Kebangkitan River Plate Usai Degradasi 2011

26 Juni 2011, Stadion El Monumental, Buenos Aires, menangis. River Plate harus mengakhiri rekor tidak pernah terdegradasi mereka di sepanjang keikutsertaan mereka di persepakbolaan Argentina. River harus menerima hasil 1-3 secara agregat dari klub Cordoba.

Di satu kota yang sama, suporter klub rival, Boca Juniors, berpesta pora. Mereka memang tidak meraih gelar namun bagi mereka, terdegradasinya River Plate jauh lebih layak dirayakan dibandingkan gelar juara. Peti mati diarak keliling kota semalaman, membuat para polisi bekerja ekstra keras untuk mengamankan situasi karena suporter kedua tim bentrok dan perkelahian terjadi di tiap sudut kota.

River Plate harus menerima kenyataan terdegradasi. Namun terdegaradasinya River Plate membuat pihak klub sadar mereka harus berbenah. Konsistensi dalam melakukan pengembangan secara tim dan revolusi besar-besaran mereka lakukan untuk bisa promosi.

Revolusi River Plate

Bisa dibilang degradasinya River Plate ke divisi kedua Argentina meninggalkan berkah tersendiri. River Plate diberikan waktu untuk berbenah secara keseluruhan. Matias Almeyda yang sempat bermain bagi River Plate, memutuskan pensiun dan kemudian menjadi Manajer River Plate musim 2011/2012.

Terdegradasinya River Plate membuat beberapa pemain kelas dunia seperti David Trezeguet dan Leonardo Pozzo kemudian memperkuat River Plate untuk membantu mereka segera naik kembali. River Plate mencatatkan penampilan impresif dengan hanya menelan lima kali kekalahan dan meraih 20 kali kemenanangan. Namun revolusi baru saja dimulai.

Naik ke Premiera Division, tidak lantas membuat pelatih Matias Almeyda dalam posisi yang aman. Saat itu River memilih menghentikan Almeyda karena dianggap tidak satu visi dengan klub. Pasalnya Almeyda diberikan beban cukup besar usai berhasil membawa River Plate kembali. Almeyda diberikan target lolos ke Copa Libertadores 2013-2014.

Tentu saja Almeyda merasa target yang diberikan terlalu sulit. Pasalnya Almeyda menganggap komposisi pemain yang dimilki River sangat tidak sesuai dengan target. Almeyda menuntun Daniel Pasarella juga memberikan kompensasi berupa dana transfer untuk memperkuat skuat dan menjawab tantangan untuk lolos ke Copa Libertadores.

Namun Pasarella enggan menuruti permintaan Almeyda. Almeyda kemudian mengundurkan diri digantikan oleh Ramon Diaz yang menjadi manajer hingga akhir musim. River pun gagal meraih target untuk bisa lolos ke Copa Libertadores 2013/2014.

Meskipun tidak lolos ke Copa Libertadores, River Plate berhak ke Copa Sudamericana setelah mengalahkan Quilmes 5-0 di Trofeo National. Ramon Diaz yang berjasa mengantarkan River Plate meraih gelar juara memutuskan untuk mengundurkan diri hanya berselang satu jam dari perayaan gelar juara yang diraih River Plate saat itu.

Era Baru Bersama Gallardo

Marcello Gallardo kemudian ditunjuk sebagai Manajer River Plate musim 2013/2014. Bersama Gallardo, permainan River Plate sangat atraktif. River tidak hanya bermain untuk menang, tapi juga menghibur. Perpaduan gelandang senior Cristian Ladesma dengan pemain muda Manuel Lanzini menjadi mesin yang membuat River Plate tampil atraktif.

Namun tidak mudah bagi Gallardo bermain atratktif di tiga kompetisi berbeda. River memutuskan untuk fokus di Copa Sudamericana. Pilihan tersebut terbayar, River Plate keluar sebagai juara Copa Sudamericana. Itu adalah gelar pertama mereka di kancah Amerika Selatan selama 17 tahun.

Baca juga: Sebastian Abreu, Petualang di Sepakbola yang Sesungguhnya

Gallardo tetap dipertahankan dan melatih River Plate, misinya saat itu: meraih gelar Copa Libertadores di musim kelimanya bersama River.

Musim 2018/2019, ditatap River Plate dengan cukup apik. Mereka memang menempati posisi ke-11 klasemen sementara Premiera Division. Namun tidak ada yang lebih menegangkan ketika River Plate yang lolos ke final Copa Libertadores, berhadapan dengan klub yang menertawakan mereka ketika degradasi tahun 2011, Boca Juniors.

River Plate tahu intensitas tersebut. Gallardo juga paham betapa sulitnya menghadapi Boca Juniors, musuh abadi mereka yang terkenal apabila keduanya bertemu akan menjadi laga bertajuk Superclassico. Namun Gallardo tetap memegang janjinya untuk bermain mati-matian dan meraih targetnya yang ia canangkan untuk meraih gelar Copa Libertadores di musim kelimanya.

Baca juga: Buenos Aires, Ibu Kota Derby Sepakbola

Di leg pertama di La Bombonera, River Plate sangat dominan, serangan mereka membuat para pemain Boca kelimpungan, sekaligus membuat Agustin Rossi benar-benar sibuk di bawah mistar gawang. Skor 2-2 menjadi hasil yang menguntungkan River, apalagi di leg kedua, River rencananya akan bermain di Monumental Stadium, markas dari River Plate yang sangat tidak ramah bagi para supporter dan pemain Boca.

Insiden sempat terjadi ketika bis pemain Boca dilempar batu dan membuat para pemain Boca cidera dan membuat pihak keamanan Argentina menunjuk tempat netral untuk menggelar leg kedua, sebuah tempat agung yang paling tepat untuk menggelar Copa Libertadores, yakni Santiago Bernabeu ditunjuk oleh CONMEBOL sebagai venue leg kedua.

Baca juga: River Plate Juara Copa Libertadores

River sebenarnya bermain lebih buruk dibanding leg pertama. Koordinasi mereka seolah hilang, namun Gallardo menekankan untuk bermain spartan. Apalagi lawan mereka adalah yang tertawa paling keras ketika River terdegradasi. Itulah yang menyulut semangat pemain-pemain River untuk memenangkan pertandingan dengan skor 3-1.

Buenos Aires berpesta, merah dimana-mana, rasa puas setelah ditertawakan 7 tahun silam, membuat pesta pora dimana-mana. Pendukung River larut dalam kegembiraan, bahkan mereka membentangkan spanduk bertuliskan lirik lagu:

RIBER, DECIME QUE SE SIENTE
HABER JUGADO EL NACIONAL
TE JURO QUE AUNQUE PASEN LOS AÑOS
NUNCA NOS VAMOS A OLVIDAR
QUE TE FUISTE A LA B
QUEMASTE EL MONUMENTAL
ESA MANCHA NO SE BORRA NUNCA MAS
CHE GALLINA SOS CAGÓN, LE PEGASTE A UN JUGADOR
QUE COBARDES LOS BORRACHOS DEL TABLÓN

Lagu tersebut berisi sindiran ketika River terdegradasi ke divisi dua Argentina. Lagu yang diciptakan oleh suporter Boca, yang kemudian dinyanyikan di penjuru kota saat River Plate juara untuk menyindir para suporter Boca, mereka menambah lirik “yang terkubur kini bangkit, yang berdiri kini runtuh.”

Suporter River Plate tidak pernah lupa momen menyakitkan itu, mereka kini bisa membusungkan dada usai mengalahkan rival abadi mereka di ajang bergengsi Copa Libertadores. Raihan ini tidak lepas dari degradasi yang dirasakan River tujuh tahun silam.