OUR NETWORK

Liga Perempuan, Sabar atau Mati Suri Lagi

Saat membayangkan lahirnya liga wanita AS itu, saya teringat Mutia Datau -rekan sejawat ketika siaran Liga Brasil di TPI- dan aksi-aksinya menjaga gawang Buana Putri di Galanita,” tulis Mohamad Kusnaeni atau Bung Kus di kolom majalah Sportif edisi 16-29 Juli 1999.

Saat itu, tim nasional putri Amerika Serikat berhasil jadi juara dunia untuk kedua kalinya, mengalahkan Tiongkok lewat adu penalti. Bung Kus merasa prestasi tersebut bisa menjadi katalisator untuk Amerika Serikat membentuk liga sepakbola untuk kaum Hawa. Perkiraan itupun benar.

1 tahun setelah Mia Hamm dan kawan-kawan menjadi juara dunia, Women’s Soccer United Association (WUSA) lahir. Jauh sebelum Amerika Serikat memiliki liga sepakbola putri, di Indonesia kompetisi tersebut sudah vakum selama 10 tahun, bahkan lebih. Itulah mengapa Bung Kus terbayang aksi Mutia Datau bersama Buana Putri yang merupakan penguasa liga sepakbola perempuan alias Galanita.

Meski diingat sebagai liga, Galanita sejatinya masih sebuah turnamen undangan. Menurut Kompas, Galanita 1982 diikuti oleh sembilan klub. Turnamen tersebut berlangsung selama 10 hari, 21-31 Oktober dan dilakukan untuk seleksi pemain tim nasional agar bisa bermain di AFC Women’s Championship pada April 1983 di Thailand. Walau pada akhirnya Indonesia tidak berpartisipasi di kejuaraan tersebut.

Foto: sportshistorycollectibles.com

Namun, saat itu sepakbola perempuan di Indonesia sedang gurih-gurihnya. Sebelumnya di 1981 diciptakan sebuah turnamen bertajuk ‘Piala Kartini’. Setahun kemudian, tim nasional Indonesia menjadi peringkat dua di Piala AFF Perempuan (1982).

Lalu, setelah Buana Putri dan Putri Pagilaran bermain dengan Stade de Reims serta Brugge Cerkelladies di Stadion Utama Senayan (1984), Timnasita kembali berhasil menduduki posisi runner-up pada AFF 1985. Sayangnya setelah itu, entah pergi ke mana turnamen-turnamen untuk para Srikandi lapangan hijau Indonesia.

Liga atau turnamen sepakbola putri mati suri adalah hal biasa. WUSA di Amerika Serikat saja hanya bertahan hingga 2003. Berlangsung tiga musim, Laporan dari Sports Illustrated mengatakan bahwa dalam operasionalnya, liga tersebut kehilangan 100 juta Dollar Amerika Serikat.

Entah berapa jika dirupiahkan pada 2003, namun hal ini disebabkan siaran telivisi dan jumlah penonton yang gagal mencapai ekspektasi. Bahkan para pemain yang mencari nafkah di sana kabarnya rela kehilangan 30% dari gaji mereka, tapi hal itu tetap gagal menyelamatkan liga.

Foto: the18.com

Liga sepakbola perempuan di sana baru lahir lagi pada 2007, Women’s Professional League (WPL) pada 2007, sebelum kemudian berhenti lagi pada 2012. Kini liga kembali digulirkan dengan nama National Women’s Soccer League (NWSL). Salah satu, jika bukan liga sepakbola perempuan terbaik di dunia.

Suporter? Siaran televisi? Bukan masalah! Lebih tepatnya bukan lagi masalah utama. Portland Thorns mungkin memiliki suporter paling fanatik dalam sepak bola perempuan. Telivisi juga sudah bisa diakali streaming di situs resmi liga. Butuh ada perjuangan besar agar mereka bisa seperti ini. Ini juga belum sempurna.

Jadi, liga sepakbola perempuan sering mati suri itu normal. Toh, negara paling berjaya di sepakbola perempuan juga seperti itu. Tapi banyak hal yang bisa jadi biasa jika memang mau dibiasakan. Bentrok antar suporter itu biasa di Eropa. Suporter menjadi telinga dan mata mafia itu biasa di Amerika Selatan. Biasa, bukan berarti benar.

Sepakbola bukan untuk Asosiasi

Saat Indonesia dibantai Taiwan 0-4 (04/8), Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi lontarkan kritikan pedas kepada Timnasita. “Dari warna kulit, saya melihat tim kita yang seperti Tiongkok. Warna kulit lawan lebih hitam, mereka banyak berjemur. Mungkin tim nasional perlu latihan lebih keras dan dijemur seperti tim lawan agar bisa lebih baik mainnya,” kata Edy dikutip bola.com.

Walaupun Taiwan sebenarnya bukan Tiongkok dan perkataan tersebut mungkin berpotensi membuat bangsa yang memperjuangkan demokrasi di Asia Timur sana tersinggung, itulah komentar nyeleneh ketua umum asosiasi sepakbola Indonesia.

Mungkin maksud bapak ketua umum, pesepakbola perempuan Indonesia perlu wadah agar bisa lebih sering bermain bola. Pelatih Indonesia Satia Ijatna mengakui bahwa selama ini Timnasita didominasi pemain futsal. “Sekarang banyak main futsal. Mereka pesepakbola sebenarnya, tapi tidak punya kompetisi jadi main futsal,” jelas Satia pada IDN Times.

Futsal berbeda dengan sepakbola. Para pemainnya tidak dijemur atau kehujanan bersama rumput yang bergoyang dan tanah becek. Main dalam ruangan. FIFA membuat peliputan Galanita Persipura pada 2014 dan mereka berlatih di lapangan futsal akibat minimnya lawan tanding. Itu empat tahun lalu dan wakil Papua tetap mendominasi turnamen sepakbola, Piala Pertiwi dalam dua gelaran terakhir.

Kepada IDN Times, Satia juga seakan meluruskan perkataan ketua umum PSSI untuk Timnasita. “Tadi pak ketua mengatakan untuk liga sepakbola perempuan segera diadakan. Wacana itu sekarang semakin galak.”

Sekretaris Jendral PSSI Ratu Tisha juga menegaskan hal yang sama. ‘Liga 1 Women’ akan berjalan pada 2019. “Kami bisa kerja sama dengan klub atau perkumpulan sepak bola putri yang sudah ada. Kita lihat perkembangannya, semoga meningkatkan semangat sepak bola perempuan di 2019,” katanya dikutip bola.com.

Isu untuk menghidupkan kembali liga sepakbola perempuan sudah ada sejak lama. Bahkan jadi salah satu agenda PSSI. Tapi jika kekalahan membuat wacana ini semakin galak, untuk apa liga dibuat? Agar PSSI bisa menjaring pemain tim nasional? Yakin efektif?

Belajar dari Liga 1 dan Luis Milla

Foto: manutd.com

Pada artikel yang terbit 2 November 2018 berjudul “Indonesia, timnas titipan Luis Milla di AFF 2018” terlihat bagaimana setelah PSSI mempercayakan pelatih asal Spanyol itu untuk jadi nahkoda tim Garuda, skuad tidak banyak berubah. Terlepas dari performa mereka di Liga 1, mayoritas pemain tetap sama. Bahkan mereka juga yang dibawa Bima Sakti ke AFF 2018. Bahkan PSM Makassar yang sedang di puncak tidak memiliki perwakilan.

Anggap saja Liga 1 Women berjalan dengan pesertanya siapapun yang siap. Namun minim peserta yang dinaungi klub-klub populer. Para peserta juga minim dukungan suporter. Dari mana liga ini akan mendapatkan dana? WUSA di Amerika Serikat merugi karena tak dapat mengatasi kedua hal itu. Mereka mati dan memiliki banyak polemik. Sampai tim nasional mereka meraih tiga medali emas secara beruntun, liga baru stabil. Setelah itupun prestasi tim nasional Amerika Serikat di Olimpiade menurun.

Ratu Tisha telah meminta semua klub Liga 1 untuk memiliki tim perempuan dan itu bagus. Sayangnya, untuk klub sekelas Manchester United saja, butuh waktu agar mereka percaya bisa menggerakkan tim perempuan. Real Madrid juga selalu wacana.

Jika tujuannya untuk tim nasional, saat klub-klub Liga 1 sudah yakin, mereka tiba-tiba kehilangan pemain yang diandalkan untuk pemusatan latihan. Kemudian, prestasinya menurun, klub merugi hingga merasa sepak bola perempuan tidak layak jadi investasi. Mati lagi!

Apalagi dari kalender AFC, 2019-2022 tidak ada kompetisi yang bisa diikuti tim nasional putri selain pra-olimpiade yang perjalanannya dimulai dari bulan ini. Ada juga Piala Asia untuk futsal di 2020.

Mengapa tujuan tersebut tidak diubah?

Banyak perempuan yang bisa dan ingin menjadi pesepakbola di Indonesia. Entah berapa, tapi dari Jakarta Equal Festival 2018 hal itu sudah terlihat, Ratu Tisha sendiri mengaku itu. Bahkan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi sudah melihatnya sejak 2016 ketika Piala Bengawan.

“Pihak Kemenpora mendorong kompetisi sepak bola perempuan kembali digulirkan, saya lihat antusias dan potensinya untuk berkembang cukup besar,” katanya dikutip bola.com.

Jadikan PSSI sebagai sarana bagi mereka mewujudkan mimpi sebagai pesepakbola. Bukan mereka yang jadi alat untuk PSSI dan tim nasional Indonesia main di kancah Internasional. Membela tim nasional pasti sudah jadi mimpi mereka yang mau jadi pesepakbola.

Contek UEFA Nations League

Jika memang dengan tim yang ada dan mampu bergerak sejak 2019 ingin dibuatkan liga, konsep dari UEFA Nations League bisa dicontek oleh PSSI. Klub yang ada dibagi ke dalam beberapa grup sesuai daerah jika bukan kemampuan atau peringkat mereka.

UEFA berhasil mengubah uji coba yang sering kali dianggap tidak penting bahkan mimpi buruk untuk klub menjadi sebuah turnamen kompetitif. Bahkan Gibraltar mencatat dua kemenangan beruntun di UEFA Nations League.

Liga Profesional

Foto: Daily Mail / AP

Tapi ingat bahwa tujuannya adalah menciptakan sebuah wadah profesional untuk para pesepakbola perempuan masa kini dan depan agar mereka dapat mewujudkan mimpi hingga akhirnya mengharumkan nama bangsa. Profesional, berarti mereka harus bisa menjadikan sepak bola sebagai mata pencaharian utama.

Ini adalah hal yang rumit. Menjelang UEFA Nations League, para pemain Denmark sempat mogok dari tim nasional karena masalah pembayaran. Mereka adalah pesepakbola dengan nama besar, dari Kasper Schemeichel hingga Christian Eriksen.

Kembali ke sepak bola perempuan Amerika Serikat, meski liga mereka sudah stabil gaji jadi masalah utama di sana. Pasalnya para pesepakbola perempuan Negeri Paman Sam merasa ada diskriminasi antara mereka dengan pemain-pemain MLS.

Gaji minimun para pemain cadangan MLS tahun ini adalah 54,500 Dollar Amerika Serikat. Sementara pemain-pemain NWSL maksimal mendapatkan 44,000 Dollar. Naik dari 2017, tapi tetap di bawah gaji pemain cadangan MLS. Pemain cadangan!

Foto: FIFA TV

Ini bukan masalah di Amerika Serikat saja, bahkan setelah FIFA gandakan hadiah untuk para peserta Women’s World Cup tahun depan, juaranya hanya akan mendapat empat juta Dollar. Ya, hanya. Masalahnya andai kata Samantha Kerr dan Matildas -julukan tim nasional perempuan Australia- menang Piala Dunia 2019, mereka hanya mendapatkan 50% dari uang yang dikantongi Socceroos saat memastikan tiket ke Rusia.

Bisakah PSSI dan klub-klub yang terlibat nantinya memastikan bahwa para pesepakbola di Liga 1 Women dapat menjadikan hal ini sebagai sumber utama uang mereka? Bisakah kita setara terlepas dari jenis kelamin mereka? Atau ini semua hanya sebuah alat dan pemanis belaka?

Andai memang sekedar pemanis, lebih baik bersabar. Tata fondasi dan secara konsisten bersiap. Brasil yang disebut-sebut sebagai raja sepak bola juga butuh enam tahun untuk mengubah turnamen sepakbola perempuan mereka menjadi liga.

Loading...