OUR NETWORK

Martin Glenn, Kontroversi, dan Prestasi Timnas Inggris

Setelah CEO Premier League, Richard Scudamore, kali ini CEO FA, Martin Glenn, akan pergi dan undur diri dari jabatanya setelah empat tahun berkuasa. Ketua FA, Greg Clarke, kemudian memberi penghormatan dan rasa berterimakasihnya atas jasa-jasa Glenn selama ini.

Martin Glenn sendiri akan berhenti dari semua pekerjaannya sebagai CEO FA pada akhir musim nanti. Ia memutuskan untuk mengakhiri masa empat tahun kekuasannya itu dengan meninggalkan banyak perubahan kelembagaan dan kontroversi di publik sepakbola Inggris.

Kendati begitu, sebenarnya pria berusia 58 tahun ini telah memimpin periode-periode paling historis untuk timnas Inggris. Ia terbilang sangat sukses setelah berhasil memulai pertumbuhan signifikan di berbagai aspek, khususnya pertumbuhan pesat sepakbola perempuan di Inggris.

Namun selain presentasinya itu, Martin Glenn juga terlibat dalam berbagai skandal, dari urusan soal Eni Aluko hingga didepaknya Sam Allardyce setelah hanya 67 hari bekerja sebagai pelatih Inggris. Bahkan belakangan ini, ia sempat merasa malu ketika rencana penjualan Stadion Wembley gagal setelah dewan FA merasa sangat keberatan dan tidak setuju dengan semua rencananya itu.

Baca juga: Demi Investasi, Stadion Wembley Segera Dijual?

Pencapaian Martin Glenn untuk FA

Pencapaian-pencapaian FA selama masa jabatan Martin Glenn ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Pria sepertinya telah membuat organisasi sepakbola tertua di dunia itu menjadi lebih terstruktur. Ia bahkan sempat berjanji pada waktu pengangkatannya sebagai CEO, dengan mengatakan bahwa ia memiliki ambisi besar untuk membuat Inggris kembali jadi perhatian dunia.

“Ketika saya menerima peran sebagai CEO di FA ini, saya ditugaskan untuk meningkatkan efektivitas organisasi dan membuatnya aman secara finansial. Saya juga memiliki keyakinan kuat bahwa kinerja timnas Inggris di turnamen bisa meningkat, maka saya harus membuatnya begitu,“ tutur Martin Glenn di awal pengangkatannya sebagai CEO.

“Saya akan meninggalkan semua perasaan bangga dengan keberhasilan kinerja di timnas Inggris. Saya yakin bahwa pusat yang kami dirikan di St George’s Park, akan menjadi pusat pelatihan kelas dunia yang akan memastikan bahwa tim akan terus membangun kesuksesan. Saya berharap FA akan dapat membangun semua ambisi ini dengan mempercepat terobosan pemain berkualitas di timnas Inggris.”

Benar saja, ambisi Glenn tersebut terbukti dalam tiga tahun ke belakang, meski Inggris masih belum mendapatkan satupun gelar sampai detik ini. Bahkan Inggris berhasil mencapai semifinal Piala Dunia pada musim panas lalu, dan sempat mendapat posisi ketiga di turnamen Piala Dunia Perempuan pada 2015. Prestasi ini juga diiringi oleh kesuksesan yang meluas di semua kelompok usia muda, dan hal inilah yang Glenn sebut sebagai pembuktian dari kualitas  FA, yang dibangun di sekitar pusat St George’s Park.

Baca juga: Sterling, Media, dan Rasisme di Inggris

Sejak Mertin Glenn tiba di FA, ia telah sangat bertanggung jawab dalam segala tuntutan tugasnya, dari pembenahan aspek pemain muda timnas Inggris, sampai pencapaian prestasi gelar Piala Eropa pada 2017 yang diraih timnas Inggris U-19.

Dengan demikian, Glenn telah dikreditkan sebagai orang yang berhasil membuat peningkatan secara profesional dalam badan kelembagaan sepakbola Inggris. Hal inilah yang juga kemudian diapresiasi oleh ketua FA, Greg Clarke, yang memberi penghormatan spesial kepada Glenn.

“Atas nama dewan FA, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Martin Glenn atas segala pencapaiannya ini dalam membangun dan memimpin tim manajemen FA. Saya juga sangat mengapreasiasi segala bentuk usahanya dalam mengubah segala aspek di dalam organisasi kami,” ungkap Greg Clarke dilansir dari The Guardian.

“Integritas, komitmen, energi, dan semangatnya untuk sepakbola telah mendukung peningkatan kualitas organiasi, baik di dalam maupun luar lapangan. Keberhasilan komersial yang dihasilkannya juga telah membiayai perubahan yang sangat signifikan dalam perkembangan sepakbola perempuan, pembangunan St George’s Park, Piala FA, dan tim nasional.“

“Martin telah meninggalkan banyak pencapaian sebagai warisannya untuk sebuah organisasi tua di dunia, yang sesuai dengan tujuan dengan lebih beragam. Organisasi ini menjadi organisasi yang dihormati secara internasional berkatnya, dan sekarang kami siap untuk lebih maju ke tingkat berikutnya.”

Soal skandal-skandal Martin Glenn

Tahun lalu, Glenn mengumumkan rencana untuk menggandakan jumlah peserta dalam sepakbola perempuan di Inggris, dan penanganan penuh untuk membuat kompetisi baru bernama FA Women’s Super League. Namun, keterkaitannya dengan pengembangan sepakbola perempuan ini membuatnya dipandang negatif, karena semua orang akan kembali mengingat skanda soal bagaimana caranya menangani urusan Aluko.

FA juga sempat dituduh gagal dalam menanggapi kasus tuduhan rasisme secara serius terhadap pelatih sepakbola perempuan Inggris kala itu, Mark Sampson. Glenn kemudian langsung dikritik karena penyelidikan internal yang dibuatnya tidak berhasil membebaskan Sampson dari keterpurukannya.

Selain itu, Martin Glenn juga sangat dianggap tidak konsisten dan dicap buruk oleh publik sepakbola Inggris ketika berperan menjadi orang dibalik pengangkatan dan pemecatan Sam Allardyce sebagai pelatih The Three Lions. Pria berkebangsaan Inggris ini semakin berada dalam keterpurukan ketika gagal menjual Wembley kepada pemilik Fulham, Shahid Khan, setelah ia meremehkan semua langkah dari Dewan FA.

Padahal Glenn sendiri sudah berjanji untuk memasukkan semua hasil dari penjualan Stadion Wembley ke pendanaan yang akan diperluas untuk menyelesaikan persoalan akar rumput sepakbola di Inggris. Namun apadaya, semua rencana yang dibuatnya itu gagal total saat Khan menarik semua tawarannya yang berjumlah 600 juta paun pada Oktober lalu.

***

Terlepas dari semua lika-liku Martin Glenn tersebut, FA saat ini telah menyusun daftar pendek untuk calon pengganti pria kontroversial itu. Daftar penggantinya ini kemudian diharapkan bisa langsung terpilih, dan mengambil alih kursi jabatannya sebelum Euro 2020.

 

Sumber: The Guardian