Menumpang Kisah Celaka Emiliano Sala

Foto: Kuster & Wildhaber Photography/ flickr.com/photos/wildhaber/5976264120

Pagi hari tanggal 29 Oktober 2018, seorang adik kelas yang terkenal cerdas dan berwawasan luas menumpangi pesawat terbang celaka. Bersama 188 orang lain, pesawat yang semestinya menuju Pangkal Pinang dari Jakarta, jatuh di perairan Tanjungbungin, Karawang. Tidak ada yang selamat.

Kabar duka ini jelas menyedihkan. Saya mengenal korban karena sama-sama satu jurusan kuliah. Meskipun tidak akrab atau sering mengobrol, tapi nyaris tidak mungkin tidak mengenal sosoknya. Beberapa rekan lantas meliput tragedi, menyampaikan belasungkawa ke keluarga, dan menabur bunga. Insiden yang begitu dekat dan lekat, maka perlu menghaturkan doa terbaik untuknya.

Dari perspektif ini, cerita-cerita soal kecelakaan udara memang selalu memilukan. Tidak lebih tinggi dari tragedi lain, tapi membayangkan detik-detik pesawat kolaps dan kita berada di dalamnya sangat mengerikan. Sedikit orang yang paham bagaimana pesawat bekerja dan tidak banyak juga orang pernah menaikinya, maka saat melangkahkan kaki, duduk di dalamnya, dan merasakan tubuh terangkat, saat itulah penumpang sepenuhnya memasrahkan diri.

Semoga kebaikan Tuhan selalu untuknya.

Malapetaka Sala

Tanggal 28 Oktober 2019. Di tempat lain, orang berbeda, pola kehidupan tak sama. Emiliano Sala memberi kemenangan tandang 2-1 timnya, FC Nantes atas Amiens. Dalam periode itu, Sala memang tengah subur-suburnya.

Sepekan sebelumya, dia sumbang hat-trick dalam kemenangan besar Nantes 4-0 dari Toulouse. Pekan pertandingan selanjutnya, Nantes cetak kemenangan terbesar atas Guingamp, lengkap beserta dua gol Sala. Tren bagus penyerang Argentina berlanjut saat menahan imbang 1-1 kuda hitam Rennes. Sala juga turut membuka kemenangan penting timnya saat klub besar Marseille keok 2-3.

Kala itu, Sala jalani periode subur sebagai penyerang. Periode terbaik bagi seorang pstriker Argentina di liga top Eropa, bahkan mengalahkan ketajaman gol Lionel Messi, Gonzalo Higuain, Mauro Icardi, dan Sergio Aguero. Meski tentu saja hanya untuk sementara waktu. Kolom sepak bola mahsyur The Guardian mengapresiasi kinerja penyerang jangkung dengan menyebutnya sebagai, “The Most Prolific Argentinian Striker in Europe”.

Sumbangan 12 gol Sala untuk Nantes menempatkan dirinya berada di urutan ketiga top skor sementara Ligue 1. Capaian ini jelas lumayan, terlebih tidak ada penyerang Nantes yang mampu mencetak gol lebih dari 12 buah sejak musim 1999-2000. Meskipun juga, Nantes masih tercecer di urutan ke-15, setelah terjadi pergantian pelatih dari Miguel Cardoso ke tangan legenda klub, Vahid Halilhodzic.

Gol tandukan tajam Sala ke gawang Marseille menjadi yang terakhir bagi Nantes. Pada jendela transfer Januari ini dia pindah ke Cardiff City. Klub asuhan Neil Warnock terlalu kesengsem dengan performa mengilap juru gedor 28 tahun. Banderol 15 juta paun dilayangkan sekaligus memecahkan rekor transfer klub Wales. Sekalipun Neil Warnock pro kebijakan Brexit yang berimplikasi kepada pembatasan jumlah pekerja asing, tapi kebutuhan akan jasa seorang penyerang haus gol tidak memandang kewarganegaraan.

     Berita terkait: Si Tua Bangka Pendukung Brexit, Neil Warnock

Tampaknya, gol tandukan Sala ke gawang Marseille bukan hanya yang terakhir bagi Nantes, tapi juga yang terakhir dari hidupnya. Selepas berpamitan dengan koleganya di Nantes, Sala segera pergi ke Cardiff dengan jet pribadi. Dia mengunggah foto dengan keterangan, “La ultima ciao @FCNantes” (berarti ucapan selamat tinggal terakhir) beserta emoji hati berwarna merah, kuning-hijau, dan lambaian tangan. Salam terakhir darinya.

Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Setelah ditemani bek dan rekan dekat, Nicolas Pallois ke bandar udara, Sala hilang dalam jet pribadi yang tumbang di perairan Guernsey, Pulau Channel, Inggris. Kepala Penugasan Pencarian di Pulau Channel, John Fitzgerald tidak yakin ada harapan untuk Sala selamat, karena presentasenya sangat tipis.

Sala hilang dalam kondisi laut yang sangat buruk. Dikabarkan media Argentina Ole, Sala sempat mengirim pesan audio lewat WhatsApp betapa dia ketakutan alami turbulensi pesawat. Tipisnya harapan Sala ditemukan seketika menyatukan dua pihak klub melakukan aksi simpatik.

Pernyataan bela sungkawa dilayangkan petinggi klub. Suporter Nantes membawa bunga kuning-hijau berkumpul di pusat kota menyanyikan nama Sala. Penggemar Cardiff pun senada. Mereka meletakkan bunga belasungkawa di depan patung legenda Cardiff, kapten Fred Keenor peraih Piala FA 1927. Sekalipun baru sebatas tanda tangan kontrak dan wawancara perkenalan, bagi mereka Sala adalah pemain terbaik yang Cardiff tidak pernah miliki.

Melihat cuplikan pertandingan Nantes, gaya main Sala khas seorang target-man. Penyelesaiannya klinis, memanfaatkan peluang secara oportunis. Dia sadar, hanya lewat gol kariernya bisa hidup. Sebetulnya patut dinantikan bagaimana duetnya bersama Oumar Niasse di lini depan Cardiff. Duet tengah kompetisi bertujuan bawa kabur Bluebirds dari zona degradasi. Penasaran sekiranya berapa harga Sala di permainan Fantasy Premier League, karena kemungkinan bisa menjadi poin pembeda para pemain yang memasangnya.

Lahir di Santa Fe, Sala muda berkarier di klub relasi Girondins Bordeaux, Proyecto Crecer. Baru pada 2010, bakatnya tiba di Les Girondins. Dipinjamkan lebih dulu ke klub gurem divisi tiga dan dua Prancis, Sala baru menembus tim utama Bordeaux musim 2014-15. Sayang, kontribusinya memble. Dia dikirim ke Caen di paruh musim kedua. Performa lumayannya memukau Nantes sampai akhirnya meningkat signifikan pada paruh pertama Ligue 1 musim ini.

Tragedi Lain

Rasanya masih lekat dalam ingatan kecelakaan pesawat yang ditumpangi pemilik Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha. Dukanya masih kental terasa bagi Leicester yang dia antar jadi juara penuh kejutan. Belum jauh juga waktu tragedi Pesawat LaMia 2933 yang menewaskan 71 anggota klub Brasil, Chapecoense tahun 2016.

Kisah-kisah yang berdekatan ini intens mengingatkan publik sepak bola kepada kecelakaan pesawat yang dialami tim Manchester United di Munich, Jerman tahun 1958 ataupun tragedi Superga sembilan tahun sebelumnya yang menewaskan mayoritas skuat Grande Torino. Perlu ketabahan besar menyikapi setiap tragedi.

Meski begitu, situs pencatat rasio kecelekaan udara, Plane Crash Info menyebutkan presentase tragedi ini sangat minim terjadi. Presentasenya sekitar satu kasus berbanding delapan juta kali penerbangan. Jika penumpang menaiki pesawat setiap hari dengan maskapai berbeda-beda, statistiknya lebih dari 21.000 tahun untuknya baru alami kecelakaan. Hitung-hitungan di atas kertas, rasionya sedikit.

Sekalipun memang rasio ini bukan jadi sebuah penilaian atas risiko kecelakaan terbaru. Melainkan sebatas analisis angka kecelakaan yang terjadi di masa lalu dan membantu pembuatan prediksi di masa depan. Sebab, banyak faktor lain seperti kelalaian manusia yang memungkinan kecelakaan udara terjadi kapanpun. Kecelakaan jet pribadi pun tidak masuk hitungan.

Satu sosok terkenal yang pernah selamat dari kecelakaan pesawat, yakni drummer band blink-182, Travis Barker. Pada September 2008, jet yang ditumpanginya kolaps di California Selatan. Hanya dua orang yang selamat, termasuk dirinya. Untuk bisa hidup, Travis perlu 16 kali operasi, 48 jam transfusi darah, dan penanganan trauma pascatragedi bertahun-tahun.

“Saya membuka pintu dan tangan saya terbakar. Saya basah kuyup dengan bahan bakar jet dan diselimuti api. Saya lari sekencang mungkin. Saya berlari untuk keluarga saya,” cerita Travis kepada Rolling Stone.

Rekannya yang selamat, Adam Goldstein lakukan bunuh diri dengan overdosis setahun kemudian. Travis juga menenggak banyak obat menghilangkan traumanya. Dia bertahun-tahun enggan melihat ke langit, apalagi pesawat yang melintas. Perlahan, hidupnya kembali normal dan blink-182 yang sempat vakum, aktif kembali dengan beragam rilisan.

Selamat dari kecelakaan tentu saja anugerah. Bisa hidup normal lagi juga butuh usaha susah payah. Nyaris musykil Sala ditemukan selamat, sekaligus perlu keajaiban untuknya bermain sepak bola dengan cepat.

Kisah tragedi pesawat bukan untuk menumbuhkan trauma untuk siapapun. Dengan menumpangi kisah-kisah mereka, rasa empati semestinya terbangun. Terus berserah diri atas tragedi yang bisa tiba kapanpun. Kedatangannya bisa berlangsung dimana saja, tanpa perlu dinanti. Maka jadikannya sebagai pesan pengingat untuk terus berbuat baik di sisa hidup ini.

Sumber: The Guardian/Ole/BBC/Rolling Stone