OUR NETWORK

Jasa Austria-Hungaria dalam Taktik Sepakbola Modern

Timnas Austria dan Timnas Hungaria mungkin tidak terlalu bertaji sejak abad ke 21, namun jika menilik kembali di era awal abad 20, kedua negara ini berjasa besar untuk memajukan sepakbola seperti saat ini.

Inggris memang secara sudah de facto menyatakan dirinya sebagai negara penemu sepakbola. Apa yang kurang? Dari mulai bentuk gawang, dimensi lapangan, jumlah pemain, hingga aturan-aturan dasar, semuanya ditemukan di Inggris, semua sudah mengakui hal tersebut.

Namun revolusi terbesar sepakbola dalam masalah taktik justru terjadi bukan di Inggris, melainkan di bagian tenggara dari Inggris, yang sempat menjadi sebuah kerajaan sebelum pecah pasca adanya Perang Dunia Pertama, Austria-Hungaria.

Berawal dari Jimmy Hogan

Perkembangan sepakbola bermula ketika Jimmy Hogan, pria asli Inggris dengan segala pemikirannya untuk kemajuan sepakbolanya, dianggap delusional bagi para pesepakbola di Inggris. Hogan yang menyatakan bahwa Inggris harus belajar dari negara lain untuk memajukan sepakbola, ditertawakan dan ditentang dengan kalimat balasan “buat apa belajar dari negara lain, toh sepakbola ditemukan di Inggris”.

Baca juga: Jimmy Hogan, Inovator Sepakbola yang Dianggap Pengkhianat

Hogan kemudian memutuskan untuk membungkam orang-orang yang meragukannya. Destinasi pembuktiannya pun cukup aneh, Austria dan Hungaria, yang sangat jauh dari kesuksesan di persepakbolaan. Bahkan Austria dan Hungaria masih awam dengan sepakbola, kriket baru populer di negara tersebut, itu pun peminatnya tidak banyak.

Hogan berkelana ke Austria-Hungaria melalui Belanda. Ketika pertama kali menjadi pelatih, Hogan yang sempat melatih timnas Belanda, menerima tantangan untuk menjadi pelatih Hungaria. Untuk menghindari kerancuan, Autstria-Hungaria memang bersatu dan memang menjadi satu kerajaan dan baru pecah sebelum PD I.

Namun keretakan Austria Hungaria sudah terjadi sebelum PD I. Dalam satu monarki mereka memiliki perwakilan masing-masing di semua aspek, tidak terkecuali sepakbola. Austria memiliki timnasnya sendiri, begitu juga dengan Hungaria. Meskipun satu federasi, keduanya kerap melakukan pertandingan persahabatan. Dalam urusan sepakbola, Austria saat itu berada di atas Hungaria secara kualitas.

Hogan menjejakkan kakinya pertama kali pada 1902, saat itu ia masih aktif menjadi pemain, namun merangkap jabatan ketika timnya tidak bertanding dengan menjadi pelatih, tim yang ia latih adalah MTK Budapest.

Ketika menangani MTK Budapest, ia dilirik untuk menjadi asisten pelatih dari timnas Hungaria. Di sinilah ia bertemu mahaguru sepakbola Austria, Hugo Meisl. Austria yang selalu menang telak atas Hungaria, tiba-tiba dibuat frustrasi dengan permainan Hungaria yang rapat, penguasaan bola yang sulit direbut.

Singkat cerita, Hugo Meisl berkenalan dengan Hogan saat itu. Meisl merupakan pria berdarah Yahudi yang lahir di Bohemia dan besar di Wina. Ia berjasa besar atas persepakbolaan Eropa. Dimulai dari Olimpiade 1936, Eropa dibuat terkesima dengan taktik aneh yang dijalankan Meisl. Formasi W-M yang terkenal, dimodifikasi sedemikian rupa sehingga penguasaan bola yang sulit direbut, dan high-press membuat negara-negara lain tertegun. Jerman yang merupakan tim kuat saat itu, dicukur habis dengan skor 5-1 oleh Austria.

Hogan kemudian meninggalkan Austria karena situasi politik, Meisl yang mengambil alih. Ia mengembangkan penguasaan bola dan sistem zonasi yang menjadi dasar sepakbola. Pola bermain sepakbola saat itu adalah bertahan untuk tidak kebobolan dan menyerang untuk mencetak gol, Meisl mengubahnya menjadi, menguasai bola untuk mencetak gol dan bertahan, toh ketika bola tidak direbut lawan, mereka tidak akan mencetak gol.

Total Football

Hogan kemudian ditunjuk menjadi pelatih MTK Budapest pada 1925. Penunjukannya disesalkan oleh Meisl yang sangat ingin Hogan kembali ke Austria. Di Hungaria, Hogan mengajarkan hal serupa yang ia ajarkan di Austria. Bedanya, apa yang diajarkan oleh Hogan diresapi oleh tiga orang Hungaria yang kelak akan dikenang, Gustav Zebes, Bela Guttmann, dan Marton Bukovi.

Baca juga: Warisan Terbesar Bela Guttmann untuk Sepakbola

Ketiga sosok tersebut belajar mengenai penguasaan bola, melakukan tekanan pada lawan ketika lawan menguasai bola, pemain yang terus bergerak dan gelandang serang yang menjadi pemain terdepan atau yang kita kenal saat ini dengan istilah false nine.

Zebes merupakan guru olahraga di sekolah menengah Hungaria yang kemudian ditunjuk menjadi Menteri Olahraga di Hungaria. Namun kecintaannya pada sepakbola, membuatnya rela menjadi pelatih Hungaria meski tanpa dibayar kala itu.

Sedangkan Bela Guttmann menganut faham yang ada di sepakbola Hungaria melalui Zebes dan Marton Bukovi. Bagi Guttmann, Zebes dan Bukovi adalah inspirator bagi Guttmann dalam membentuk permainan yang ia bawa ketika menjadi pelatih klub-klub Eropa dari AC Milan hingga Benfica.

Baca juga: Renaisans Rodrigo Moreno di Timnas Spanyol

Sedangkan Bukovi adalah rekan Zebes ketika menangani Hungaria yang berjuluk Mighty Magyars. Ia merupakan sosok sosialis sama dengan Zebes yang membuatnya dekat dan Zebes kerap berbagi taktik dan ilmu padanya, termasuk susunan pemain dan pengembangan pemanfaatan ruang ketika bermain sepakbola.

Ketiganya dianggap menjadi mentor dari sistem yang disebut socialist football, apa itu socialist football? Apa kaitannya politik sosialis dengan sepakbola?

Dikutip dari Inverting The Pyramid karangan Jonathan Wilson, Socialist Football adalah wujud dari ketika kesalahan ditanggung satu tim, tidak ada individu, semua merupakan sistem. Semua adalah satu kesatuan. Semua punya peran baik ketika mencetak gol atau bertahan. Ini adalah embrio dari total football yang dianut Belanda selama bertahun-tahun setelahnya.

Meisl, Zebes, Guttmann, dan Bukovi, adalah pencetak sejarah untuk kemajuan sepakbola. Keempatnya membuat kemajuan dengan membuat sistem, bukan individu. Mereka meruntuhkan budaya sepakbola klasik dengan membentuk system dan zonasi plus penguasaan bola untuk meraih kemenangan. Formasi 4-2-4 adalah terobosan yang mereka berempat ciptakan dan sebarluaskan ke penjuru Eropa.

Dan sekali lagi, ini membuktikan, mereka yang selalu belajar akan mengalahkan yang pongah. Mari berandai-andai, apabila Inggris mendengarkan apa yang diucapkan oleh Hogan, betapa luar biasanya melihat permainan cepat, tempo tinggi ala Barcelona saat ini diperagakan Harry Kane, Rashford, dan Henderson. Anda bisa membayangkannya ?

Loading...