Chelsea dan Liverpool, Tentang Budaya Impor dan Promosi Pemain Muda (2)

Manchester United dan Manchester City memiliki budaya yang berbeda dalam sejarah kedua kesebelasan berdiri. Hal yang sama juga terjadi pada Chelsea dan Liverpool. Ada hal berbeda yang begitu fundamental di antara keduanya.

Baca juga: Budaya Manchester United dan Manchester City yang Berbeda (1)

Chelsea

The Blues bukan siapa-siapa tanpa seorang Roman Abramovich. Klub ini hanya sejajar dengan Tottenham Hotspur sebelum taipan asal Rusia tersebut membeli klub ini. Walau begitu ada yang unik dan berbeda dari Chelsea dengan Manchester City.

Mereka memang royal soal uang, tapi budaya yang kental dengan The Blues saat ini adalah fenomena orang Italia dalam Chelsea. Sejak 1996 Chelsea membeli pemain berkewarganegaraan Italia, di mulai dari Gianfranco Zola, Roberto Di Matteo, dan Gianluca Vialli, direkrut oleh pelatih mereka saat itu yaitu Ruud Gullit pemain yang lama menghabiskan kariernya di Serie A.

Ruud Gullit sebelumnya adalah pemain Chelsea yang diboyong oleh Glenn Hoddle dari Sampdoria. Ia diplot sebagai playmaker di musim pertamanya. Ia pernah membawa Chelsea melaju hingga babak semifinal FA Cup dan mengisi posisi kedua sebagai Footballer of the Year EPL. Pada musim berikutnya Ruud Gullit ditunjuk sebagai pelatih sekaligus pemain. Walau menjadi pelatih ia tetap aktif bermain untuk tim yg bermakras di Stamford Bridge tersebut.

Dalam debutnya sebagai pelatih, Gullit memboyong tiga pemain dari Serie A seperti Gianfranco Zola, Roberto Di Matteo dan Gianluca Vialli. Uniknya ketiga pemain ini punya pengaruh besar untuk Chelsea. Yim asal London ini keluar sebagai juara FA Cup pada 1997 bersama Gullit yang merupakan trofi bergengsi pertama sejak 26 tahun.

Pada 1998 Vialli menjadi pelatih Italia pertama yang menukangi Chelsea. Sejak saat itulah Chelsea semakin akrab dengan Italia. Bukan hanya pemain melainkan pelatih juga impor dari Italia, sejauh ini menurut transfermarkt sudah ada delapan orang Italia yang pernah menjadi asisten pelatih Chelsea dan lima manajer yang menukangi The Blues.

Sejak Vialli menukangi Chelsea hingga kini The Blues sering memilih pelatih asal Italia dimulai dari Ranieri, Ancelotti, Di Matteo, Conte hingga Sarri. Vialli adalah pelatih Chelsea pertama di era EPL yang memberikan gelar cukup banyak untuk Chelsea. Ia cukup sukses di Chelsea dengan memberikan lima gelar selama menukangi klub tersebut.

Roberto Di matteo menjadi pelatih pertama yang mampu membawa Chelsea menjuarai Liga Champions tak sampai di situ Chelsea memensiunkan nomer punggung 25 untuk menghormati legenda mereka yang berasal dari Italia juga yaitu Gianfranco Zola yang terkenal dengan gerakan magic-nya saat membela Chelsea dan disegani banyak pelatih dan pemain.

Garry Hayes dari Bleacher Report mengungkapkan, “Ya itu semua sebenarnya dimulai di era modern dengan non-Italia di Ruud Gullit.  Chelsea membawanya dari Sampdoria pada tahun 1995 dan menyadari nilai yang bisa mereka dapatkan dari Serie A. Ketika Gullit kemudian menjadi manajer setahun kemudian, ia beralih ke pasar yang dikenalnya dengan baik, setelah bermain di sana begitu lama. Vialli, Di Matteo dan Zola semuanya adalah pemain Gullit. Dan pemain lain dari Serie A akan segera menyusul, seperti Desailly pada 1998.

“Jadi ada pengaruh besar dari pemain Italia – kita tidak boleh melupakan lima manajer Italia di Vialli, Ranieri, Ancelotti, Di Matteo dan Conte, baik – tetapi ini juga bertepatan dengan Serie A dan sepak bola Italia pada umumnya. Lalu menggunakan kaus biru yang terkenal itu!” ujarnya dikutip dari Read Chelsea.

Tentu Chelsea dan italia adalah sebuah kultur yang mereka jaga karena selain mereka berjasa mengangkat kejayaan klub pada awalnya di EPL, nama Conte dan Ancelotti menjadi nama terakhir yang berhasil menyumbangkan Chelsea gelar juara EPL selain Jose Mourinho.

Gelandang ikonis Belanda Ruud Guulit lah awal mula kelahiran Chelsea dengan pemain- pemain Italianya yang sukses membuat The Blues menjadi tim bergelar. Italia akan terus memainkan peran penting dalam masa depan klub. Wajar jika Chelsea adalah ITALIAN CONNECTION di Inggris.

Liverpool

Tim yang penuh dengan sejarah dimulai dari kedigdayaan pada 70an  hingga 90an. Mulai dari pemain John Aldridge, Kenny Dalglish, Ian Rush hingga Alan Hansen adalah legenda Liverpool  namun mereka adalah orang-orang Brittish atau negara yang berasal dari persemakmuran Inggris. Liverpool sukses besar era Bill Shankly dan Bob Paisley salah satu manajer tersukses di Inggris raya. Keduanya berasal dari Inggris dan menyumbangkan banyak gelar juara untuk Liverpool.

Liverpool sejak lama menjaga tradisi dengan mempromosikan pemain-pemain muda dan memadukannya dengan pemain-pemain dari britania raya. Contoh kesuksesan Liverpool adalah memadukan duet John Toshack (Wales) dengan Kevin Keegan (Inggris) lalu berlanjut Kenny Dalglish (Skotlandia) dan Ian Rush(Wales), Heskey (Inggris) dan Owen (Inggris) hingga Suarez (Uruguay – Sturridge (Inggris). Steven Gerrard- Xabi dan Torres juga menjadi sorotan ketika era Benitez menukangi Liverpool.

Tradisi Liverpool adalah budaya yang dikembangkan oleh orang-orang britania raya dan Inggris. Tak pelak Brendan Rodgers, Roy Hodgson ditunjuk melatih Liverpool sejak dinasti Benitez runtuh guna mengembalikan mereka kembali ke jalannya.

Liverpool adalah tim dengan filosofi petarung tim yang bermentalkan juara pejuang dengan determinasi tinggi semangat itu yang ditanamkan kepada para pemainnya. Hal ini yang membuat Rafael Benitez sukses di Liverpool. Menurut Steve Heighwey eks akademi direktur Livepool ketika era Benitez filosofi Bill Shankly tetap berjalan. Yaitu dengan menanamkan spirit kemenangan dan juga mentalitas karakter pemenang sejak dini kepada para pemain.

“Anda tidak akan mengubah karakter secara drastis. Anda membangun karakter bawaan dari para pemain muda tersebut, menekankan semua hal yang penting untuk menjadi pemain yang baik, dan juga manusia yang baik. Ada dua cara untuk melakukannya. Salah satunya adalah menjadi psikolog olahraga tanpa menyadari bahwa Anda adalah satu, seperti Shankly. Shanks tidak akan pernah mengkritik Anda di depan umum. Dia cukup tangguh, tetapi dia memastikan Anda memiliki kepercayaan diri dan kepercayaan pada tim. Ada banyak hal yang dikatakan Shanks kepada kita bahwa kita semua dapat mendengar dalam tidur kita bahkan sekarang. Kata-kata seperti: ‘Jika Anda tidak bekerja keras dalam pelatihan, Anda hanya membodohi diri sendiri” Ujarnya dikutip dari Telegraph.

“Cara kedua adalah merencanakan intervensi sains olahraga Anda. Setiap dua atau empat minggu, buat janji dengan pemain muda. Bicaralah tentang kepercayaan diri, menetapkan standar, tidak berdebat dengan wasit. Ketika mereka berusia 17 atau 18 tahun, bicarakan tentang gaya hidup yang tepat, teman-teman yang tepat, mengatasi kekecewaan dengan cepat, membiasakan diri dengan benar. ”

Ketika era Benitez pemain seperti Djimi Trarore, Damien Pacheco hingga Neill Mellor sempat mencuat dan hingga saat ini Liverpool masih menanamkan sebuah determinasi dan pentingnya sebuah kedisiplinan. Andy Robertson, James Milner Alexander Arnold adalah cerminan dari budaya yang dimiliki Liverpool. Mereka cerminan tim besar dan tidak akan pernah mengecil karena belakangan minim prestasi.

Hingga saat ini Liverpool masih menerapkan  bahwa pentingnya sebuah komitmen, keinginan untuk bekerja, kemampuan untuk mengatasi tidak bermain dalam tim, mengatasi dengan performa buruk, dan mengatasi ketenaran serta etos kerja dalam tim. Ini yang membuat Rodgers dan Klopp hampir membawa Liverpool kembali Berjaya. s

Pentingnya kita berbudaya sama dengan halnya seperti pentingnya sebuah klub memiliki budaya, budaya menentukan karakter tim itu sendiri bahkan bias menentukan brand dari klub itu sendiri bahkan budaya dari sebuah klub tak jarang menentukan kesuksesan sebuah klub itu sendiri.