OUR NETWORK

Petaka VAR dan Rumitnya Menentukan Standar Pelanggaran

Sebenarnya apa itu definisi “pelanggaran”? Apa sebenarnya parameter dari pelanggaran itu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini kerap muncul di era sepakbola sekarang. Pelanggaran, apapun jenisnya, mulai dipersoalkan. Padahal, saat ini sudah ada teknologi yang memfasilitasi pelanggaran, dan semua orang tau, teknologi itu bernama VAR.

Namun, tetap saja, justru pelanggaran menjadi semakin kontroversial. Bahkan, yang terbaru datang dari Lionel Messi, yang marah setelah menyoroti kontroversi seputar VAR. Maka dari kejadian terbaru tersebut, muncul sebuah pemikiran bahwa VAR justru menampilkan perselisihan baru tentang pelanggaran, yaitu “aspek teknologi hanya sebagai penambah hal kontroversial”.

Jadi, gambaran pelanggaran sekarang berada di antara dua situasi, yaitu penggambaran sebelum VAR, dan penggambaran setelah VAR. Yang jelas, saat ini adalah era dimana VAR merupakan usaha maksimal untuk menentukan standar dari sah atau tidaknya sebuah pelanggaran yang terjadi, dan VAR dinilai menjadi hal yang memperumit aspek pelanggaran dengan penetapan keputusan melalui diskusi para wasit pertandingan.

Pemikiran tentang VAR ini dianggap lebih buruk karena setiap pelanggaran yang seharusnya dilihat oleh wasit, harus diperumit dan distandarisasi oleh tampilan video yang telah terekam oleh VAR. Mengambil contoh kasus misalnya dari kemenangan Brasil 2-0 atas Argentina di semifinal Copa América baru-baru ini. Hasil dari pertandingan itu dianggap sebagai tidak lebih dari kemenangan keras dan sedikit kebetulan bagi tim tuan rumah (Brasil).

Argentina sebenarnya tampil lumayan baik, dan itu tercermin pada sundulan Sergio Agüero yang membentur mistar dan upaya Lionel Messi yang kembali baraksi di atas lapangan. Sejauh ini, penampilan di laga lawan Brasil merupakan penampilan terbaik mereka di bawah asuhan Lionel Scaloni, yang mungkin akan digantikan setelah play-off tempat ketiga, dan bahkan mungkin penampilan terbaik mereka sejak kemenangan semifinal atas Paraguay di Copa América 2015.

Di pertandingan itu, Agüero dan Messi menunjukkan kilasan dari bentuk terbaik mereka, dan dibantu oleh dorongan beberapa generasi muda, terutama Lautaro Martínez, Nicolás Tagliafico dan Leandro Paredes. Tapi tetap saja, penampilan mereka tidak terbayarkan dengan baik, dan justru VAR-lah yang mendominasi pertandingan semi final tersebut.

Lionel Messi pun tak segan mengungkapkan semua rasa protesnya dengan mengatakan bahwa semua hal yang ada di atas lapangan tidak memihak Argentina, dan turnamen Copa America kali ini sangat membosankan dengan penerapan VAR yang memang dianggapnya sebagai sebuah masalah baru di kompetisi tersebut.

“Semua hal di atas lapangan tidak memihak kami (Argentina). Orang-orang Conmebol harus melakukan sesuatu. Di turnamen kali ini mereka sudah banyak memberikan omong kosong, dari bola yang mengenai tangan, penalti bodoh, dan di sini mereka menerapkan VAR,” tutur Lionel Messi dilansir dari The Guardian.

“Ada dua hukuman yang jelas bahwa mereka tidak memihak kami. Bagi kami, semua hal-hal kurang menyenangkan itu merugikan kami, tapi bagi mereka itu bukan apa-apa. Oleh karenannya ini semua adalah bagian dari sistem permainan yang memang menjatuhkan kami, dan akhirnya membawa kami keluar dari kompetisi. Bahkan, wasit di kompetisi ini tidak berlaku adil.”

Terdapat dua insiden spesifik –dari pernyataan Lionel Messi– yang terjadi di 20 menit terakhir pertandingan. Pertama, Agüero, yang berusaha lari menuju umpan Messi, jatuh akibat di tekel Dani Alves di dalam kotak penalti. Bola pun melambung dan Jesus lalu menghampiri serta membawanya lari hingga ke depan gawang Argentina, yang lalu dijadikannya sebagai umpan untuk gol kedua Firmino.

Banyak yang menilai jika jatuhnya Aguero ditetapkan sebagai pelanggaran, maka jelas permainan akan berubah secara drastis. Namun semua itu tidak terjadi. Justru dari sinilah VAR menciptakan masalah lain. Sepintas VAR seperti tidak menentukan apa-apa.

Dani Alves, sejauh yang terlihat dari gambar di atas, bahwa ia sedang menatap Messi dan lalu Agüero menabraknya. Meski tak satu pun dari para pemain Argentina tampak terganggu dengan itu, tetap saja kejadian tersebut mulai dipersoalkan. Satu-satunya yang mengajukan banding tentang kejadian itu adalah sang pelatih Scaloni.

Lalu, insiden kedua terjadi, dan kali ini lebih dari sekadar kontak ringan. Ketika itu Nicolás Otamendi bergerak ke daerah sudut kiri kotak penalti Brasil, dan seketika Arthur membloknya dengan dorongan bahu. Sekali lagi, pada sudut pertama, sepertinya tidak ada yang patut diperhatikan, namun ketika semakin banyak sudut yang terlihat, semakin jelas bahwa Arthur mengunci bahu dan mendorongnya ke arah Otamendi.

Buah dari keputusan VAR ini kian berubah menjadi subjektif karena harus melihat dengan pasti suatu pelanggaran dari berbagai sudut. Seperti yang sempat terjadi sebelumnya di Piala Dunia Perempuan ketika Inggris mendapat penalti di semifinal, apa yang tampak di VAR tidak seburuk yang terjadi sesungguhnya, dan dari satu sudut saja, pelanggaran yang terjadi bisa terlihat sangat berbeda dari sudut yang lain.

Maka pertanyaannya sekarang, apakah hal semacam itu bisa dikategorikan sebagai standar sebuah pelangaran? Ini adalah hasil lain dari VAR, yang memang tidak ada seorang pun dapat mempercayai mata mereka meski sudah menonton rekaman VAR berkali-kali. VAR hanya menghasilkan sudut pandang tentang pelanggaran secara subjektif, dan wajar bila hasilnya akan selalu berbeda di mata banyak orang, termasuk wasit.

Para pemain, wasit, dan suporter sebelumnya sudah punya sebuah “stigma” bahwa sesuatu yang “hanya terlihat seperti pelanggaran” adalah bukan pelanggaran. Bahkan, dengan adanya VAR stigma itu bisa jauh lebih buruk lagi. Beberapa hal atau insiden dalam kotak penalti akan terus-menerus diperiksa guna memastikan apakah itu “terlihat seperti pelanggaran” atau bukan. Tujuannya hanya satu, yaitu; menciptakan keputusan yang tepat.

Maka sekali lagi, VAR hanya akan menghasilkan keputusan yang subjektif. Hal seperti ini tampaknya harus segera diperbaiki, atau bahkan dihilangkan saja guna menghasilkan “euforia” sepakbola yang sesungguhnya. VAR hanya akan mengurangi keseruan, dan semestinya keseruan sepakbola juga tidak bisa diganggu dengan apapun, termasuk oleh teknologi (VAR).

 

Catatan redaksi: Kutipan dilansir dari The Guardian