OUR NETWORK

Penalti Terburuk Dari Diana Ross

Tendangan penalti Roberto Baggio melambung ke atas gawang Claudio Taffarel pada drama adu penalti Piala Dunia 1994. Kegagalan yang membuat Italia gagal meraih gelar juara dunia yang keempat. Sebuah ironi mengingat sang pemain terbaik dunia sekaligus peraih Ballon d’Or 1993 ini diharapkan bisa memutus puasa gelar Piala Dunia mereka yang sudah berlangsung 12 tahun.

Gagalnya penalti Baggio tersebut membuat turnamen Piala Dunia di Amerika Serikat menjadi turnamen yang diawali dan diakhiri oleh tendangan penalti. Tepat sebulan sebelumnya, sebuah penalti yang sama buruknya dengan tendangan Baggio terjadi pada hari pertama penyelenggaraan. Namun, kejadian tersebut bukan terjadi pada pertandingan pertama yang mempertemukan Jerman melawan Bolivia melainkan pada upacara pembukaan.

Sesuai dengan julukannya yaitu negara adikuasa, Amerika Serikat jelas tidak ingin kalah dari negara mana pun dalam banyak hal. Termasuk saat menjadi tuan rumah Piala Dunia. Pesta meriah harus dipersiapkan. Sederet artis papan atas didatangkan sebagai pengisi acara. Mereka juga ingin membuktikan kalau negara yang kerap disebut tidak identik dengan sepakbola ini juga bias menyelenggarakan turnamen akbar ini.

Oprah Winfrey menjadi pembawa acara. Daryl Hall dan Jon Secada menjadi penampil dengan performa musik mereka. Presiden Amerika Serikat terpilih, Bill Clinton juga hadir pada pembukaan tersebut. Namun sorotan utama, jatuh kepada sosok Diana Ross.

Jika berjalan sesuai rencana, maka 67 ribu penonton yang hadir di Soldier Field Chicago akan melihat Diana melangkah di jalan yang dibuat oleh barisan penari lalu bersiap menendang penalti. Gawang seolah menjadi obstacle yang harus ditaklukkan olehnya melalui penalti tersebut. Ketika bola masuk, gawang akan terbelah sekaligus sebagai gerbang bagi Diana untuk melangkah ke panggung.

Acara saat itu benar-benar sangat meriah. Banyak sekali properti yang dipakai untuk membuat acara tersebut menarik untuk disaksikan. Sayangnya, skenario itu tidak terjadi. Pada awalnya, semua berjalan lancar. Sambil menyanyikan lagu hits berjudul “I’m Coming Out” Diana berlari sambil menyanyi di jalan yang sudah dibuat oleh para penari.

Ketika sampai, Diana berdiri sejajar dengan bola di titik penalti. Sambil dilihat oleh ratusan penari di belakang dan jutaan pasang mata di seluruh dunia, ia siap menendang. Beberapa kali Diana terlihat ragu. Dia maju, mundur, lalu maju dan mundur lagi. Seolah tidak ada keyakinan atau mungkin ia merasa tidak mampu untuk mencetak gol. Ia kemudian menendang bola tersebut, tapi yang dikhawatirkan Diana akhirnya terjadi. Bola justru melebar ke samping alih-alih masuk ke dalam gawang.

The Show must go on. Apa pun hasilnya pertunjukan harus terus berlangsung. Meski mendapa kejadian memalukan, namun acara harus tetap berlangsung meriah. Gawang tetap dibuat terbelah dua untuk membuka jalan Diana menuju panggung untuk menyelesaikan aksinya.

Kejadian ini bisa dikatakan sebagai momen memalukan yang pernah terjadi pada pembukaan Piala Dunia. Menurut Liam Daniel Pierce, jurnalis dari Vice, kejadian ini seperti menunjukkan kalau Amerika Serikat memang tidak cocok untuk sepakbola.

“Amerika Serikat itu pandai dalam banyak hal. Mereka juga menghibur pada banyak hal. Tapi amerika buruk pada sepakbola,” tutur Liam dalam tulisannya. Kejadian ini bahkan membuat salah satu presenter Chile tertawa dan mengatakan, “pertanda buruk bagi Amerika Serikat.”

Meski pembukaan diwarnai dengan aksi lucu Diana Ross, namun Piala Dunia 1994 berjalan dengan baik bagi Amerika Serikat. Mereka meraih empat poin pada grup A dari hasil imbang melawan Swiss, menang 2-1 atas Kolombia, dan kalah dari Rumania. Mereka lolos ke 16 besar sebagai peringkat tiga terbaik. Sayangnya, skuat asuhan Bora Milutinovic tersebut harus kalah dari Brasil dengan skor 1-0 melalui gol Bebeto. Meski tersingkir, pencapaian tersebut jauh lebih baik dari empat tahun sebelumnya ketika mereka hanya menyelesaikan turnamen tanpa membawa poin.

Selain itu, Piala Dunia 1994 juga menjadi awal komitmen Amerika Serikat terhadap sepakbola. Tidak mau diberi label sebagai negara yang kurang menyukai sepakbola, mereka kemudian mendirikan Major League Soccer (MLS), kompetisi sepakbola profesional Amerika Serikat yang kemudian menjadi salah satu destinasi menarik bagi para bintang sepakbola dunia untuk mengakhiri karier sepakbolanya.

Loading...