Futbol Miami dan Menyoal Maraknya Penggunaan Football Club di Amerika Serikat

Kompetisi Sepakbola Amerika Serikat, MLS, mengumumkan bahwa klub yang diprakarsai oleh David Beckham dan kolega akhirnya lolos kualifikasi untuk memegang lisensi franchise setelah sempat terkendala masalah stadion yang akan menjadi kandang mereka di Miami. Meskipun nama klub belum resmi rilis, MLS mengumumkan klub baru tersebut dengan nama Futbol Miami. Football

Bila dicermati, penggunaan kata fútbol ini sesungguhnya amat menarik perhatian. Alih-alih menggunakan kata ‘soccer’ yang lebih bercitarasa Amerika, MLS memilih kata dalam bahasa Spanyol yang memiliki arti yang sama. Hal ini juga semakin menegaskan bahwa klub-klub sepakbola di Amerika Serikat kian akrab dengan penamaan ‘Football Club’.

Amerika Serikat hingga kini dikenal sebagai satu-satunya negara yang menggunakan term ‘Soccer’ untuk kompetisi sepakbolanya. Menariknya, dalam satu dekade terakhir, marak klub peserta MLS menggunakan kata Football Club ketimbang Soccer Club atau juga menggunakan nama-nama yang lebih populer digunakan disana sebagai klub olahraga.

Salah satu pionir dalam penggunaan term Football Club ini adalah FC Dallas. Didirikan pada 1995 sebagai Dallas Burn, alih-alih menggunakan nama yang lebih akrab bagi telinga orang Amerika [formula nama daerah + istilah populer setempat], mereka mengubah nama tersebut menjadi FC Dallas. Klub D.C. United juga sebenarnya termasuk yang mengadopsi nama ‘berbau’ Eropa di MLS, walaupun tidak menyertakan Football Club pada nama resminya. Sementara salah satu pionir lain, Miami Fusion FC yang terbentuk 1997 sudah bubar pada 2001 silam.

Sedikit mengulas, pencipta istilah Soccer sendiri bukanlah orang Amerika Serikat, melainkan orang Inggris. Charles-Wreford Brown, seorang mahasiswa Oxford University diklaim sebagai orang yang mempopulerkan kata ‘soccer’ sebagai kependekan dari association football. Ide ini beliau ciptakan sebagai pembeda dari rugby football atau saat itu populer disingkat ‘rugger’. Meskipun banyak sumber pula menyebutkan kalau istilah ‘soccer’ atau ‘asoccer’ memang lahir dari kebiasaan orang Inggris untuk menyingkat kata dan membuatnya sebagai istilah baru.

Penggunaan Soccer Selain Amerika

Sebenarnya, Amerika Serikat bukan satu-satunya yang menggunakan ‘soccer’ untuk penggunaan sepakbola. Australia dan Selandia Baru juga menggunakan istilah soccer sebagai bahasa resmi yang merujuk pada sepakbola.

Buktinya, asosiasi sepakbola Australia bernama Australian Soccer Federation sebelum diubah menjadi Australia Football Federation pada 2005. Begitu pula dengan kompetisi mereka, NSL (National Soccer League) yang dihentikan pada 2004 dan dilanjutkan sebagai A-League pada 2005. Sementara itu, Asosiasi Sepakbola Selandia Baru yang berdiri dengan nama New Zealand Soccer, memutuskan mengganti dengan New Zealand Football pada 2007.

Sebagaimana terjadi di Amerika, di Australia sudah mulai ‘meng-Eropa-kan’ diri dalam urusan menamai klub, hal ini bisi dilihat dari klub-klub mereka yang dahulu lebih bernuansa “Amerika” seperti Newcastle Jets, Perth Glory, Melbourne Knight, atau Marconi Stallions, dan kemudian muncul nama-nama seperti Sydney FC atau Melbourne City FC. Nama terakhir merupakan anggota dari City Football Group milik Syeikh Mansoor.

Faktor Latar Belakang Etnis Penggemar

Kembali ke Amerika, salah satu alasan mengapa istilah Football kini lebih diinginkan oleh para suporter sepakbola Amerika sendiri. Maklum, sebagai negara multi etnis dan kultur, basis penggemar sepakbola Amerika Serikat biasanya merupakan warga kulit putih asal Eropa atau Amerika Latin. Hal ini menjadikan mereka rutin menonton pertandingan sepakbola eropa dan juga bagi para orang Latin atau Hispanik disana mengikuti pemain idola mereka yang juga bermain di liga-liga top eropa. Sehingga, sepakbola di Amerika perlahan-lahan bergeser menjadi lebih Eropa dari segi kultur suporter.

Ini terbukti saat Chivas USA masih berlaga di MLS. Sebagai ‘adik’ dari klub tersukses di Meksiko, Guadalajara, Chivas yang bermarkas di California memiliki basis pendukung terbesar orang-orang Hispanik yang mungkin orang tuanya memiliki kedekatan emosional dengan klub tersebut.

Dalam hal ini, inilah yang dicoba pendekatannya oleh ‘pengganti’ franchise Chivas di Los Angeles, yaitu Los Angeles Football Club. Dan ini juga yang mungkin coba dilakukan oleh Futbol Miami karena Miami merupakan ‘Ibukota Latin Amerika’ dengan 70 persen warganya merupakan keturunan Latin. Sehingga, penggunaan nama Futbol merepresentasikan basis penggemar mereka.

Faktor Bisnis Semata

Selain faktor latar belakang etnis dan kultur dari suporter, pengaruh investor asal Eropa yang menginvestasikan uangnya di MLS menjadikan klub mereka mencantumkan FC, padahal istilah ‘football’ disana lebih identik dengan American Football. Begitu pula yang diakukan oleh peserta MLS asal Kanada, Toronto FC yang namanya dipilih dari hasil polling di internet.

Umumnya, klub-klub yang lahir setelah tahun 2007 menggunakan istilah FC setelah nama klubnya. Tercatat, mereka yang menggunakan nama FC setelah Toronto yaitu Seattle Sounders FC (2009), NYCFC (2015), Minnesota United FC (2017), Atlanta United FC (2017), dan yang terakhir Los Angeles FC yang baru akan mengikuti debutnya di MLS musim 2018.

Salah satu pemilik dari LAFC, Henry Nguyen mengatakan bahwa Los Angeles Football Club adalah nama yang mencerminkan visi mereka. “Gurauanku adalah inilah satu-satunya sepakbola (football) di Los Angeles. Di dunia, sepakbola berarti sesuatu. Ini mencerminkan visi dan aspirasi kami,” ujarnya seperti dikutip Sports Illustrated.

Hadirnya LAFC juga disinyalir akan merangkul penggemar sepakbola Hispanik dan Latin yang kehilangan tim di California sepeninggal Chivas USA. Untuk diketahui, pemilik Cardiff City Vincent Tan juga termasuk salah satu pemegang saham LAFC.

Hadirnya Futbol Miami juga diperkirakan akan semakin memanaskan persaingan merebut pangsa pasar pendukung Hispanik dan Latin di kompetisi MLS. Komisoner MLS, Don Garber menyetujui kalau peran mereka memang vital bagi persepakbolaan Amerika terutama di Miami.

“Kota ini adalah salah satu yang terpenting di negara kami. Secara kultural, ia begitu kaya. Di sini kultur Hispanik dan Latino begitu kental dan dalam konstelasi perpolitikan zaman sekarang, peran mereka begitu krusial,” ujarnya seperti dikutip Dailymail.

Bukan tidak mungin, nantinya akan ada ‘derby’ baru yang menghadirkan LAFC dan Futbol Miami sebagai duel tim sengit yang berbasis penggemar Hispanik atau rival sesama tim perbatasan selatan. Di kompetisi NASL (North American Soccer League), Paolo Maldini pun menginvestaikan uangnya di klub yang dinamai Miami FC.

MLS dikenal sebagai kompetisi yang sangat dipengaruhi oleh bisnis. Pengamat melihat bahwa pendekatan ‘football club’ ini akan lebih populer dan mendatangkan keuntungan untuk dua atau tiga dekade kedepan dibandingkan keukeuh dengan menggunakan isilah soccer yang menempel pada nama klub.

Fenomena ini juga dibenarkan oleh David Carter, Direktur Eksekutif Sport Business Intitute University of Southern California. Menurutnya, generasi milenial Amerika yang akrab memainkan permainan sepakbola di konsol seperti FIFA dan juga akses mereka dengan internet turut memengaruhi keputusan klub-klub MLS menggunakan pendekatan yang lebih populer di mata pendukung dari generasi muda, dalam hal ini termasuk penamaan klub. Hal yang tidak didapatkan oleh para orang tua mereka yang belum terpengaruh hal-hal tersebut.

***

Sepakbola bagi publik Amerika bukan sekadar siapa yang berhak menyandang term ‘football’ sebenarnya. Juga bukan persoalan siapa yang lebih populer satu sama lain. Sepakbola kini menjadi persoalan bisnis dan tempat berkembangnya komunitas. Jika dulu soccer dianggap pembeda dari American Football, kini hal tersebut berbeda dan begitupun dengan beberapa tahun mendatang. Pada akhirnya, Football atau Soccer, itu hanyalah sebuah nama belaka dan manusia (baca: orang Amerika) lah yang memaknainya.

Editor: Frasetya Vady Aditya