OUR NETWORK

Wajah Familiar di Balik Kebangkitan Brescia

Brescia dikenal sebagai salah satu kesebelasan legendaris di Italia. Biasa mengisi papan tengah di divisi tertinggi Italia, Serie-A, Brescia pernah menembus semi-final Coppa Italia 2001/2002 dan tampil di final Piala Intertoto pada musim yang sama.

Ketika itu, I Biancazzurri dikenal sebagai kesebelasan yang memiliki gudang talenta. Mulai dari Eugenio Corini, Sergio Volpi, Daniele Bonera, hingga Andrea Pirlo, merupakan talenta yang diorbitkan oleh Brescia.

Corini diboyong Juventus setelah empat tahun membela Biancazzurri. Volpi besar bersama Sampdoria, enam tahun setelah meninggalkan Stadion Mario Rigamonti, sementara Bonera dan Pirlo mulai dikenal ketika mereka pergi ke Kota Milan.

Popularitas dan prestasi Brescia mulai menurun setelah Baggio pensiun. Baggio dan rambut kuncirnya seperti jimat bagi Brescia. Sebelum Baggio datang, Biancazzurri kerap kali naik-turun Serie-A. Tapi empat tahun dibela Baggio, mereka tidak pernah sekalipun kembali ke Serie-B.

Sebaliknya, nama-nama tenar lain layaknya Pep Guardiola dan Stephen Appiah ikut membela Brescia. Sayangnya, satu musim setelah Baggio pensiun, Brescia kembali turun ke Serie-B. Pierre Womme, Marco Delvecchio, dan Matias Almeyda gagal membantu Brescia menjalani masa transisi pasca Baggio.

Butuh waktu lima tahun bagi Brescia agar bisa kembali ke Serie-A. Tetapi penyakit lama kembali kambuh. Mereka gagal mempertahankan status sebagai kesebelasan dari divisi tertinggi Italia dan mengakhiri musim 2010/11 di peringkat 19 klasemen akhir.

Sudah delapan tahun berlalu sejak terakhir kali Brescia tampil di Serie-A. Mereka pun mulai terlihat kembali mengincar posisi di divisi tertinggi Italia tersebut. Menduduki posisi puncak Serie B dengan raihan 47 poin dari 26 pertandingan.

Nama Biancazzurri juga mulai sering terdengar lagi di media berkat kehadiran gelandang muda, Sandro Tonali yang disebut sebagai titisan Pirlo. Tonali menolak perbandingan itu, “Pirlo memberikan inspirasi kepada saya. Namun saya tidak pernah melihat dirinya sebagai panutan. Gatusso lebih jadi panutan saya, dia pemain yang berani,” kata Tonali.

Ibu dari Tonali, Mariarosaria Crivellari memperkuat argumen tersebut. Mengatakan bahwa anaknya selalu merasa dekat dengan Gatusso. “Dirinya selalu mengidolakan Gatusso sejak masih kecil. Ia merasa memiliki kedekatan dengan Gatusso,” kata Crivellari.

Meski demikian, perbandingan dengan Pirlo tak dapat dihindari. Uniknya, terakhir kali Brescia memiliki pemain yang digadang sebagai ‘wonderkid‘, mereka selalu dekat dengan Serie-A. Ketika Marek Hamsik mencuat dari akademi, Biancazzurri masuk ke zona play-off promosi. Begitu juga saat Bartosz Salomon dan Alessio Cragno promosi ke tim senior.

Foto: Brescia Today

Akhir dari Rezim Corioni

Kebangkitan Brescia tentu tak semata-mata dikarenakan akademinya telah memproduksi pemain sekelas Tonali. Ada andil dari pihak di pinggir lapangan dan balik layar yang juga mempengaruhi kesuksesan Biancazzurri.

Sejak era 1992, Brescia telah dikuasai satu orang: Luigi Corioni. Mantan presiden Bologna itu merupakan otak di balik transformasi Brescia dari tim yang rajin naik-turun divisi jadi kesebelasan penuh bintang. Mendatangkan mantan pelatih AS Roma, Carlo Mazzone, dan peraih bola emas 1993, Roberto Baggio, Corioni secara instan mengangkat status Brescia.

Sialnya, Corioni kerap mengubah struktur klub. Terutama setelah Baggio pensiun. Musim 2004/2005 menjadi contoh terburuk dari kebiasaan Corioni ini. Ia mendepak Gianni De Biassi meski mengawali Serie-A dengan baik. Kepala pelatih yang ia tunjuk untuk jadi pengganti Biassi, Alberto Cavasin gagal menjalankan amanat yang diberikan dan Brescia terdegradasi ke Serie-B.

Rasa gerah terhadap Corioni sudah dimulai sejak saat itu. Namun, keberhasilan Brescia kembali ke Serie-A pada 2010 membuat Corioni mendapat masa perpanjangan di ruang direksi. Brescia tentu gagal mempertahankan status mereka di Serie-A dan degradasi jadi berkah tersembunyi bagi suporter Biancazzurri.

Corioni mengakui bahwa degradasi dan kegagalan Brescia untuk kembali ke Serie-A beri dampak negatif kekuangaannya. Ia perlahan mengurangi campur tangannya pada klub, dan fokus untuk sembuh dari sakit. Maret 2016, Corioni akhirnya meninggal dunia di usia 78 tahun.

Era baru Brescia akhirnya dimulai. Pada 2017, Biancazzurri diakuisisi oleh sosok penuh kontroversi, Massimo Cellino.

Foto: Ita Sport Press

Penyakit Lama Cellino

Cellino merupakan sosok yang populer di dunia sepakbola. Banyak orang mendengar nama dia, namun dengan alasan yang salah. Cellino sebelumnya pernah menguasai Cagliari dan Leeds United. Pengalamannya bersama dua kesebelasan ini membuat citra negatif hinggap di pundak Cellino.

Ia dikenal sebagai sosok yang sering mengotak-atik klub dan tak punya konsistensi. Tidak beda jauh dengan Corioni.

Hal serupa kembali terjadi di Brescia. Kurang dalam dua tahun menjadi pemilik Brescia, ia sudah sembilan kali mengubah nakhoda tim. Roberto Boscaglia, pelatih yang pernah gagal memberikan prestasi untuk Biancazzurri di 2015/2016 ditunjuk kembali oleh Cellino.

Baru delapan pekan Serie-B berjalan, Boscaglia ditendang dan digantikan dengan Pasquale Marino. Hidup Marino di Brescia juga hanya sampai pekan ke-21. Setelah itu Boscaglia lagi ditunjuk Cellino. Tapi itupun tidak sampai akhir musim, ia diberi 16 pertandingan, dua kali lipat dari periode pertama, sebelum diganti dengan Ivo Pulga.

Ivo Pulga menjadi nakhoda terakhir Brescia pada musim 2017/2018. Mengantar Brescia ke posisi ke-16 klasemen akhir Serie-B. Pada 2018/2019, Ivo diganti dengan legenda Cagliari, David Suazo. Ivo sendiri dipindahkan menjadi pemandu bakat Brescia.

Mantan penyerang Honduras yang kenal dengan Cellino dari masanya jadi pemain andalan Cagliari juga tak bertahan lama di Brescia, tiga pekan. Ia diganti dengan Eugenio Corini.

Foto: Serie B News

Duet Cellino dan Corini

Bongkar-pasang pelatih yang dilakukan Cellino bukanlah tanpa alasan. Sejak menguasai Brescia, ia punya target khusus untuk Biancazzurri. “Kami ingin menjadi seperti Atalanta. Mereka adalah model utama Brescia. Tapi saya punya target khusus, kita tidak bisa terus membangun selamanya. Brescia akan ada di Serie-A pada 2020 dan saya tak akan buang-buang untuk hal itu,” kata Cellino.

Atalanta merupakan kuda hitam di Serie-A dalam beberapa musim terakhir dan mereka mengandalkan pemain-pemain jebolan akademi untuk melakukan hal itu. Cellino memiliki keinginan agar Brescia seperti mereka. Oleh karena itulah dirinya menunjuk pelatih seperti Ivo, Suazo, dan Corini, yang punya kedekatan dengan pemain muda.

Saat pertama Corini masuk, Brescia duduk di peringkat 14 klasemen. Tapi kini mereka jadi pemuncak klasemen. Cellino pun melempar pujian kepada mantan gelandang Brescia itu.

“Corini datang dengan penuh persiapan. Dirinya memiliki peran krusial dalam tim kami. Ia tahu bahwa Serie-B akan lebih sulit dari Serie-A dan mengatur segalanya hingga Brescia di posisi seperti saat ini,” aku Cellino.

Corini sendiri tidak menolak pujian Cellino. Tapi ia juga merasa bahwa persiapannya telah dibantu oleh Suazo yang menangani Biancazzurri sebelum dirinya. “Apa yang Suazo miliki merupakan tim bagus. Saya hanya mengubah mentalitas mereka. Kami ada di posisi yang nyaman dan harus bisa melewati garis akhir,” katanya.

Foto: Twitter / UEFA Euro 2020

Menatap Serie-A

“Saya telah kembali, sampai bertemu lagi di Serie-A!”. Itu adalah ucapan pertama Corini ketika ditunjuk sebagai nakhoda Brescia. Dirinya memiliki ambisi dan impian yang sama dengan Cellino. Tak heran mengapa keduanya akur.

Saat datang ke Brescia, ia berjanji dirinya akan mengakhiri masa medioker Biancazzuri. “Saya mengharapkan pemain mulai memperlihatkan rasa hormat dan keinginan mereka bersama tim ini. Masa-masa medioker Brescia akan berakhir di sini, sana janji,” ungkap Cellino.

Corini yang dipercaya jadi juru taktik bisa menjalankan ambisi itu dan kini mereka mulai menatap Serie-A. Musim 2018/2019 belum berakhir tapi Cellino dan Corini sudah berusaha untuk mempertahankan pemain-pemain terbaik mereka.

“Corini akan otomatis mendapatkan perpanjangan kontrak jika kami promosi. Saya selalu tahu dia memiliki karakter yang bagus. Sekarang saya harus memastikan Tonali bertahan, karena Corini adalah sosok yang tepat untuk perkembangan permainannya,” kata Cellino.

“Banyak tekanan yang diarahkan ke diri saya. Tapi Brescia merupakan kesebelasan dengan penuh sejarah. Dia bisa berbuat banyak di sini, saya harus melindunginya,” lanjutnya.

Perkataan serupa juga diucapkan Cellino tentang Alfredo Donnarumma. Mencetak 22 gol dari 26 pekan Serie-B, Super Donnarumma lebih produktif ketimbang Cristiano Ronaldo, Robert Lewandowski, dan Mo Salah, pada 2018/2019. Ia pun siap dipertahankan oleh Cellino dan akan menjadi duet Mario Balotelli di Serie-A.

Balotelli sebelumnya mengaku ingin pensiun di Brescia. Meski tidak dalam waktu dekat, ia punya ambisi membela Biancazzurri pada akhir kariernya. Cellino pun siap menjadikan hal itu sebuah kenyataan.

“Pintu akan selalu terbuka untuk Mario. Kami akan menyesuaikan keuangan klub agar bisa mendatangkan dirinya. Saya rasa dengan kehadiran Balotelli, Brescia akan kembali menjadi kesebelasan yang ditakuti seperti dulu,” kata Cellino.

Serie-B 2018/2019 mungkin baru berjalan hingga pekan ke-26, masih ada 16 pertandingan lagi musim ini. Tapi melihat kondisi Brescia saat ini, ambisi Cellino sepertinya bukan hanya khayalan belaka.