021/22 mencatat rataan penonton yang hadir mencapai 21 ribu per laga, hanya terpaut 1.972 penonton dari LaLiga Spanyol dan unggul sekitar 3 ribu dari rataan penonton Serie-A Italia.

Data yang dirilis CIES Study pada 2020 menunjukkan dua klub peserta Ligue 1 ada di peringkat ketiga (Olympique Lyonnais) dan keempat (Paris Saint-Gemain) dalam urusan mencetak talenta yang bermain di 5 liga teratas Eropa. Hanya tertinggal dari Real Madrid pada peringkat teratas dan FC Barcelona di peringkat kedua.

CIES Observatory sebelumnya pernah merilis data pada Mei 2019 yang menunjukkan bahwa Prancis adalah eksportir talenta sepakbola terbanyak ke-2 dunia dibelakang Brazil.

Sementara klub Ligue 1 lainnya, Rennes, ada pada peringkat ke-8 dalam urusan mencetak talenta. Unggul atas Manchester United dan Arsenal!

Sadar dengan potensinya sebagai penyalur pemain berbakat, mulai 2020, Ligue 1 Prancis menggunakan slogan: La Ligues Des Talents (Liga-nya Para Talenta) 

****

Kekalahan pahit yang menimpa Prancis atas Argentina pada laga final kemarin mungkin akan menghadirkan kesedihan sesaat, namun tak selamanya. Pondasi kuat yang Prancis dirikan untuk persepakbolaannya sejak 1970-an serta bagaimana cara mereka menjalankan kompetisi domestik membuat mereka tak perlu takut menghadapi ajang Piala Dunia dalam empat atau delapan tahun ke depan.

Dengan rataan usia 24 tahun di lini belakang dan tengah pada Piala Dunia 2022 kemarin, skuat Prancis masih akan menjadi tim unggulan di AS-Kanada-Meksiko nanti. Jangan lupa, Kylian Mbappe akan semakin matang di usianya yang ke-28 tahun. Aurelien Tchouameni akan membalaskan perih kegagalan penalti di usia ke-26. Eduardo Camavinga baru akan menginjak usia 24 tahun di benua Amerika nanti.

Karena setelah matahari bersinar cerah di Argentina, kelak Ayam Jantan kembali berkokok di Prancis!