Sepakbola Indonesia kembali berduka. Seperti diungkap Kapolda Jawa Timur, sekitar 127 orang dinyatakan meninggal dunia usai laga Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan. PT Liga Indonesia Baru pun menghentikan kompetisi setidaknya selama sepekan.

Berdasarkan kesaksian penyintas serta video yang beredar di Twitter, ada sejumlah hal yang menjadi sorotan dalam tragedi ini. Satu hal yang pasti, kericuhan di Stadion Kanjuruhan bukan karena bentrok antarsuporter melainkan mitigasi bencana yang buruk dan penanganan massa yang amatir.

Tragedi Hillsborough di Inggris melahirkan “The Taylor Report” yang bukan cuma jadi laporan akhir investigasi, tapi juga mengubah wajah stadion di Inggris secara keseluruhan.
Tragedi Kanjuruhan juga mestinya membuka mata para pemangku kebijakan untuk membuat aturan tegas, dalam hal ini yang mengatur soal stadion.

From Korea With Love Concert

Menghilangkan Pagar Pembatas

Pagar yang akhirnya dijebol paksa di Stadion Hillsborough.

The Taylor Report membuat stadion-stadion di Inggris menghilangkan pagar juga meniadakan tribun berdiri. Kondisi ini sebenarnya mirip dengan yang ada di Indonesia saat ini.

Stadion-stadion di Indonesia mayoritas mirip kerangkeng. Sekeliling tribun dibangun pagar, yang kadang ujung atasnya dibikin tajam atau diberi kawat duri. Penonton yang masuk ke tribun, cuma bisa keluar stadion dari tempat ia masuk tadi. Lapangan sengaja dibikin susah buat diakses agar tidak ada match invasion.

Tragedi Hillsborough dan Valley Parade bisa diminimalisasi andai tak ada pagar yang membatasi tribun dengan lapangan. Korban jiwa mungkin bisa dicegah kalau penonton bisa langsung dievakuasi ke lapangan.

Menghilangkan pagar pembatas tentu membikin kekhawatiran kalau penonton akan masuk ke lapangan dengan mudah. Lantas mereka akan menghajar pemain lawan atau menggebuk wasit sampai puas.

Nyatanya, tidak setiap hari match invasion terjadi di Inggris. Cuma ada beberapa kasus ketika suporter berhasil menyikat pemain lawan, seperti yang terjadi pada Jack Grealish di laga melawan Birmingham pada 2019.

Kalau Inggris saja bisa, mengapa Indonesia yang terkenal dengan budaya ketimuran, adab santun, dan fasih beragama, tidak bisa?

Satu Tiket Satu Kursi

Seat Plan di Stadion Emirates.

Seperti kata pepatah: “Banyak jalan menuju Bandung”. Manusia ada karena mereka berpikir. Itu yang membuat manusia masih hidup dan merusak bumi sampai saat ini.

Akan selalu ada cara dalam setiap permasalahan. Menghilangkan pagar pembatas memperbesar peluang pertandingan terganggu karena penonton masuk ke lapangan.

Premier League sebenarnya sudah menerapkan aturan baru yang diterapkan mulai musim 2022/2023 ini. Penonton yang masuk ke lapangan akan dilarang nyetadion untuk beberapa waktu. Suporter yang membawa bom asap juga suar akan segera dilaporkan ke pihak kepolisian.

Bagaimana cara melarang penonton masuk stadion?

Tentu saja dengan mengidentifikasi mereka. Persib Bandung telah membuat sistem pembelian tiket secara online. Satu kartu identitas cuma boleh membeli satu tiket.

Memang ada sejumlah kekurangan dari sistem ini. Namun, yang menjadi penting adalah klub mengetahui siapa-siapa saja yang masuk ke stadion. Sayangnya, sistem ini menjadi tidak sempurna karena seharusnya setiap penonton mendapatkan nomor kursi. Mereka tak boleh duduk di tempat orang lain dan kalau ada yang menempati bangkunya, ia bisa mengajukan protes.

Sistem Kursi All-seater

Tribun Berdiri.

Penomoran kursi tentu tidak akan berguna kalau tribunnya tidak “all-seater” alias tidak dipasangi kursi. Hal ini bisa menjadi masalah karena terkadang tribun yang dicat sebagai penanda kursi tidaklah cukup.

Pun dengan Stadion Gelora Bung Karno sebelum direnovasi. Sistem kursi di sana adalah bangku yang diberi tanda. Ini tidak cukup karena penonton bisa saja mengambil hak penonton yang lain.

Dengan sistem penomoran, tidak perlu ada pemisahan antartribun atau antarsektor. Di Stadion Si Jalak Harupat, misalnya, terdapat pagar yang mengisolasi tribun barat utama dengan tribun samping utara dan samping selatan. Ketika penonton sudah punya nomor tiket, ia seharusnya duduk di kursinya sesuai dengan tribun dan sektornya.

Sistem penomoran kursi rumit? Masa kalah sama konser K-Pop? Konser musik saja bisa menerapkan penomoran kursi, mengapa pertandingan bola tidak?

Merekrut Steward

Premier League menggunakan steward yang tugasnya menonton penonton. Mereka memerhatikan gerak-gerik penonton dan berjaga bila ada yang akan memasuki lapangan, mereka sudah siap dengan pencegahannya. Selain itu, steward juga biasanya memberikan arahan atau menenangkan penonton yang kelewat emosi.

Sebelum laga, steward bisa difungsikan sebagai penunjuk kursi penonton. Artinya, ia harus tahu setiap baris dan nomor di sektor tempat ia bekerja. Penonton yang sudah membeli tiket dengan nomor kursi, bisa bertanya pada steward kalau kesulitan menemukan kursinya.

Dari sini, steward jadi punya dua fungsi: pengamanan juga pengarahan di dalam stadion. Meski demikian, sebaiknya klub tidak mempekerjakan ormas tertentu yang bisa jadi bekerja tidak profesional.

Akses Keluar-Masuk

Yang sering bikin saya bingung saat menonton pertandingan di Stadion Si Jalak Harupat dan Gelora Bandung Lautan Api, adalah akses masuk penonton. Kedua stadion ini punya beberapa pintu masuk di setiap tribun.

Misalnya tribun utara dan tribun selatan Stadion Si Jalak Harupat masing-masing punya empat pintu. Setiap pintu bisa menampung empat baris suporter. Di setiap pintu ada satu pintu khusus untuk suporter yang keluar.

Anehnya, beberapa kali menyaksikan di Si Jalak Harupat, pintu masuk suporter justru di pintu keluarnya itu tadi. Kalaupun pintu utama yang digunakan, yang dibuka hanya satu baris.

Tertahan di pintu masuk mengakibatkan bottleneck. Hal ini menjadi kesempatan bagi suporter tak bertiket untuk “menyelinap” atau menjadi anak adopsi “orang dalam” agar bisa masuk dengan cara ilegal.

Siapa yang berjaga di pintu masuk? Semestinya tim dari panitia penyelenggara. Tidak disarankan untuk menggunakan aparat keamanan, karena tugas mereka mengamankan, bukan penjaga tiket.

Merenovasi Ulang Stadion

Perubahan-perubahan ini membutuhkan biaya besar. Ditambah lagi, klub di Indonesia mayoritas tak punya stadion: mereka hanya menyewa pada pemerintah daerah.

Namun, ini justru menjadi satu kelebihan. Ketika pemerintah pusat membuat aturan, yang mengimplementasikannya adalah pemerintah daerah. Sehingga standardisasi stadion akan dilakukan oleh pemerintah daerah, bukan klub. Pun saat ada daerah yang ingin adu gengsi dengan menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON), diharapkan stadionnya sudah punya standar yang ditetapkan.

Melihat industri sepakbola Indonesia seperti sekarang ini, tampaknya mustahil bagi klub untuk membangun stadion dan merancangnya dari nol. Namun, bila ingin lebih leluasa, klub bisa melakukan kontrak jangka panjang dengan durasi 50 tahun, misalnya. Lagi pula, menyewa stadion bukanlah sesuatu yang memalukan karena West Ham United pun menyewa London Stadium dengan durasi 99 tahun!

Tragedi Kanjuruhan sudah terjadi. Lumrah untuk mencari siapa yang salah. Tapi masa lalu sudah tak bisa diubah. Semoga keluarga korban dan semua yang terdampak bisa tabah; dan mereka yang bertanggung jawab harus menanggung darah yang telah bersimbah.

Harus ada evaluasi dan menjadi perhatian dari para pemangku kebijakan agar ini jadi tragedi terakhir yang menimpa sepakbola Indonesia.