Konser Sebagai Jalan Keluar Stadion Sepi

Its football, not soccer.”

Hampir setiap kali musim Piala Dunia datang kata-kata tersebut muncul. Hanya untuk sekedar menyindir publik Amerika Serikat yang menggunakan istilah lain kala merujuk ke sepakbola. Publik Amerika Serikat punya alasan tersendiri mengapa mereka menggunakan istilah tersebut. Bukan hanya soccer dan football, istilah ‘P.K’ juga sering menjadi bahan cemoohan. Padahal itu hanya singkatan dari ‘penalty kick‘.

Dunia seperti enggan mendengarkan publik Paman Sam. Seperti berkata: “Jangan sampai olahraga ini terkena ‘Amerikanisasi'”. Padahal, Amerika Serikat memiliki konsep yang dapat membantu sepakbola semakin menguntungkan. Bukan hanya menguntungkan bagi pemilik klub dan liga, tapi juga penonton di stadion.

Dalam dunia sepakbola, sering terdengar teriakan ‘against modern football‘. Perkataan itu biasanya nyaring keluar dari mulut suporter garis keras sebuah kesebelasan. Mereka kerap melancarkan protes kepada budaya sepakbola. Mulai dari harga tiket sampai siaran telivisi.

Seakan mendewakan nonton langsung ke stadion tanpa memikirkan masa depan klub yang mereka cintai. Padahal hak siar televisi dan penjualan tiket termasuk sumber dana setiap kesebelasan yang bermain di atas lapangan.

Harga tiket yang mahal tentu mengurangi jumlah penonton di stadion. Bahkan tidak jarang juga kelompok suporter melakukan boikot karena menolak harga tiket tersebut. Namun itu bukanlah satu-satunya faktor dalam pengurangan jumlah penonton di dalam stadion. Daya tarik pertandingan juga menjadi faktor.

Awal musim 2018/2019, Real Madrid disebut mencatat rekor penonton terendah dalam 10 tahun terakhir setelah Cristiano Ronaldo hengkang ke Juventus. Sebaliknya, laga pembuka Juventus di Serie-A mengalami peningkatan 68% dari 2017/2018 berkat kehadiran CR7.

Bukan hanya Juventus yang merasakan hal ini. Glasgow Rangers berhasil menjual 30.000 tiket saat memperkenalkan Steven Gerrard di Ibrox Stadium. Jumlah tersebut bertamabah 10.000 saat Gerrard melakoni debutnya lawan kesebelasan divisi lima Inggris, Bury dalam pertandingan pra-musim.

Saat Old Firm Derby melawan Celtic, pihak Rangers sampai harus mengurangi alokasi tiket suporter Bhoys karena banyak pendukung The Gers yang tertarik melihat Steven Gerrard menghadapi tekanan rivalitas terbesar Skotlandia.

Namun, mendatangkan nama sebesar Cristiano Ronaldo atau Steven Gerrard tidak bisa dilakukan setiap musim apalagi pekan. Ketika sebuah kesebelasan sedang berjuang jadi juara atau melakoni partai besar, jumlah penonton tentu akan berada di angka yang besar. Tapi itu juga bukan jaminan.

Tottenham melawan Arsenal pada 2 Maret 2019 misalnya. Partai bertajuk North London Derby itu bukan hanya mempertaruhkan gengsi antar rival, tapi juga tiket Liga Champions. Namun, Wembley hanya diisi oleh 81.332 pengunjung.

Padahal beberapa jam sebelumnya, tiket untuk konser grup boyband asal Korea Selatan, BTS baru saja habis terjual di tempat yang sama. Angka tiket yang terjual untuk konser tersebut masih abu-abu. Tapi jika melihat kapasitas maksimal Wembley setiap menggelar konser, setidaknya 115.000 tiket terjual habis dalam 90 menit. Besarnya animo membuat BTS menggelar konser kedua di Wembley pada hari berikutnya.

Konser inilah yang bisa dicontoh publik ‘football’ dari Amerika Serikat. Setiap pertandingan SuperBowl di Amerika Serikat selalu diisi dengan pertandingan saat jeda. ‘Half-time show‘, begitu mereka menyebutnya. Terkadang, ‘half-time show‘ itu bahkan lebih dinanti daripada pertandingan sesungguhnya.

Andaikan sepakbola berani melakukan hal serupa, mungkin hal itu akan membantu jumlah penonton yang datang ke stadion. Pada akhirnya, pamor kesebelasan dan liga akan naik karena mereka memberikan tempat untuk sesuatu yang tidak eksklusif pada sepakbola. Pamor naik, pendapatan mereka juga ikut meningkatkan. Hanya karena ada massa baru yang datang berkunjung.

Bukan Hal Baru

https://www.youtube.com/watch?v=AC2lMlimPmU

Mungkin terdengar aneh. Bukan berarti ide ini sesuatu yang asing. Liga Jepang sudah sering menerapkannya di setiap pertandingan mereka. Menjalin kerja sama dengan salah satu saluran penyiaran, DAZN, pertandingan-pertandingan di Negeri Matahari terbit kerap mengundang penyanyi terkenal untuk menghibur penonton ketika turun minum.

Alhasil, sangat jarang stadion di Jepang sepi pengunjung. Dengan hal ini, kejadian-kejadian seperti saat Piala FA 2013 mungkin bisa dihindari. Wigan gagal menjual 10.000 tiket untuk pertandingan semi-final melawan Millwall saat itu. Mereka bahkan sempat membukanya untuk umum sebelum mengembalikan tiket ke FA. Pertandingan semi-final Piala FA tidak pernah terbuka untuk umum sebelumnya!

https://twitter.com/AktfTv5xq/status/971095668831014913

Hal serupa juga bisa dilakukan di belahan dunia lainnya dan menyesuaikan dengan warga sekitar mereka. Misalnya, Elton John memainkan piano di Vicarage Road, Robbie Williams bernyanyi saat Preston North End bertanding, dan masih banyak lagi.

Bayangkan Via Vallen tampil di tengah-tengah pertandingan antara Persebaya kontra PSS Sleman. Atau Superman Is Dead mengguncang Kapten I Wayan Dipta. Pasti daya tarik dari sepakbola Indonesia akan semakin bertambah.

Melihat tingkah sepakbola modern terkadang memang mengesalkan. Namun modernisasi itu juga sering kali membantu sepakbola untuk bisa lebih maju dari sebelumnya. Menolak modernisasi sepakbola sama saja meminta permainan yang dicintai dunia mati tertinggal tuntutan zaman.